Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Berbalas Pesan


__ADS_3

"Jaga jarak, Van. Bagaimanapun dia laki-laki. Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengannya!" Faisal menunjukkan protesnya. Sebagai seorang suami, tentunya Faisal tidak ingin sampai ada orang ketiga dalam rumah tangganya.


"Maksud kamu apa sih, Mas? Pak Ren itu cuma nganterin aku. Lagian, kalau pulang lebih dulu harusnya jemput aku dong! Inisiatif dikit napa!" Vani menjawab ketus. Tadinya Vani sudah gugup duluan saat memikirkan alasannya. Tapi, mengetahui Faisal yang malah enak-enakan nongkrong bareng ibu-ibu komplek, Vani jadi merasa jika laki-laki itu tidak pernah memikirkan perasaanya sama sekali.


"Tadinya aku emang mau jemput kamu, Van. Tapi, tadi tiba-tiba Ibu minta anterin aku buat beli bakso," jawab Faisal dengan entengnya.


"Jadi, lebih penting bakso ketimbang aku?" Vani benar-benar tak habis pikir. Apa sih susahnya menolak, lagian ada Luna. Ibu bisa saja 'kan menyuruh gadis itu untuk membelinya, bukan apa-apa menyuruh Faisal.


"Kamu bisa nggak sih Mas kasih pengertian ke Ibu sekali-kali?!" tanya Vani pada laki-laki yang berstatus suaminya itu. Vani merasa Faisal selalu menuruti apa ibunya perintahkan. Hingga seringkali tidak sadar telah menyakiti perasaan istrinya sendiri.


"Kasih pengertian gimana maksud kamu, Van? Ibu udah tua, aku nggak mungkin nolak apapun permintaannya. Kamu ngerti, kan?"


"Jadi, kalau Ibu nyuruh kamu cerai sama aku, kamu mau nurutin juga?!" Pertanyaan Vani sontak membuat Faisal langsung menghentikan langkahnya.


"Ya, enggak lah. Lagian kamu apa-apaan sih ngomong gitu tiba-tiba."


"Lagian selalu aja Ibu, Luna. Sebenarnya aku istri kamu bukan sih, Mas? Kamu beneran cinta sama aku nggak sih? Kenapa aku selalu di nomer sekiankan?!"


"Sabar, Van, namanya juga orang tua. Nanti kamu juga bakal ngalamin sendiri."


"Ck!"


Vani melengos. Kalau tidak ingat nasehat ibu tentang kewajiban menghormati suami mungkin Vani sudah memakinya habis-habisan. Entah cinta atau bodoh, keduanya sama-sama tidak Vani pahami.


"Terserah kamu aja lah, Mas. Aku capek, mau pulang aja!" Vani melangkah cepat di depan Faisal, di susul laki-laki itu yang berusaha menyeimbangkan langkahnya.


"Van, tunggu, Van. Jangan marah dong!"


Sampai malam hari pun Vani tetap diam. Malas saja untuk membuka obrolan lebih dulu. Lagipula Faisal sendiri sudah sibuk sejak tadi saat Vani selesai mandi. Laki-laki itu sudah berkutat di depan laptop lagi, entah apa yang Faisal kerjakan.


"Mas, kamu nggak istirahat? Ini udah malam lho?" Vani berdecak heran kenapa tadi pulang sore, sedangkan di rumah malah sibuk lagi. Kalau memang banyak kerjaan kenapa tidak lembur saja.


"Bentar lagi, Van. Kamu tidur aja dulu." Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar pipih itu. Jemarinya juga sibuk menari lincah di atas papan ketik.


"Kamu lagi ngerjain apa sih, Mas?" Karena penasaran Vani bangkit dan berniat melihat apa yang tengah di kerjakan suaminya, tapi Faisal justru buru-buru menjauhkannya dari Vani.


"Udah, Van. Kamu nggak bakalan ngerti!"

__ADS_1


"Coba lihat, sih?!"


"Ini penting, Van. Jangan ganggu!"


Vani hanya bisa menghela napas panjang. Terserah kamu aja lah, Mas, bisiknya kemudian. Vani merebahkan tubuhnya, tapi ...


ting!


Sebuah notif pesan masuk ke dalam ponsel miliknya. Vani mengernyit heran, menduga-duga siapa yang mengirimkan chat malam-malam begini.


Setelah di buka dan Vani membalasnya beberapa kali ternyata orang yang mengirimkan pesan adalah laki-laki itu. Renan ...


[Apa suami kamu marah, Van?] tanya Renan dari seberang sana.


[Nggak kok, Pak. Lagian aku udah jelasin kalau tadi Pak Ren yang nganterin saya.]


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Vani dan Faisal sempat berdebat di depan komplek. Tapi Vani tidak mungkin mengatakan itu semua pada majikannya sendiri.


[Syukurlah. Tadinya saya mau jelasin ke suami kamu kalau seandainya tadi memang ada salah paham. Tapi, saya lega kalau memang semua baik-baik aja.]


Vani senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Renan. Kenapa Vani merasa orang lain lebih perhatian ketimbang suaminya sendiri?


Terkirim.


[Oh ....]


[Kamu belum tidur, Van?]


Dua pesan dari Renan.


[Belum ngantuk, Pak.]


[Pak Ren sendiri kenapa belum tidur?]


Vani melirik kearah Faisal yang masih asik dengan dunianya sendiri.


[Belum, Van. Saya nggak bisa tidur.]

__ADS_1


[Kenapa?]


[Nggak apa-apa.] Emoticon senyum.


[Ya udah met malem, Pak. Saya tidur duluan ya?]


Vani menghapus semua pesan dari Renan. Takut jika nanti Faisal sampai membacanya. Bisa-bisa salah paham dan berujung ribut lagi.


Biarin lah, toh itu cuma sebatas chat. Vani juga yakin Renan menghubunginya karena mengira ia bertengkar tadi. Tidak mungkin sampai majikannya punya perasaan, apalagi menyukainya. Tidak mungkin!


Meletakkan kembali ponsel ke atas meja, Vani merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Melirik sekali lagi kearah Faisal, laki-laki itu terlihat belum merubah sama sekali posisinya.


Vani tidak peduli. Ia memejamkan mata bersiap untuk tidur. Vani berharap malam cepat berlalu. Ia ingin segera pagi dan melakukan aktifitas seperti biasanya.


Sementara di samping Vani, lelaki itu masih sibuk menatap layar pipih di depannya. Bukan urusan kantor lagi yang Faisal kerjakan, karena sebenarnya sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Tapi, Faisal tengah berbalas chat dengan seorang wanita yang beberapa minggu yang lalu pernah di antar pulang oleh dirinya.


[Apa istrimu udah tidur?] tanya wanita dari seberang sana.


[Tenang, Vani udah tidur baru aja. Aman!] bala Faisal.


[Oh ... syukurlah.] Terlihat wanita itu tengah mengetik lagi.


[Besok makan siang bareng lagi ya?]


Faisal nampak terdiam sesaat. Laki-laki itu melirik Vani yang sudah terlelap dengan wajah damai.


[Iya. Tenang aja.]


[Istrimu gimana?] Wanita bernama Maya membalasnya lagi.


[Maksudnya?] balas Faisal tak mengerti.


[Kalau sampai ketahuan istrimu?]


[Ya jangan sampai ketahuan lah.]


[Oh, ya udah.]

__ADS_1


Obrolan lewat pesan itu selesai. Faisal menutup laptop, tapi sebelumnya menghapus lebih dulu percakapannya dengan Maya.


Faisal merebahkan diri, menyusul Vani yang sudah lebih dulu terbang ke alam mimpi.


__ADS_2