Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Jambret!


__ADS_3

Vani melihat Renan tersenyum ke arahnya. Mendadak Vani ragu untuk sekedar mengulurkan tangan. Bukan maksud buruk sangka, tapi namanya juga wanita, wajib jaga diri, kan?


"Jangan mikir macam-macam, Van? Niatku cuma membantu." Renan bersuara lagi. Kali ini Vani percaya saja. Toh, Vani memang sangat butuh uang itu. Selain untuk menyambung keperluan sehari-hari, Vani juga butuh untuk kirim ke ibunya yang ada di kampung.


"Baik, Pak, terimakasih." Akhirnya amplop tadi Vani ambil. Ia segera pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


Sore hari setelah semua pekerjaannya selesai, Vani melangkah menuju belakang. Kearah kamar kosong yang di sediakan sang pemilik rumah sebagai tempat istirahat. Kamar itu cukup luas untuknya yang hanya seorang diri. Sedangkan di sebelah ruangan itu kamar milik Bi Minah dan suaminya.


Vani merebahkan diri, menatap langit-langit kamar dengan perasaan tak menentu. Sebenarnya Vani ingin sekali pulang kampung untuk menjenguk keadaan ibu. Tapi sekali lagi, keadaan yang memaksanya untuk terus menundanya karena uang yang belum cukup terkumpul.


Sekitar jam tiga sore Vani memutuskan untuk pulang. Seperti biasa Vani menunggu angkutan umum lewat di depan gerbang rumah milik majikannya. Sebelum sampai di depan komplek Vani sengaja meminta supir menghentikan laju kendaraannya. Vani singgah lebih dulu ke ATM untuk mentransfer sebagian gajinya untuk sang ibu.


"Maafkan Vani, Bu. Sampai saat ini belum bisa jenguk ibu lagi." Tanpa sadar kedua matanya berembun. Vani mengusap buru-buru sebelum luruh melewati pipi.


Ada perasaan bersalah yang menggelayuti hati. Sudah hampir setengah tahun Vani tidak menyambangi rumah ibunya. Vani hanya bisa mengirimkan uang, itupun dari gaji miliknya yang sengaja Vani sisihkan selama bekerja di tempat Renan. Jika harus mengandalkan gaji Faisal, entahlah ... bisa atau tidak ia menyisihkan uang untuk ibunya.


[Hallo, Van?] Vani sengaja duduk di sebuah bangku taman. Vani segera menghubungi untuk memberitahukan mengenai uang yang baru saja ia kirimkan.


[Apa kabar, Bu? Ibu sehat 'kan?] Vani seperti mendengar ibunya terbatuk. Seketika Vani lebih menajamkan kedua telinganya lagi.


[Ibu baik-baik aja, Van. Gimana kabar kamu di sana? Faisal juga baik-baik saja, kan?] Seperti Ibu sengaja mengalihkan pertanyaan Vani tadi. Mungkin tidak ingin jika Vani sampai khawatir dengan keadaannya.


[Aku baik. Mas Faisal juga baik, Bu.] Vani menjawab pertanyaan ibunya tadi.


[Syukurlah kalau kalian baik-baik saja.] Vani mendengar ibunya mengehla napas lega. Lalu, Vani teringat dengan tujuan awalnya menghubungi sang ibu.

__ADS_1


[Vani ada transfer uang untuk Ibu. Nanti minta Nisa untuk mengambilnya ya, Bu?] Nisa adalah tetangga yang paling dekat. Dia juga teman satu angkatan saat SMA dulu.


[Bulan kemarin 'kan udah. Emangnya Faisal nggak keberatan kalau kamu tiap bulan kasih uang Ibu terus?] Jantung Vani seperti di remas saat itu juga. Padahal baru dua bulan ini Vani bisa mengriminya lagi setelah sekian lama uang suaminya habis entah ke mana. Ternyata Ibu mengira kalau uang yang Vani transfer setiap bulannya adalah pemberian dari Faisal.


[Enggak kok, Bu. Malah Mas Faisal yang suruh Vani kirim uang ke Ibu.] Vani berusaha menyelamatkan harga diri suaminya. Jika ia terus terang mengenai hal itu, takut Ibu khawatir dan kepikiran.


[Oh, baiklah. Bilang makasih sama suamimu ya, Van?] Vani mendengar suara bahagia Ibu dari seberang sana. Vani pamit, lalu segera mengakhiri panggilan telepon tadi. Tak terasa air matanya lolos begitu saja. Buru-buru Vani mengusapnya sebelum ada orang lain yang melihatnya.


.


Vani memutuskan singgah lebih dulu ke pasar tradisional. Pasar yang sempat Vani datangi waktu itu untuk membeli sesuatu. Tapi kali ini bukan itu tujuannya, Vani ke sini karena ingin berbelanja kebutuhan dapur untuk beberapa hari ke depan.


Maklumlah uang bulanan yang pas-pasan, lebih baik Vani belanjakan di sana yang harganya lebih murah. Vani memang jarang sekali pergi ke supermarket, selain tahu harganya yang lumayan mahal, Vani lebih nyaman jika berbelanja di pasar biasa.


Di sana-sini hanya terdengar suara teriakan para pedagang yang berusaha menawarkan dagangannya. Vani melangkah pelan sambil terus menenteng dua tas kresek tadi. Tiba-tiba saja dari arah depan sana Vani melihat seorang pria berbadan besar berlari ke arahnya, lantas di belakangnya terdengar teriakan nyaring dari seorang perempuan paruh baya.


"Jambret! Jambret!" teriak perempuan itu lagi sembari tangannya menunjuk ke arah pria asing tadi.


Mungkin karena buru-buru pria tadi menabrak Vani hingga belanjaan yang tengah ia pegang terpental jauh dan berserakan di atas tanah. Vani dan pria tadi sama-sama jatuh terduduk di tanah becek, hingga gamis yang Vani kenakan kotor.


"Hei, jalan lihat-lihat dong!" maki pria itu pada Vani. Kedua matanya melotot tajam kearahnya.


Vani sontak terkejut, rasanya ingin marah, tapi segera ia urungkan. Vani malah bangkit, begitupun dengan pria itu.


"Anda yang nabrak saya! Kenapa malah marah?!" balas Vani tak mau kalah.

__ADS_1


"Mba, dia jambret!" teriak seorang perempuan paruh baya dari kejauhan. Perempuan itu terlihat susah payah berjalan mendekatinya.


Meski sedikit takut, Vani paksakan untuk merampas tas berwarna hitam yang di yakini milik perempuan tadi.


"Hei, lepas!!" Pria itu berusaha mempertahankan tas yang ada di tangannya. Vani tidak menyerah, sekuat tenaga ia juga mempertahankan benda itu, hingga ...


Brukkk!!


Vani terjengkang ke atas tanah becek itu lagi. Saat ini bukan hanya gamis, tapi juga kerudungnya sudah penuh dengan tanah pasar yang sangat bau. Namun Vani bersyukur karena tas itu kini sudah ia dapatkan.


"Sialan! Awas kau!" Dengan geram pria tadi mengancam Vani.


Mungkin pria tadi terpaksa melepaskannya karena melihat beberapa orang yang tengah berlari ke arahnya. Sepertinya mereka juga tengah mengejar penjahat itu.


"Mba, nggak apa-apa?" Perempuan paruh baya tadi ternyata sudah ada di depan Vani. Tanpa sungkan dia ikut membantunya untuk berdiri.


"Ini tas punya Ibu, kan?" Vani menyodorkan tas berwarna hitam yang berhasil ia rebut dari pria berbadan besar tadi.


Ibu itu tersenyum memandang Vani dengan terkesima, "Terimakasih, Mba. Tapi, baju Mba jadi kotor." Ibu tadi menatap iba kearah Vani yang terlihat berantakan sekali. Tapi, Vani segera membalasnya dengan senyuman.


"Nggak apa-apa, Bu, hanya baju kotor. Nanti bisa di cuci kok." Meski dalam hati juga bingung bagaimana akan pulang nanti dengan keadaan seperti itu. Lalu Vani teringat dengan barang belanjaan yang tercecer di depan sana.


"Ya Tuhan ...! Belanjaan milikku hancur!" Vani hanya berbisik dalam hati. Ia tidak mau jika Ibu tadi sampai mendengarnya. Vani memutuskan untuk memilih yang masih bisa ia ambil.


"Mba, jangan ...!"

__ADS_1


__ADS_2