
"Ibu yakin kalau aku yang mandul? Bukan anak kesayangan Ibu yang nggak bisa kasih keturunan?" Suara Maya tiba-tiba terdengar. Semua orang yang tengah memilih belanjaan pun sontak terdiam, begitupun dengan Bu Widia yang tak menyangka jika ucapannya tadi ternyata di dengar langsung oleh menantunya.
Ini pertama kalinya Maya berani membalas ucapan sang ibu. Jika biasanya mungkin ia akan memilih bungkam atau menghindarinya.
"Jangan ngomong sembarangan. Faisal nggak mungkin mandul. Dia sehat, aku yakin kamu lah yang bermasalah." Bu Widia menatap tajam sang menantu yang saat ini sudah berdiri di sebelahnya.
Semua yang ada di tempat itu saling lirik tanpa ada yang berani berkomentar apapun.
"Benarkah? Lalu menurut Ibu, aku dan Vani yang mandul, begitu? Sepertinya tuduhan Ibu selama ini nggak masuk akal ya?" Maya membalas santai, meski hatinya sudah dongkol setengah mati.
"Pa–sti. Lagian mana mungkin Faisal yang mandul. Keluarga kami semua sehat. Kamu juga tahu, kan?" Meski hatinya mulai ragu, tapi Bu Widia tetap tidak ingin harga dirinya jatuh di depan orang lain.
"Kenapa Ibu seyakin itu? Apa Ibu pernah buktikan sendiri kalau memang anak kesayangan Ibu itu ternyata sehat-sehat saja?"
Wajah Bu Widia langsung berubah. Nampaknya ucapan Maya baru saja sukses membuat perempuan itu berpikir keras.
"May, apa maksud kamu? Apa memang Faisal yang bermasalah?" Salah satu ibu yang tengah berbelanja akhirnya menyela. Mungkin penasaran juga dengan rumah tangga Faisal yang memang sudah terlihat janggal sejak dulu.
"Nggak. Faisal nggak mungkin mandul. Pasti kamu yang mandul makanya sampai sekarang kalian nggak punya anak. Tolong semua ibu-ibu di sini jangan percaya dengan omong kosong Maya."
__ADS_1
Maya tak bisa menahan diri lagi. Ia tak peduli jika setelah ini bukan hanya Faisal dan sang ibu yang akan malu, mungkin juga dirinya. Lebih baik berbicara terus terang daripada terus-menerus sakit hati karena di tuduh mandul oleh ibu mertuanya sendiri.
"Kenapa, kamu nggak terima ibu ngomong mandul? Itu kenyataan, kan?" Entah kenapa sekarang perempuan itu berubah sikapnya, padahal dulu selalu memperlakukan Maya dengan sangat baik. Bahkan sebelum menikah mereka sudah terlihat akrab sekali.
"Cukup, Bu. Bukan aku yang mandul, tapi anak ibulah yang nggak bisa kasih Keturunan. Mas Faisal itu imp0ten, Bu. Jadi, jangan pernah Ibu salahin aku lagi!" Emosi Maya meledak juga. Hilang sudah rasa hormat untuk perempuan yang telah melahirkan suaminya. Maya terlanjur emosi. Jika kemarin-kemarin ia memilih bungkam atau menghindar karena sudah berjanji akan menyimpan rahasia ini berdua saja dengan Faisal, tapi nampaknya ucapan ibu mertuanya semakin lama tambah keterlaluan saja.
"Tutup mulutmu wanita kurang ajar! Hilang ke mana sopan santun–mu selama ini!" Tentu saja Bu Widia tak terima Maya mengatakan jika Faisal adalah lelaki imp0ten.
"Yang aku bilang itu benar, Bu. Ibu pikir kenapa selama ini aku nggak hamil, itu karena Mas Faisal imp0ten." Maya memperjelas lagi ucapannya. Apa boleh buat, Maya terlanjur sakit hati. Biarkan saja semua orang tahu aib rumah tangganya.
Semua orang yang ada di sana nampak tercengang mendengar pengakuan Maya. Lain halnya dengan Bu Widia yang tetap ngotot membantah tuduhan yang di berikan Maya pada anaknya.
"Jangan fitnah kamu, May. Bahkan Faisal bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik dari kamu, dan tentunya yang bisa kasih dia keturunan!" ucap wanita itu dengan wajah yang merah padam.
"Dasar menantu kurang ajar. Bahkan Vani belum pernah berbicara kurang ajar seperti itu sama Ibu!" ucapnya dengan menunjuk kearah wajah menantunya.
"Aku bukan Vani yang bakal diam aja saat Ibu menghinanya. Dan perlu Ibu tahu, selama ini aku udah berusaha menerima kekurangan anak Ibu. Tapi apa yang Ibu lakukan sama aku, Ibu terus-terusan memojokkan aku dan menuduh aku yang mandul. Aku juga punya perasaan, Bu."
Maya terus membalas ucapan mertuanya tak kalah sengit. Keributan tak terhindarkan lagi hingga mengundang para penghuni kompleks untuk segera berdatangan.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
Faisal muncul dengan wajah bingung, apalagi melihat Ibu serta istrinya yang tengah adu mulut di samping gerobak sayur.
"Ibu, ada apa ini?"
"Lihat istrimu itu, Nak. Dia udah fitnah kamu di depan Ibu."
Laki-laki itu bergegas mendekat dan menarik tangan Maya meski belum paham apa yang di maksud oleh sang ibu.
"Tolong jangan bertengkar, May. Ayo pulang, kita selesaikan masalah ini di rumah."
"Lepasin aku, Mas. Percuma aja kamu belain Ibu, sekarang semua orang udah tahu alasannya kenapa sampai sekarang aku belum juga hamil."
Faisal mundur beberapa langkah, bahkan cengkeraman tangannya mengendur seketika. Ia menatap wajah sang istri dengan tatapan tajam. Bukankah mereka sudah sepakat ingin merahasiakan masalah ini? Tapi kenapa justru Maya tega membeberkan pada semua orang.
"May ...!!"
"Nak, apakah benar yang di katakan Maya tadi, kalau kamu ternyata ... imp0ten ....?" Sang ibu menyela dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Hai kesayangan ...
Ada yang pengen baca kisah Bagas ndak? Itu lho cowok tengil yang pernah jatuh cinta sama Vani. Kisahnya ada di sebelah lho, boleh kalau mau mampir. Othor ucapin banyak makasih buat kalian semua🙏