
Omongan tak enak selalu Vani dapatkan dari orang-orang di sekitarnya. Tak jarang mereka menuduh Vani ingin menggoda para suami mereka hanya karena Vani selalu bersikap ramah.
Sampai akhirnya suatu fitnah menimpa Vani hanya karena Vani meminta tolong di gantikan lampu rumahnya yang mati.
"Keluar kamu Vani, dasar kegatelan!" teriak salah satu tetangga Vani yang tadi sempat melihat laki-laki muda masuk ke rumahnya.
Di dalam Vani nampak terheran, wanita itu keluar di susul laki-laki yang melangkah di belakangnya.
"Dasar kecentilan, baru aja cerai udah berani bawa masuk laki-laki ke dalam rumah!" teriak warga lagi.
"Maaf, maksud Ibu apa yah?" Vani tak mengerti, kenapa hanya perkara lampu saja bisa di cap kecentilan. Memang salah yah kalau ia meminta tolong? Lagipula Vani tinggal sendiri, tidak mungkin ia mengganti lampu yang letaknya lumayan tinggi.
"Jangan pura-pura kamu. Lihat tuh ngapain bawa dia masuk?!" Menunjuk laki-laki di sebelah Vani.
"Bu ...."
"Ada apa Van?" Nisa datang dari dalam. Gadis itu menatap bingung para warga yang berkerumun di depan rumah Vani. "Ini kenapa rame-rame gini?" tanya gadis itu lagi.
"Eh, ada Mba Nisa juga toh?" Salah satu ibu nyengir melihat adanya penghuni lain di dalam rumah Vani.
"Iya. Saya emang dari tadi di sini. Temenin Kak Aris pasangin lampu di rumah Vani," jelas gadis itu.
"Hahhh ...!" Semua saling pandang. Satu ibu menunduk dengan wajah pucat.
"Ibu-ibu kenapa yah rame-rame di sini?" Nisa bersuara lagi.
"Maaf Mba Nisa tadi kami ke sini karena ada yang bilang kalau Mba Vani udah bawa laki-laki ke dalam rumahnya," ucap salah satu ibu yang berdiri paling depan.
"Siapa yang ngomong gitu?" balas Nisa tak terima. Ia tahu pasti salah satu dari mereka ada yang sengaja ingin menjatuhkan Vani hanya karena statusnya yang seorang janda.
"Nis, udah. Jangan marah-marah gitu. Aku nggak apa-apa kok." Vani tidak ingin ada keributan. Makanya wanita itu berusaha mencegah Nisa agar tidak lagi emosi.
"Udah gimana maksud kamu, Van? Mereka udah sengaja mau fitnah kamu lho."
Jelas lah Nisa tak terima karena Vani adalah sahabat sekaligus sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
__ADS_1
"Maaf Mba Nisa kalau kami udah salah paham."
"Tahu ndak kalau seperti ini kalian bisa saya laporkan ke polisi dengan kasus pencemaran nama baik. Kalian mau?" tanya Nisa dengan suara mulai meninggi. Enak bener minta maaf gitu aja!
"Sekali lagi maaf, Mba. Ini nih gara-gara Bu Rita." Menunjuk perempuan berbadan gemuk di sebelah sana.
Sontak semua gaduh oleh suara bisik-bisik mereka yang menyalahkan perempuan bernama Rita tadi.
"Kalau belum jelas jangan berani ngomong dong, Bu. Gini kan jadinya malu sendiri kita."
"Iya, nih Bu Rita apa-apaan sih?! Di kira kita kurang kerjaan kali."
"Besok-besok kita ndak akan percaya lagi deh sama omongannya."
"Udah ya Ibu-ibu. Saya mau jelasin, kalau Kak Aris di sini cuma bantuin Vani ganti lampu. Ndak ngapa-ngapain, apalagi berbuat mesum. Lagian ada saya juga kok tadi. Jadi tolong, lain kali jangan mudah terprovokasi sama omongan orang."
Semua manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari Nisa. Para ibu yang berjumlah hampir sepuluh orang itu lantas membubarkan diri setelah menghujami Bu Rita lagi dengan berbagai sindiran pedas.
"Kak Aris makasih yah udah bantuin Vani."
Nisa melengos mendengar Aris yang tengah mencari-cari kesempatan pada Vani. Dasar modus!
"Ya udah saya pulang dulu Mba."
Sepeninggalan Aris, Vani dan Nisa kembali masuk ke dalam rumah. Ada sesuatu yang ingin Nisa tanyakan lagi mengenai permintaan Bu Aida seminggu yang lalu. Entah apa keputusannya nanti, Nisa akan tetap mendukungnya.
"Van, gimana? Kamu udah pikirin lagi permintaan Bu Aida?"
Sesaat Vani diam. Sudah seminggu ini ia memang terus memikirkan masalah itu hingga membuatnya susah sekali untuk memejamkan mata.
"Aku ndak tahu, Nis. Aku bingung. Gimana kalau ternyata Bu Aida udah jodohin anaknya sama wanita lain?"
.
.
__ADS_1
.
"Silahkan, Pak. Ini kopinya." Seorang pegawai rumah sakit mengantarkan secangkir kopi pesanan Renan ke ruangannya.
Laki-laki itu terlihat sibuk dengan banyaknya berkas di atas meja, hingga tak menyadari pria pembawa kopi tadi sudah melangkah pergi.
"Eh, iya."
Renan baru tersadar saat mendengar pintu ruangannya tertutup. Ia meraih kopi dalam cangkir tersebut lalu meneguknya perlahan.
Selanjutnya laki-laki itu sudah sibuk berkutat dengan pekerjaannya lagi.
Di luar ruangan.
Tepatnya di lorong yang bersebelahan dengan ruangan Renan. Pria pengantar kopi tadi melangkah menghampiri seorang wanita yang tengah menunggu dengan cemas.
Wanita berseragam putih dengan rambut sebahu itu langsung melayangkan pertanyaan bahkan sebelum pria tadi sampai di depannya.
"Gimana pekerjaanmu?"
"Tenang, Mba. Beres," jawab pria itu.
"Kamu udah pastiin Renan meminumnya, kan?" tanya wanita itu lagi.
"Udah Mba. Pak Renan langsung minum kopi yang saya antarkan tadi."
"Okey."
"Lalu saya harus ngapain lagi Mba?" Mika baru mau melangkah pergi tapi pria itu kembali bersuara.
"Pastikan nggak ada yang ke sini sampai dua jam ke depan."
Pria itu mengangguk lagi. Lantas melangkah buru-buru menuju lantai bawah untuk melaksanakan tugas selanjutnya.
"Kali ini kamu nggak akan bisa lari, Ren!"
__ADS_1