
Vani di buat bingung dengan pemandangan di depannya. Pasalnya tadi ia mendengar sendiri Renan memintanya untuk masuk. Tapi, saat Vani membuka pintu dan melangkah ke dalam, laki-laki itu malah terlihat masih terbaring dengan mata terpejam.
"Apa tadi Pak Ren mengigau?" bisik Vani lagi. Vani mendekat dan meletakkan nampan berisi sarapan di atas nakas samping ranjang milik lelaki itu.
"Pak Ren, bangun, Pak!" Vani berusaha membangunkan Renan dengan memanggilnya. Sekali, dua kali, sampai tiga kali ternyata tidak ada respon dari Renan.
"Aduh, gimana ini? Apa aku tinggal di sini aja sarapannya? Tapi, kalau aku tinggal, nanti Pak Ren nggak tahu kalau sarapannya udah di antar ke kamar."
Vani merasa tidak enak, risih juga berada dalam satu ruangan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Vani berniat membangunkannya sekali lagi, dan jika nanti Renan tidak bangun juga Vani terpaksa meninggalkan sarapan itu di sana.
"Pak Ren, bang– ...." Vani belum sempat menyelesaikan ucapannya saat tangan kekar Renan tiba-tiba menariknya hingga Vani jatuh tepat di atas tubuh milik laki-laki itu.
"Akhhh ....! Lepas!" Vani berontak sekuat tenaga, tapi Renan justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Sebentar saja, Kania. Aku sangat merindukanmu," bisik Renan tepat di samping wajah Vani.
Kania?
Vani jelas mendengar Renan menyebut nama itu. Siapa dia? Atau, mungkin istrinya? Tapi, di mana keberadaannya saat ini? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?
"Lepas, Pak! Aku bukan Kania!" ucap Vani dengan sekuat tenaga. Laki-laki itu masih memeluknya erat dengan kedua mata yang terpejam. Bahkan wajah Renan kini mendekat dan seperti hendak mencium wanita itu.
"Akhh ....! Jangan, Pak!"
"Pak, Lepas! Bagiamana ini?"
"Tolong lepasin, Pak! Dia Vani, bukan Kania!" Tiba-tiba saja Bik Minah muncul dengan wajah panik. Perempuan itu langsung menarik tangan Vani yang masih berada dalam dekapan Renan dan tak sengaja menyenggol nampan yang berisi sarapan tadi.
Prank!
Suara jatuhnya piring dan gelas yang membentur lantai membuat laki-laki itu tersentak. Renan membuka kedua matanya. Laki-laki terlihat gelagapan bukan main. Renan melirik kedua orang yang saat ini tengah berada di dalam kamarnya.
"Bik ...?"
"Ini Neng Vani, Pak. Bukan Non Kania," ucap Bik Minah lagi. Vani hanya diam dengan wajah bingung. Ia juga masih terlalu shock dengan sikap Renan yang tiba-tiba menariknya tadi.
"Van, maaf. A–aku benar-benar nggak sengaja," ucap Renan dengan wajah kecewa. Laki-laki itu menatap sekitar tempat tidurnya yang di penuhi pecahan piring serta gelas yang berserak di lantai.
"Bik ..?"
__ADS_1
"Bapak ngigau lagi?" tanya Bik Minah tepat di samping Vani.
"Iya, Bik. Mimpi itu datang lagi." Renan menunduk dengan wajah sedih. Dua tahun sejak kepergian Kania dan calon buah hatinya, Renan seringkali mendapatkan mimpi itu. Mimpi di datangi oleh mendiang mantan istrinya.
"Sebaiknya Bapak istirahat saja. Bibik buatin sarapan lagi ya?"
Sementara Vani membersihkan bekas pecahan tadi, sesekali melirik kearah Renan yang duduk dengan pandangan kosong.
"Van, maaf ya, pasti kamu ketakutan tadi. Aku benar-benar nggak sengaja. Aku nggak ada maksud buat kurang ajar sama kamu." Renan kembali bersuara. Laki-laki itu juga mengusap wajahnya beberapa kali.
Vani masih tidak tahu apapun mengenai kisah rumah tangga majikannya. Ia hanya pernah mendengar sedikit jika Renan punya istri. Tapi, Vani tidak pernah tahu di mana keberadaannya.
Setelah beres, Vani keluar dari kamar laki-laki itu. Ia melangkah menemui Bik minah yang tengah membuatkan sarapan untuk majikannya lagi.
"Neng, maafin Bapak ya? Dia nggak sengaja." Penjelasan Bik Minah cukup membuat Vani percaya jika apa yang di lakukan Renan benar-benar tidak di sengaja.
"Sebenarnya ada apa sih, Bik? Apa Pak Renan sering mengalami hal seperti itu?"
"Sebenarnya Bapak mengalaminya setelah di tinggal pergi sama almarhumah istrinya."
"Almarhumah?" jelas Vani kembali. "Jadi, istri Pak Ren udah meninggal, Bik?"
"Makanya hari ini Bapak nggak ke rumah sakit, Neng. Hari ini adalah hari kecelakaan sekaligus meninggalnya Nona Kania. Bapak tidak pernah pergi ke mana-mana pas tanggal kematian istrinya dan memilih tinggal di rumah."
"Kenapa nggak ziarah aja, Bik? Mungkin bisa mengobati rindu."
"Udah, Neng. Pagi-pagi sekali Bapak udah dari makan Non Kania. Makanya tadi sarapannya sampai telat. Maaf ya, tadi Bibik malah nyuruh Neng Vani yang anterin. Kalau tahu kejadiannya bakal kaya tadi, Bibik nggak mungkin minta Neng Vani buat anterin sarapan ke kamar Bapak."
Vani juga tak sampai hati jika harus menyalahkan Bik Minah. Sudahlah, toh cuma salah paham. Vani berniat kembali ke belakang melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Bik ....! Bibik ...!" Panggilan itu seketika menyita perhatian Vani. Wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai berjalan anggun dari arah ruang tamu.
Bik Minah buru-buru mengelap kedua tangannya dan berlari cepat mendekatinya.
"Non Mika?"
"Renan mana Bik?" tanya wanita itu.
"Bapak lagi istirahat, Non. Di kamar."
__ADS_1
"Oh, ya udah." Wanita bernama Mika tadi melangkah lagi menuju arah kamar Renan.
Siapa dia? Siapa wanita cantik itu?
Vani hanya bisa membatin. Meski penasaran, Vani tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Ia memilih melangkah dan ingin segera melanjutkan pekerjaannya lagi.
Namun, baru tiga langkah, Vani di kejutkan dengan suara benda jatuh yang berasal dari kamar Renan. Di susul suara Renan yang meninggi,
"Pergi kamu, Mik!"
"Kamu nggak bisa terus-terusan kaya gini, Ren! Kania itu udah nggak ada, dia udah mati! Ngapain sih kamu masih mikirin dia!" ucap wanita bernama Mika tadi.
"Kania emang udah nggak ada, Mik. Tapi, bukan berarti aku bisa menerima kamu dan mengganti posisinya."
"Kenapa? Bukannya aku tak kalah cantik dari Kania? Aku pun berpendidikan. Jadi, apa alasannya kamu selalu nolak aku?!"
Samar-samar Vani masih bisa mendengarnya dari bawah tangga tentang pertengkaran keduanya.
"Tolong kasih aku alasan, Ren."
"Alasannya memang aku nggak bisa, Mik. Aku nggak pernah ada perasaan apapun sama kamu."
"Cinta bisa tumbuh, Ren. Percayalah, aku bisa lebih baik dari Kania. Kamu hanya perlu buka hati kamu buat aku."
"Maaf, nggak bisa, Mik. Aku benar-benar nggak bisa."
"Ren ...!"
"Tolong pergi. Jangan ganggu aku!"
Brakkk!
Terdengar pintu yang di banting dengan kencang. Di susul suara hentakan keras dari kaki seseorang yang menuruni tangga.
Vani masih terpaku di tempatnya saat wanita tadi berjalan tepat di depannya.
"Ngapain kamu? Kamu nguping pembicaraan kami?!"
Wanita itu melotot di depan Vani yang terlihat gugup.
__ADS_1