
"May, apa jangan-jangan kamu mandul?"
Maya langsung melotot mendengar pertanyaan ibu mertuanya. Pertanyaan yang seharusnya perempuan itu berikan pada anak lelakinya, kenapa sampai sekarang istrinya tak juga hamil, itu terdengar sangat menyakiti harga diri Maya. Jika saja ia tak berjanji pada Faisal ingin merahasiakan semua itu, mungkin saat ini Maya sudah memaki perempuan di depannya habis-habisan.
"Tuh lihat, teman-teman ibu pada tanya kamu udah telat berapa bulan?" Bu Widia bersuara lagi. Maya hanya memutar bola mata malas. Terserah, meladeni perempuan itu bisa-bisa gila sendiri.
"Udah, Bu. Aku capek, mau istirahat." Maya meninggalkan sang ibu yang masih ngoceh tak jelas di depan rumah. Sedangkan Luna sejak tadi hanya bungkam. Sepulang dari rumah sakit gadis itu tidak komentar apapun mengenai hasil pemeriksaan Maya.
Maya pikir masalah masuk angin yang sempat menghebohkan mertua serta adik iparnya tadi sudah selesai. Tapi nyatanya sore ini sang ibu kembali mendatangi rumahnya saat Faisal baru pulang dari kantor. Lagi, perempuan itu membahas mengenai hasil pemeriksaan Maya tadi di rumah sakit.
"Ibu benar-benar malu, Nak. Kenapa sih istrimu nggak hamil-hamil?"
Herannya Faisal masih bisa berlagak santai. Lelaki itu memang pintar sekali untuk membujuk sang ibu, buktinya perempuan itu langsung diam kala Faisal menawarkan sesuatu,
"Ibu nggak pengen jalan-jalan? Kemarin aku lihat gamis koleksi terbaru di toko langganan Ibu."
Perempuan itu langsung sumringah. Bu Widia menjawab cepat apa yang di tawarkan oleh Faisal.
"Beneran, kamu mau ajak ibu jalan-jalan lagi? Terus beli baju juga?"
Obrolan mengenai kehamilan langsung terlupakan begitu saja. Maya langsung berdecak sebal. Selain tukang nyinyir ibu mertuanya juga sangat matre, dan setelah ini Maya yakin ia bakal terkena imbas dengan jatah uang bulanannya yang berkurang.
Perempuan itu sudah pergi setelah memuji anak lelakinya berkali-kali. Bahkan sampai lupa tak berpamitan dulu pada Maya. Tinggallah sepasang suami istri yang masih bungkam dengan pikirannya masing-masing.
"Kamu jangan apa-apa Ibu sih, Mas. Aku juga butuh beli baju sama skincare, bukan cuma Ibu kamu aja," protes Maya pada lelaki yang sudah tiga bulan ini ia nikahi. Faisal yang tadinya hendak melangkah masuk langsung memutar tubuhnya lagi ke arah Maya,
__ADS_1
"Nanti setelah Ibu. Kamu sabar dulu ya? Lagian baju kamu juga masih bagus-bagus."
Maya langsung menatap sebal suaminya. Mungkin jika Vani akan mengalah saat Faisal terus-terusan lebih mementingkan sang ibu, beda halnya dengan Maya yang terbiasa mendapatkan apapun dengan mudah.
"Jadi, kamu lebih mentingin Ibu kamu? Keterlaluan kamu, Mas. Bahkan semenjak kita menikah belum pernah sekalipun kamu beliin baju buat aku."
Sebenarnya Faisal juga ingin berbuat adil, tapi setiap kali ia menerima gaji pasti sang ibu dan Luna sudah menunggunya di depan pintu. Mereka selalu tahu tanggal berapa Faisal mendapat gaji bulanannya.
"Kamu bisa minta sama Papa, May. Bukankah kamu anak satu-satunya, masa Papa kamu tega sih biarin anaknya kekurangan."
Dengan tidak tahu malu Faisal memberikan ide konyol pada Maya. Tujuannya agar Maya tak harus merengek terus-menerus padanya.
"Kamu lupa kalau seluruh kartu kredit aku udah di blokir sama Papa? Terus mereka juga akan menyerahkan perusahaan itu kalau kita udah punya anak."
"Lagian kapan sih penyakit kamu bisa sembuh? Lama-lama aku nggak tahan juga, Mas, di pojokin sama Ibu kamu terus."
Maya merengut, Faisal pun jadi serba salah mendengarnya.
.
.
.
"Pokoknya kamu nggak boleh ngerjain pekerjaan berat lagi, Van. Aku cuma takut nanti kamu kecapekan. Biar Bik Minah aja yang ngerjain semuanya."
__ADS_1
Itulah yang Renan katakan setiap kali hendak berangkat ke rumah sakit. Padahal Vani hanya bantu-bantu di dapur, itupun cuma potong sayuran atau bumbu, tapi seakan ia yang mengerjakan semua tugas rumah hingga Renan menyebutnya pekerjaan berat.
Bik Minah yang tak sengaja mendengar obrolan kedua majikannya hanya bisa tersenyum. Kadangkala wanita itu terharu sampai meneteskan air mata melihat perubahan sikap Renan semenjak menikah dengan Vani. Wajah Renan terlihat segar dan selalu bersemangat, berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu.
"Bik, saya titip Vani ya? Tolong kabari kalau ada apa-apa. Nanti kalau Vani minta sesuatu kasih aja. Atau Bibik bisa telepon saya, biar nanti saya yang carikan."
Bik Minah sampai hapal dengan kalimat itu. Renan memang semakin perhatian saja kala tahu sang istri tengah berbadan dua. Begitupun kedua mertuanya yang bahkan jadi sering berkunjung ke rumah, padahal saat ini mereka masih tinggal di luar kota.
Perempuan itu mengangguk seraya menatap sepasang pengantin baru itu yang mulai melangkah meninggalkan ruang makan.
Bik Minah paham, mungkin sikap Renan yang kadang sedikit posesif itu karena ia pernah merasakan kehilangan istri serta calon anaknya. Renan juga sempat menutup diri karena begitu frustasi, sebelum akhirnya mengenal Vani dan perlahan mampu mengubah dunianya.
[Aku hamil, Mas, bukan pesakitan. Jadi, kamu nggak perlu sampai khawatir kayak gitu,] ucap Vani tiap kali menerima panggilan dari Renan. Setiap jam Renan memang akan selalu menghubungi Vani untuk menanyakan apa yang tengah di lakukan wanita itu di rumah.
[Aku cuma nggak mau kamu kesepian. Apa kamu mau ikut ke sini aja, biar nanti supir yang jemput?] tanya Renan dari seberang telepon.
Vani pun hanya menggeleng pelan. Renan memang selalu bersikap manis padanya, tak heran jika Vani merasa beruntung sekali bisa memiliki suami seperti Renan.
[Aku tunggu kamu di rumah aja, Mas, lagipula ada Bibik yang temenin aku,] balas Vani setelah cukup lama terdiam.
[Jadi, kamu nungguin aku, Van?] Tak di sangka jawaban Renan di luar ekspektasi Vani. Padahal bukan itu maksud Vani. Ia hanya berusaha menolak tawaran suaminya secara halus.
[Ya udah, sebentar lagi aku pulang. Maaf ya, udah buat kamu nunggu lama.]
Astagaaa ....!
__ADS_1