Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Jangan Menggodaku, Van ...


__ADS_3

Sementara di tempat lain terlihat sepasang pengantin baru yang tengah tersenyum malu-malu. Beberapa menit yang lalu acara akad sudah terlaksana dengan lancar dan penuh khidmat.


Renan mencium kening istrinya usai menyematkan cincin di jari manis wanita itu. Begitupun Vani melakukan hal sama lantas mencium punggung tangan suaminya sebagai bentuk rasa hormat.


Keduanya masih sama-sama duduk di tempat tadi, tempat Renan mengucap janji pernikahan di hadapan penghulu. Sebelum akhirnya sepasang pengantin baru itu di giring menuju pelaminan.


"Selamat, Nak, akhirnya apa yang kamu inginkan terlaksana juga." Bu Aida mengusap sudut matanya yang tiba-tiba sudah basah. Wanita itu bahagia sekali akhirnya Renan bisa menemukan tambatan hatinya lagi.


"Makasih, Bu." Ibu dan anak itu saling memeluk dengan perasaan haru. Pak Heri yang ada di dekatnya pun merasakan hal yang sama hingga tak terasa kedua matanya ikut berkaca-kaca.


"Jaga istrimu baik-baik. Sekarang Vani sudah jadi tanggung jawab kamu sepenuhnya." Kini giliran Pak Heri yang memeluk Renan. Menepuk punggung laki-laki itu beberapa kali, lantas menyingkir saat para tamu mulai naik dan hendak mengucapkan selamat pada sepasang pengantin itu.


Acara pernikahan Vani dan Renan sangat meriah. Hampir semua penduduk kampung di undang untuk datang ke acara sakral tersebut. Tak lupa dari pihak keluarga Renan pun ada beberapa yang datang demi bisa menyaksikan acara itu secara langsung.


"Aku senang, Van, akhirnya apa yang aku impikan selama ini jadi kenyataan," bisik Renan pada wanita yang beberapa menit lalu sah menjadi istrinya.


"Iya, Mas, aku pun begitu. Nggak nyangka ternyata Tuhan punya cara unik untuk mempertemukan kita."


Vani mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan Renan. Saat itu ia tengah menggantikan tugas Bik Minah yang ijin pulang kampung. Hingga akhirnya benih-benih cinta tumbuh di antara mereka meski status Vani saat itu masih bersuami.


Acara terus berlangsung sementara mereka tetap menyelipkan obrolan saat ada kesempatan. Beberapa jam kemudian mereka sudah lelah tapi acara tak kunjung selesai. Vani pun terlihat sudah tak nyaman dengan pakaian serta makeup di wajahnya. Begitupun Renan sudah blingsatan ke sana ke mari ingin segera mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


"Van, kamu kenapa?" Renan berbisik lirih, menatap kearah Vani yang beberapa kali berusaha melepaskan sepatu pengantin.


"Aku capek, Mas. Kakiku pegal." Memperlihatkan kakinya yang sudah nampak memerah.


"Kamu duduk aja ya? Nggak usah berdiri, nanti kaki kamu tambah sakit.


Acara baru selesai menjelang tengah malam. Akhirnya mereka semua lega. Di rumah Vani hanya tinggal keluarga inti saja, sedangkan kerabat dari Renan yang turut serta rencananya akan menginap di rumah Nisa.


Renan yang saat itu sudah ada di kamar pengantin pun kebingungan mencari keberadaan Vani yang tak kunjung masuk kamar. Di mana istrinya, padahal jam dinding sudah menunjuk waktu lewat tengah malam.

__ADS_1


Renan melangkah pelan menyusuri ruangan demi ruangan, hingga akhirnya tiba di ambang pintu menuju dapur. Renan melihat wanita itu masih sibuk sendiri membereskan sisa-sisa pesta tadi.


"Kenapa masih di sini?" Renan tiba-tiba mendekat, memeluk tubuh istrinya dari belakang. Laki-laki itu secara sengaja menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Vani.


"Mas ... kamu ngapain ke sini?" Suara Vani tertahan oleh aksi Renan yang semakin lama makin berani saja. Padahal mereka tengah ada di dapur, bagaimana kalau tiba-tiba kedua orang tua mereka terbangun dan memergokinya?


"Aku cari kamu ke mana-mana. Ternyata malah sibuk di sini," ucap Renan dengan napas yang sudah tak beraturan. Tangannya melingkar pada perut Vani dan mengusapnya secara lembut.


"Udah larut malam, Van. Lanjut besok lagi aja ya beres-beresnya?"


"Tapi ...."


"Istirahat yuk. Kamu juga capek, kan?"


Renan menarik tangan Vani hingga wanita itu terpaksa mengikutinya.


Sepanjang perjalanan menuju kamar Vani nampak gugup sendiri. Ia membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Benar istirahat kah? Atau Renan akan langsung meminta haknya sebagai suami.


"Kamu nggak usah takut. Kalau kamu emang belum siap aku nggak akan paksa kamu."


"Tidurlah. Kamu pasti capek, kan?"


Vani mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Mereka lantas merebahkan diri dengan posisi saling berhadapan. Renan tak henti-hentinya menatap wajah Vani dengan senyum yang terus mengembang sempurna.


"Kenapa senyum-senyum gitu? Apa ada yang aneh?" tanya Vani pada Renan yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip.


"Aku cuma masih nggak percaya kalau sekarang kita udah menikah?" jawab Renan yang langsung di balas pelototan oleh istrinya,


"Jadi, menurut kamu ini hanya mimpi, Mas?" cebik wanita itu tak terima.


"Bukan gitu. Van. Aku hanya belum bisa mengungkapkan sebahagia apa perasaanku saat ini. Bisa ketemu kamu lagi. Dan kini bisa memiliki kamu seutuhnya."

__ADS_1


Renan mencium tangan istrinya beberapa kali, lalu menarik tubuh Vani ke dalam dekapannya.


"Van ...."


"Hemmmm ..."


"Boleh ya?" tanya Renan dengan tubuh yang saling merapat. Tadi sih memang hanya ingin mengajak Vani istirahat, tapi setelah sampai di kamar dan posisi seperti ini Renan tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya.


"Katanya tadi capek, mau istirahat." Wanita itu mengulas senyum namun sebenarnya tengah berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang kian berkejaran.


Wajah Renan berubah sendu. Ia sudah terlanjur berjanji tidak akan memaksa jika Vani memang belum siap.


"Ya udah, nggak apa-apa kalau kamu emang belum siap." Renan berusaha berlapang dada. Toh masih banyak waktu yang akan mereka habiskan berdua. Laki-laki itu mulai memejamkan mata, mendekap tubuh Vani semakin erat.


Tapi Vani mendadak iba saat menatap wajah laki-laki itu. Bukankah sekarang ia sudah sah menjadi istrinya, lantas apa yang salah jika Renan meminta haknya.


"Mas ...."


"Hemmm ...."


Vani mulai mengusap lembut wajah Renan. Laki-laki sontak membuka kedua matanya saat merasakan tangan istrinya bermain-main di sana.


"Jangan menggodaku, Van," ucap Renan dengan deru napas yang memburu.


Vani hanya membalasnya dengan senyuman. Wanita itu malah semakin gencar memainkan jemarinya di wajah Renan lalu turun menyentuh dagu milik suaminya.


"Van ..."


"Apa ...?" Wanita itu terkekeh pelan menyaksikan wajah suaminya yang terlihat semakin gelisah.


Renan yang tahu jika Vani memang sengaja menggodanya tak tinggal diam. Laki-laki itu langsung menangkap tangan istrinya hingga Vani tidak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"Mas kamu ... akhhhh ...."


Malam panjang masih berlanjut bagi sepasang pengantin baru itu.


__ADS_2