Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Kedatangan Bu Aida


__ADS_3

[Bapak tegaskan sekali lagi, kalau kamu masih ingin bapak akui sebagai anak, jangan pernah berpikir untuk menikahi wanita itu!] jelas Pak Heri di sambungan telepon. Bahkan sejak pertengkaran mereka di rumah, Renan terus membujuk serta memberikan pengertian pada pria itu, tapi tetap Pak Heri tidak mau ambil resiko dengan memberikan restu pada anaknya.


[ Wanita itu tak seburuk seperti yang Bapak pikirkan. Percayalah, dia orang baik. Renan juga sangat mencintainya,] ungkap Renan masih pada pendiriannya.


[Kalau dia memang wanita baik-baik, tidak mungkin suaminya menceraikan tanpa sebab.]


Renan hanya bisa bungkam. Ia tak mungkin membeberkan seperti apa cerita yang sebenarnya.


Tentang Vani yang harus banting tulang sendiri, mungkin masih biasa. Tapi, jika harus mengatakan suami dari Vani adalah lelaki imp0ten, rasanya sungguh sangat memalukan.


[Pokoknya bapak nggak akan kasih restu kalau kamu sampai menikah dengannya!] ucap sang bapak sebelum mematikan sambungan telepon.


Sudah hampir sebulan lamanya Renan terus mencari keberadaan Vani, menanyakan pada siapa saja yang mengenalnya. Tapi, semua nihil, Keluarga Faisal seolah sengaja menyembunyikan di mana keberadaan wanita itu.


Renan sampai frustasi sendiri. Pekerjaannya pun terbengkalai karena Renan justru meratapi nasibnya setelah di tinggal oleh sang kekasih hati.


Di mana kamu, Van? Setidaknya hubungi aku sekali saja ...


Bahkan nomor ponsel milik wanita itu masih Renan simpan meski sudah lama tidak bisa di hubungi.


.


.


.


Nisa mengantar lagi tamu yang menanyakan alamat rumah Vani sampai di depan pintu. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk pulang, dan menemani sang tamu yang terlihat tengah meneliti setiap sudut rumah milik Vani.


"Sebenarnya mereka siapa sih? Kenapa mencurigakan kayak gini?"


Wanita yang memperkenalkan diri bernama Aida tadi ternyata datang bersama dengan suaminya yang saat itu masih berada di dalam mobil.


Nisa lantas mempersilahkan masuk dan menanyakan apa maksud kedatangan mereka yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kami hanya kenalannya Mba Vani. Apa kami bisa ketemu sama dia?" Wanita itu terlihat ramah sekali. Begitupun pria di sebelahnya yang tampak tenang menyimak obrolan mereka berdua.


"Tapi Vani lagi kurang enak badan, Bu. Apa ndak bisa lain kali aja datang ke sini lagi?" tolak Nisa. Gadis itu merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu Vani. Suasana hati wanita itu tengah kacau balau oleh surat yang di kirim dari mantan suaminya.


"Mba Vani sakit? Sejak kapan? Kami boleh 'kan menjenguknya?" Bu Aida terlihat ngotot. Nisa pun terpaksa membalasnya dengan tatapan tak suka.


"Vani sedang sakit, Bu. Bisakah lain kali aja?!" ucapnya lagi.


Sepertinya obrolan itu sampai terdengar ke dalam kamar Vani. Wanita yang hampir seharian ini mengurung diri di kamar langsung keluar ketika mendengar obrolan di ruang tamu.


"Ibu ... ?" ucap Vani pelan. Wanita itu nampak membenahi kerudung instan yang ia kenakan.


"Lho, Mba Vani katanya lagi sakit yah? Maaf, ibu udah ganggu." Bu Aida langsung bangkit dan memeluk tubuh Vani.


"Aku nggak apa-apa, Nis. Bu Aida ini kenalan aku waktu di kota." Vani memberikan pengertian pada gadis di depan sana.


"Eh, maaf ya Bu. Saya ndak tahu. Saya pikir dari tadi Ibu siapa, soalnya maksa banget pengen ketemu Vani, hehe ... maaf ya Bu?" Gadis itu tersenyum canggung. Wanita di depan sana pun memakluminya.


Nisa pamit pulang setelah memastikan tamu tadi adalah orang baik. Tinggallah Vani dan dua orang paruh baya di dalam rumahnya.


"Saya baik-baik aja, Bu. Mungkin cuma kecapekan dikit, nanti juga sembuh." Vani memaksakan senyum. Karena sebenarnya hatinya lah yang sakit bukan fisiknya.


"Beneran baik-baik aja? Tapi Mba Vani kelihatan pucat lho."


Obrolan itu berlangsung lama sampai akhirnya Vani menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya pada Bu Aida. Mengenai statusnya yang saat ini telah menjadi janda.


"Mba Vani yang sabar ya? Mungkin ini emang jalan terbaik buat pernikahan Mba. Ibu yakin Mba kuat."


Bu Aida sungguh miris melihat keadaan wanita itu. Hidup sendiri tanpa Keluarga dan sekarang di buang begitu saja oleh suaminya.


Bu Aida melirik kearah sang suami yang sejak tadi diam tanpa sepatah katapun. Pria itu nampak menggeleng samar, meminta pada istrinya agar tidak berbicara apapun yang nantinya akan membuat Vani tersinggung.


"Begini saja, gimana kalau Mba Vani ikut ibu ke kota? Nanti Mba bisa kerja di tempat kami."

__ADS_1


Vani terdiam cukup lama. begitupun dengan dua orang tadi yang menunggu jawaban dari wanita itu.


"Makasih, Bu. Saya di sini aja. Nanti rumah saya siapa yang mau menempati kalau saya ke kota lagi? Lagipula saya udah kerja kok, biarpun hanya jadi tukang cuci gosok dari pintu ke pintu," tolak Vani dengan alasan yang masuk akal.


Bu Aida tidak bisa memaksa. Tujuannya mencari alamat Vani memang hanya untuk berkunjung, bukan ada maksud apapun. Ya walaupun tujuan itu malah berubah saat mengetahui keadaan Vani saat ini.


"Ibu nginep di sini, kan?" Vani membuyarkan lamunan Bu Aida. Wanita itu melirik kearah sang suami lagi seperti meminta persetujuan darinya.


"Emang tidak ngrepotin kalau ibu nginep di sini?" tanya Bu Aida merasa tidak enak sendiri.


"Iya. Kami takut merepotkan Mba Vani lho. Atau gini aja, di sekitar sini apa ada penginapan? Biar kami nginep di sana aja."


Vani menggeleng seraya tersenyum kearah dua orang paruh baya itu.


"Tidak ada, Pak. Penginapan di sini cukup jauh. Saya sama sekali tidak merasa di repotkan, malah senang kalau ada yang menemani."


Berhubung penginapan jauh, dan supir juga perlu istirahat setelah menempuh hampir semalam di perjalanan, Bu Aida akhirnya menerima tawaran Vani untuk menginap di rumahnya.


Senja berlalu mengantar sang malam. Vani sudah membereskan kamar bekas mendiang sang ibu untuk ditempati kedua tamunya. Sedangkan sang supir nantinya akan menempati satu kamar di sisi belakang.


Malam ini Vani masak lumayan banyak, di bantu Nisa yang sudah sejak sore tadi datang dan ikut menyiapkan makan malam untuk tamu Vani yang datang dari kota. Dua wanita itu nampak asik, ada yang menyiapkan bumbu, ada pula yang tengah mengaduk sayur di atas perapian.


Bu Aida tersenyum melihat keakraban mereka. Wajah Vani pun terlihat sudah lebih baik di banding tadi siang saat pertama kali ia datang.


"Udah, Van. Kamu nggak perlu mikirin laki-laki itu. Yang lebih tampan dan baik juga banyak kok," ucap Nisa sembari tangannya masih sibuk mengupas bawang.


Vani hanya tersenyum membalasnya. Bagaimana pun, Vani tak mungkin melupakan Faisal begitu saja. Karena laki-laki itu adalah cinta pertamanya.


"Lagian laki-laki kayak dia buat apa, Van? Udah nggak bisa cukupin kebutuhan kamu secara lahir dan batin, eh ... malah seenaknya nuduh kamu selingkuh sama laki-laki lain," ungkap Nisa lagi.


Bu Aida yang berdiri di balik pintu seketika kaget mendengar ungkapan gadis itu. "Tidak bisa mencukupi kebutuhan lahir dan batin? Maksudnya?"


"Udah, Nis, nggak usah di bahas lagi. Aku cerita itu ke kamu nggak ada maksud buat buka aib suami aku. Tapi, aku cuma nggak tahu harus cerita ke siapa lagi."

__ADS_1


"Intinya kamu nggak usah sedih lagi. Ngapain laki-laki nggak bertanggungjawab kayak dia kamu tangisin. Dan mertua kamu yang jahat itu, yang katanya nuduh kamu mandul, kan? Padahal anaknya sendiri yang imp0ten."


Dari balik pintu kayu tadi Bu Aida langsung melotot mendengar cerita Nisa mengenai mantan suami Vani.


__ADS_2