Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Cepat Serahkan, Sialan!


__ADS_3

Vani masih menyusuri jalan tanpa arah. Ia tidak tahu harus ke mana. Ke rumah Renan kah? Atau, pulang kampung saja. Lagipula di sana masih ada rumah peninggalan ibunya yang dulu sempat punya rencana Vani sewakan.


Tapi, jika pulang dengan keadaan rumah tangganya yang seperti ini, apa tidak akan menjadi gunjingan para tetangganya?


Jika ia nekad ke rumah Renan, apa pantas?


Ah, tidak! Rasanya terlalu malu untuk menampakkan wajah ndi dengan laki-laki itu.


"Lebih baik pulang kampung saja." Vani bertekad menggunakan gaji terakhirnya untuk berangkat ke terminal. Rencananya sore nanti ia akan pulang menuju kampung halamannya yang ada di Jogja.


Tidak tahu saja sejak tadi Vani sudah jadi incaran dua pria asing di seberang sana. Dua pria itu mendekat, dan menyeringai kala tak sengaja wanita itu nampak menghitung uang yang ada dalam dompet miliknya.


"Serahkan uang itu padaku!" pinta salah satu pria berperawakan tinggi. Dua pria itu nampak celingukan, mengawasi keadaan sekitarnya yang lumayan sepi.


Vani nampak terkejut, buru-buru ia memasukkan uang itu lagi ke dalam dompet lalu menyimpannya cepat.


"M–au apa kalian?" jawabnya dengan sedikit takut.


"Serahkan uangmu, atau kau akan tahu akibatnya!" Pria tadi mengancam dengan mengarahkan sebuah pisau kecil di depan wajah Vani.


"Ja–jangan. Kumohon... itu satu-satunya yang aku miliki untuk ongkos pulang kampung," pintanya lirih.


"Alahhhh kita nggak peduli. Cepat serahkan, atau pisau ini akan melukai wajah cantikmu!"


Vani tetap mempertahankan tas yang berisi dompet serta barang berharga lain. Jika ia menyerahkan pada dua pria itu, bagaimana ia akan pulang kampung?


"Jangan ...! Tolong ..!"


Vani memilih berteriak sekencang-kencangnya, berharap ada orang lain yang akan menolongnya. Tapi, naas tempat itu lumayan sepi hingga tidak ada satu orangpun yang mendengar teriakannya.


"Cepat serahkan, sialan!" Sekali sentak tas milik Vani sudah berpindah tangan pada salah satu pria itu.


Vani jatuh tersungkur menyentuh aspal, bahkan beberapa bagian tubuhnya ada yang lecet.


"Jangan! Akhhh ...."


Vani meringis merasakan kedua sikunya yang terluka akibat benturan yang cukup keras.

__ADS_1


"Kita tinggalin aja, percuma kalau bawa dia, nanti malah bikin repot!" Beruntung mereka hanya mengambil barang miliknya. Tidak sampai menyakiti atau memperkosa Vani.


Vani hanya bisa menangis dalam kebingungan. Sekarang ia harus bagaimana? Uang serta barang berharga miliknya telah lenyap di bawa kabur oleh dua preman tadi.


Dalam keputusasaan, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Seorang wanita paruh baya turun dan mendekati tempat di mana Vani terjatuh.


"Mba tidak apa-apa?"


Vani mendongak, tatapan mereka bertemu. Wanita paruh baya itu nampak terdiam sesaat, seperti tengah mengamati wajah wanita berhijab panjang di depannya.


"Mba yang waktu itu nolongin saya di pasar, kan?"


Vani sendiri sudah lupa karena kejadian itu sudah lama sekali. Tapi, herannya Kenapa sang ibu malah masih mengingatnya?


"Mba Vani, kan?" Ibu tadi bersuara lagi.


Vani semakin yakin jika wanita itu memang orang yang pernah dompetnya ia selamat dari pencopet kala itu.


"I–iya, Bu. Saya Vani."


"Beneran, Mba Vani tidak mau ikut sama ibu? Nanti ibu antarkan pulang sekalian."


Sebelumnya wanita yang memperkenalkan diri bernama Aida itu memang pernah mengantarkan Vani sampai depan gerbang kompleks miliknya.


Vani menggeleng pelan, menyadari keadaannya sudah berubah. Ia sudah tidak tinggal di tempat itu lagi.


"Tapi Mba masih sakit lho, yakin bisa pulang sendiri? Atau gini aja, biar ibu antar ya? Mba Vani mau pergi ke mana?"


Vani tak punya pilihan selain menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya pada wanita itu. Bahwa saat ini ia telah di usir oleh suaminya sendiri. Dan malangnya lagi ketika hendak pulang kampung, dompet beserta isinya telah raib di ambil penjahat.


"Ya Tuhan .... Mba yang sabar ya?" Bu Aida memeluk tubuh Vani dengan sangat iba.


Pak Heri yang berada di sebelahnya hanya bisa menatap dua wanita itu dengan tatapan sendu.


Karena Vani memaksa untuk tetap pulang kampung akhirnya Bu Aida dan suaminya memutuskan untuk mengantarnya sampai ke terminal.


Bu Aida membelikan tiket bis dan memberikan sedikit uang untuk ongkos Vani di jalan.

__ADS_1


"Tapi ini tidak perlu, Bu. Saya sudah sangat berterima kasih sekali karena Ibu nolongin saya."


Bu Aida membalasnya dengan tersenyum. Wanita itu masih ingat pertama kali bertemu dengan Vani. Bagaimana wanita itu dengan berani sudah menyelamatkan uang serta beberapa berkas penting miliknya dari tangan jambret.


"Ibu ikhlas, Mba. Mungkin Tuhan sengaja mempertemukan Ibu biar bisa membalas kebaikan Mba Vani dulu."


Kedua mata Vani terlihat berkaca-kaca mendengar penuturan Bu Aida. Ternyata orang kaya tidak semuanya sombong. Itulah yang Vani simpulkan.


Setelah menunggu bis yang Vani tumpangi bergerak, Bu Aida dan suaminya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman rumah putranya.


"Pak, Mba Vani itu cantik ya? Tapi sayang sekali nasibnya kurang beruntung." Bu Aida menghela napas panjang. Ia ikut prihatin dengan semua yang di ceritakan Vani tadi.


"Iya. Kok tega suaminya sampai mengusirnya. Apa ndak bisa di bicarakan dengan baik-baik lagi."


Pak Heri ikut simpati mendengar cerita dari istrinya mengenai Vani.


Pria berumur sekitar lima puluh tahunan lebih itu memang tidak bisa meninggalkan logat bahasa daerahnya meski sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di kota.


"Andai saja ya, Pak. Kita punya menantu seperti dia. Udah cantik, baik pula."


Tatapan Bu Aida berubah sendu. Pak Heri tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini.


Memikirkan putra satu-satunya yang sampai sekarang masih betah sendiri. Padahal sudah seringkali mereka menyuruhnya untuk segera menikah.


"Bujuk lagi kenapa sih, Pak, anakmu itu. Lha wong udah lebih dari dua tahun sendiri. Masa iya ndak ada satu wanita pun yang mau lagi sama dia."


"Ya, gimana? Bapak juga udah berusaha ngomong, tapi Ibu tahu lah tanggapannya. Nanti-nanti aja ndak tahu sampai kapan."


Kedua orang tua itu nampak diam dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Bu Aida memiliki satu ide konyol yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari suaminya.


"Nanti misalnya Mba Vani jadi cerai sama suaminya, gimana kalau kita joodohin aja sama anak kita, Pak? Tadi Ibu udah sempat minta alamat kampungnya."


"kok Ibu malah doain Mba Vani beneran cerai sama suaminya, sih?! Ndak baik itu lho, Bu. Kita doain aja yang terbaik buat dia."


Pak Heri sampai menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tidak paham dengan jalan pikiran istrinya sendiri.


"Itu 'kan misalnya, Pak. Ibu juga tetap doain yang terbaik buat Mba Vani, kok."

__ADS_1


__ADS_2