Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Apalah Aku Wanita Kampung.


__ADS_3

"Menikahlah dengan Mika, Ren. Dia wanita baik, keluarganya pun sudah kita kenal," ucap Pak Heri. Sudah dua minggu waktu yang di berikan pada Renan, nyatanya laki-laki itu tidak bisa membawa wanita seperti yang anaknya ceritakan.


"Dari mana Bapak tahu kalau Mika wanita baik? Dia tidak seperti yang Bapak kira."


"Kalau Bapak ndak kenal dia, mana mungkin Bapak bisa ngomong kaya gini."


"Tapi Renan tidak mencintai Mika, Pak. Tolong ... jangan paksa Renan," balasnya lirih.


Pria yang duduk di depan sana menghela napas panjang. "Sampai kapan? Apa kamu mau terus-terusan kaya gini? Mikirin sesuatu yang ndak pasti? Lihat, bahkan sekarang aja kamu ndak tahu 'kan wanita itu di mana?" ucap Pak Heri lagi


"Renan masih berusaha mencarinya, Pak. Dan Renan yakin kalau suatu saat pasti akan ketemu sama dia lagi." Renan masih ngotot. Baginya hanya Vani satu-satu wanita yang ia cintai.


Huhhh ...


Bu Aida menyimak dengan was-was takut pertengkaran seperti kemarin terjadi lagi.


"Bisakah Bapak kasih waktu buat Renan sedikit lagi?"


"Berapa lama? Seminggu, sebulan, atau setahun? Bapak cuma nggak mau kamu terus-terusan kaya gini, Ren?! Hidupmu masih panjang. Ndak seharusnya kamu mikirin orang yang bahkan sama sekali tak peduli sama kamu!"


Semua hening. Hanya suara denting jam yang terdengar di ruangan itu.


Renan tidak mungkin menikahi Mika. Ia sama sekali tidak menyukai gadis itu. Bagaimana mungkin ia akan menjalani hari-harinya dengan orang yang sama sekali tidak ia cinta?


"Andai Mba Vani menerima permintaanku kemarin," bisik wanita paruh baya di sebelah sana.


Kedatangannya ke tempat Vani lagi dengan maksud meminta wanita itu menjadi menantunya, tapi justru Vani menolak secara halus. Wanita itu mengatakan belum berpikir untuk menikah lagi. Dan akhirnya dua orang tua itu menjatuhkan pilihannya pada Mika. Wanita yang sejak dulu juga memiliki perasaan dengan Renan.


Apa salahnya kalau mereka menikah.


Mika sangat senang menerima tawaran dari Pak Heri. Memang Renan lah sejak dulu yang Mika inginkan. Hanya saja, apa laki-laki itu mau menerimanya?


[Tante, bagaimana kabar Renan? Apa dia udah mau menerima perjodohan ini?]


Mika menghubungi Bu Aida lagi. Wanita itu tak henti-hentinya menanyakan bagaimana mengenai perjodohan yang mereka rencanakan, seolah Mika sudah tak sabar lagi ingin segera menikah dengan lelaki itu.

__ADS_1


[Kami masih berusaha bujuk Renan, Mika. Kamu sabar dulu aja ya?] jawab Bu Aida apa adanya.


Padahal Mika sudah menghubungi kedua orangtuanya yang saat ini masih tinggal di luar negeri, khawatir jika nanti tak sempat untuk pulang saat dirinya menikah. Tapi kalau Renan sendiri belum setuju, bagaimana pernikahan itu akan terjadi?


[Apa nggak bisa secepatnya, Tante? Soalnya kedua orang tua aku juga udah mendesak Mika untuk menikah,] ucap Mika beralasan.


[Kami akan usahakan secepatnya, Mika. Kamu ngerti 'kan kalau Renan itu sangat keras kepala?]


Wanita di seberang sana mendesah berat.


[Tapi sampai kapan Tante?] Mika terdengar frustasi. Apasih kurangnya aku hingga Renan terus menolak?


[Kamu sabar ya?]


Mika menutup sambungan telepon dengan sangat kesal. Jika dengan cara halus tidak bisa, maka jalan satu-satunya ia akan bertindak dengan caranya sendiri.


"Aku udah nyingkirin wanita itu, tapi Renan tetap aja nggak bisa nerima aku. Jangan salahkan aku kalau aku maksa kamu, Ren!" ucap Mika dengan kedua tangan yang mengepal.


.


.


.


Tidak! Ia tidak ingin menjadi janda untuk yang kedua kalinya.


"Van ..."


Nisa menyandarkan lamunan Vani. Gadis itu paling tahu apa yang tengah di rasakan Vani setelah wanita itu bercerita padanya.


"Kamu masih mikirin ucapan Bu Aida kemarin?"


Vani masih bungkam, lantas mengangkat wajahnya menatap kearah Nisa.


"Aku nggak mungkin nerima tawaran Bu Aida, Nis. Apalah aku yang wanita kampung. Laki-laki itu nggak mungkin tertarik sama aku," ucap Vani lirih.

__ADS_1


"Kenapa nggak mungkin? Kamu belum coba ketemu sama anak Bu Aida, kan?"


"Tapi ... Kalau laki-laki itu nolak aku gimana, Nis? Aku nggak mau sampai gagal untuk yang kedua kali."


Perceraiannya dengan Faisal menyisakan trauma bagi Vani. Bagaimana ia harus hidup sendiri setelah di buang oleh suaminya.


"Kamu cantik, Van. Kamu juga nggak mandul seperti yang mereka kira. Apanya yang salah? Kamu juga berhak bahagia."


"Tapi ... Nis?"


"Kamu belum mencobanya, Van. Kamu bisa ketemu dulu sama laki-laki itu. Jika sama-sama cocok, kalian bisa putuskan sendiri mau melanjutkan hubungan itu apa enggak."


"Apa Bu Aida masih mau nerima aku, Nis? Kalau seandainya laki-laki itu udah di jodohin sama wanita lain bagaimana?"


"Sesuatu yang memang di takdirnya untuk kita, maka Tuhan nggak akan biarin jadi milik orang lain. Kamu percaya itu, kan?"


Vani memikirkan nasehat Nisa berulang-ulang. Bahkan sampai semalaman Vani tidak bisa memejamkan matanya, ia terlalu takut memulainya lagi.


Hingga pagi menjelang Vani tetap tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Vani memilih memulai aktivitasnya lagi seperti biasa, menjemput pakaian kotor ke rumah-rumah yang menjadi langganan Vani setiap hari.


Saat di jalan Vani melewatinya para ibu yang tengah berbelanja sayur. Sudah menjadi hal biasa bahwa seorang janda terkesan buruk di mata masyarakat. Apalagi janda itu masih muda seperti Vani. Banyak yang takut jika suami mereka akan tergoda oleh kecantikan Vani. Maka hanya ucapan buruk yang terbiasa Vani dengar dari para ibu-ibu itu.


"Lihat tuh si janda baru keluar. Dandan gitu lagi, mau godain siapa coba?" ucap salah satu ibu.


"Kita harus selalu hati-hati jaga suami kita, Bu. Kalau ndak ingin kecantol sama dia."


"Alahhhh percuma cantik kalau ternyata mandul!" ucap salah satunya lagi.


Vani yang mendengar lama-lama risih juga. Memangnya ada yang salah dengan status janda? Lagipula ia tidak pernah menggoda apalagi merugikan siapa pun.


"Awas aja kalau berani macam-macam!"


Vani mengepalkan kedua tangan. Ia berjanji akan membuktikannya bahwa yang mereka katakan semuanya tidak benar.


Dan apa tadi, mandul?

__ADS_1


"Kurang ajar!"


__ADS_2