Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Kejutan Untuk Renan Dan Vani


__ADS_3

"Pokoknya percaya sama ibu, kamu ndak akan menyesal, Ren," ucap sang ibu pagi tadi. Wanita itu terus saja membujuk Renan, bahkan memaksanya untuk menerima perjodohan ini lagi.


"Ibu mau ajakin kamu ketemu dia dulu. Nanti kalau kamu emang ndak cocok boleh kok ndak nerusin perjodohan ini."


Sang bapak pun begitu, terkesan memaksa sekali. Sampai-sampai Renan frustasi mendengarnya.


"Kamu mau ke mana?" Tiba-tiba Dokter Dimas muncul. Renan yang tadinya hendak melarikan diri gagal juga akhirnya.


"Ke mana bukan urusanmu!" jawabnya ketus.


"Jangan ke mana-mana sampai Om dan Tante jemput." Dokter Dimas berdiri tepat di depan pintu menghalangi Renan yang hendak melangkah.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian? Ck, menyebalkan!"


Selain kedua orangtuanya, kini bertambah satu orang lagi yaitu Dimas, teman sekaligus sahabat dekatnya.


"Ikuti aja saran mereka. Kamu nggak mau jadi anak durhaka, kan? Aku akan pastiin kamu nggak akan kabur sampai mereka datang."


Sudah seperti satpam saja, lelaki muda itu duduk santai dengan mata yang terus mengawasi setiap gerak-gerik Renan.


"Oke. Oke. Terserah kalian aja." Akhirnya mengalah.


"Lanjutkan aja kerjaanmu tadi."


Renan terpaksa duduk dan berkutat lagi dengan pekerjaannya.


Setengah jam berlalu kedua orang tuanya benar-benar datang untuk menjemputnya. Renan pun bak tahanan yang di gelandang masuk ke mobil.


"Jalan, Pak. Masih ingat 'kan alamat ke Jogja waktu itu?" tanya Bu Aida pada supir pribadi milik keluarganya.


"Masih, Bu."


"Hahhh Jogja, sebenarnya Ibu sama Bapak mau bawa Renan ke mana sih?" tanya Renan yang saat ini duduk di bangku depan samping supir.


"Kamu ikut aja, jangan banyak tanya."


Pak Heri nampak tersenyum misterius. Entah apa arti senyuman itu Renan sendiri tidak tahu.


Mobil melaju meninggalkan rumah sakit dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Renan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati ke tempat siapa sebenarnya mereka akan singgah. Ke tempat teman orang tuanya, kah? Atau, rumah wanita yang akan di jodohkan dengannya?


Ah, lagi-lagi impian Renan harus pupus. Sepertinya Renan benar-benar tidak punya pilihan selain menerimanya.


Ternyata perjalanan lumayan jauh. Renan sampai pegal sendiri, meski beberapa kali mereka sempat berhenti dan istirahat.


"Masih jauh ya, Pak?" Renan bertanya pada sang supir. Sungguh ia sama sekali tak mengenal tempat ini.


Setelah menempuh perjalanan selama delapan jam akhirnya mobil itu mulai memasuki area perkampungan. Suasana masih asri sekali dengan banyaknya pematang sawah di sisi kanan kiri jalan.


Mobil mereka terus melaju mengikuti jalan itu, hingga akhirnya berhenti karena di depan sana hanya ada jalan setapak yang mobil tidak memungkinkan untuk melewatinya.


"Akhirnya sampai. Kita turun, Ren." Sang ibu memberikan perintah pada anak lelakinya.


"Bu, ini tempat siapa?" tanya Renan lagi.


"Udah kamu nurut aja. Ibumu Ndak mungkin mau bikin anaknya sengsara." Pak Heri malah yang menjawab.


Sebuah rumah sederhana dengan halaman yang lumayan luas. Di sisi kanan kiri masih ada rumpun bambu yang mengapitnya. Renan melangkah mengikuti kedua orangtuanya yang lebih dulu berjalan di depan. Mendekat kearah rumah itu dan mengetuk pintunya berkali-kali.

__ADS_1


"Kayaknya kosong Pak. Ke mana yah Mba ..." Duh, Bu Aida hampir keceplosan menyebutkan nama wanita itu.


"Mungkin lagi bekerja, Bu. Biasanya 'kan gitu. Coba ke rumah Mba Nisa aja. Itu 'kan rumahnya?" Menunjuk sebuah rumah yang tak jauh dari tempat itu.


"Eh iya, coba ke sana dulu, Pak."


"Nisa? Siapa lagi sih?" Renan hanya mampu bertanya dalam hati.


Mereka melangkah lagi ke rumah sebelah yang bentuknya hampir mirip dengan rumah pertama.


Baru mengetuk dua kali ternyata penghuni rumah itu langsung keluar. Wanita muda itu menatap kedatangan mereka dengan bingung.


"Eh, Ibu sama Bapak kapan datang?" Wanita bernama Nisa tadi langsung menyambut ramah.


"Baru aja, Mba. Oh ya, Mba ..." Bu Aida langsung melirik kearah Renan dan tidak jadi melanjutkan ucapannya, mereka malah terlihat bisik-bisik.


"Oh silahkan masuk dulu aja, Bu, Pak dan .... Mas ... siapa yah namanya?" Nisa nyengir malu-malu menatap wajah tampan Renan.


Ya Tuhan ... ini beneran nyata kan? Laki-laki ini yang mau di jodohkan sama Vani?


Nisa sampai tak berkedip melihatnya.


"Panggil aja, Renan," ucap laki-laki itu memperkenalkan diri.


"Silahkan Bu, Pak dan Mas Renan masuk dulu. Biar nanti saya panggilin pemilik rumah itu yah?"


Apalagi ini, kenapa semua seperti teka-teki. Sebenarnya siapa sih pemilik rumah itu hingga Ibu dan wanita ini enggan menyebutnya?


"Silahkan, Mba. Maaf sebelumnya sudah merepotkan."


Benar saja, Nisa melihat wanita itu baru saja keluar dari salah satu rumah besar di ujung jalan.


"Van...!"


Vani langsung menoleh mendengar teriakkan orang yang memanggil. Ternyata Nisa tengah berjalan terburu-buru.


"Nisa ...?"


"Ada Bu Aida dan Pak Heri datang," ucap wanita itu.


"Ngapain?"


Dih apa coba, malah nanya, batin Nisa.


"Ya mau ketemu kamu lah, masa ketemu aku," cebik wanita itu.


"Kayaknya mereka mau kasih undangan pernikahan anaknya kali yah?" Itu yang ada di pikiran Vani.


"Udah pokoknya kamu cepetan pulang, sekarang mereka ada di rumah aku." Nisa sudah menarik tangan Vani dan memaksanya untuk berjalan cepat.


"Pelan-pelan aja sih, Nis. Ngapain jalannya buru-buru gitu?"


Hihhh, Nisa sampai gemas sendiri mendengarnya.


"Buruan, Van. Kasihan mereka udah nunggu kamu dari tadi."


"Iya, iya."

__ADS_1


Mereka melangkah cepat menuju rumah Nisa. Vani masih menenteng keranjang tempat ia membawa pakaian bersih untuk di pulangkan ke rumah sang pemilik.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan pintu. Tapi justru Nisa yang mendadak gugup sendiri.


"Kamu tunggu di sini dulu ya?"


"Kenapa?" tanya Vani tak mengerti.


"Udah pokoknya tunggu di sini sebentar."


Nisa melangkah masuk untuk menemui mereka yang sejak tadi sudah menunggu.


"Orangnya udah ada di depan, Bu." Nisa menunjuk arah luar.


Bu Aida dan Pak Heri bangkit dari kursi kayu yang mereka duduki. Begitupun Renan. Tapi baru saja hendak melangkah mengikuti mereka, suara sang ibu mendadak melarangnya,


"Kamu di sini aja. Tunggu sampai ibu kasih ijin kamu keluar," ucap Bu Aida pada anak lelakinya.


"Lah, emang kenapa, Bu? Bukannya kita mau ketemu sama pemilik rumah itu?" tanya Renan dengan dahi yang berkerut.


"Udah nurut aja. Tunggu di sini!"


Kedua orang tua itu melangkah meninggalkan Renan yang masih mematung menatap ke luar sana.


Cukup lama mereka ada di luar mengobrol dengan entah siapa itu. Renan hanya bisa duduk dan menunggunya. Sampai akhirnya wanita bernama Nisa tadi masuk dan menyuruhnya untuk keluar.


"Mas Renan udah di tunggu Ibu sama Bapak di luar."


Renan langsung bangkit dan berjalan kearah pintu.


Sedangkan di halaman rumah.


"Oh ya Mba Vani, ada yang pengen ketemu. Katanya kangen," ucap Bu Aida. Wanita itu tersenyum melirik kearah suaminya yang berdiri tepat di sampingnya.


"Siapa Bu?" Vani justru bingung.


"Tuh orangnya di dalam."


Vani sontak mengikuti pandangan Bu Aida yang menatap kearah dalam sana.


Renan pun samar-samar mendengar suara itu. Itu seperti suara ...


Deg,


Detak jantungnya nyaris berhenti tatkala mengingatnya. Tapi, apa mungkin? Atau ini hanya perasaannya saja yang terlalu rindu pada wanita itu.


Langkah Renan semakin dekat, hingga ia melewati pintu dan melihat sendiri siapa yang ada di luar sana.


"Va–ni ....?" Suara Renan tercekat.


Kedua netra itu saling tatap dengan perasaannya masing-masing. Renan maupun Vani masih belum percaya jika saat ini takdir mempertemukan mereka kembali.


"Pak Ren ...?" Vani pun berbisik lirih menyebut namanya. Kedua mata itu mengerjap beberapa kali. Bahkan keranjang yang ia pegang terlepas begitu saja mengenai kakinya.


Sampai akhirnya suara Bu Aida memecah keheningan mereka.


"Jadi, gimana? Kamu masih nolak ibu jodohin sama dia, Ren?"

__ADS_1


__ADS_2