
Faisal langsung menarik tangan Maya dan mengajaknya untuk segera pulang. Tanpa menjawab pertanyaan sang ibu, Faisal pergi begitu saja di iringi tatapan tak percaya semua orang yang berada di sana.
"Apa-apaan kamu, May!" Faisal menyentak kasar tangan Maya saat keduanya sudah sampai di dalam rumah. Napas laki-laki itu naik turun, entah karena menahan amarah atau menahan malu karena aib yang selama ini tersimpan rapat malah di beberkan oleh istrinya sendiri.
"Apa yang aku omongin benar, kan? Lantas kenapa kamu harus marah?" Maya sudah tidak peduli apa yang akan di lakukan Faisal padanya. Maya terlanjur sakit hati oleh semua kata-kata dari ibu mertuanya sendiri.
"Kamu bisa 'kan nggak ucapin kata-kata itu di depan semua orang? Kalau udah kayak gini mau di taruh di mana muka suami kamu ini, May?!" ucap Faisal penuh geram. Ia menjambak rambutnya frustasi, apa yang akan ia jelaskan pada ibu serta orang-orang nanti.
"Suami?" Maya tersenyum sinis, kenapa baru sekarang Faisal mengakui statusnya. Dari dulu ke mana saja saat sang ibu terus-terusan menghinanya dengan mengatainya mandul.
"Itu bukan urusanku, Mas. Hadapi aja ibu serta orang-orang yang pasti akan menanyakan kebenaran itu," balas Maya lagi dengan sangat santai.
Rahang laki-laki itu mengetat sempurna, deru napasnya kian memburu mendengar ucapan istrinya yang seolah sama sekali tidak peduli dengan harga dirinya nanti.
"May ...!!"
"Aku bukan Vani, Mas, yang bisa seenaknya mereka hina. Dan kamu perlu tahu, aku tak sudi selalu di jadikan kambing hitam atas ketidakmampuan yang kamu miliki," jelas Maya sebelum pergi meninggalkan Faisal yang masih berdiri terpaku di ruang tamu.
__ADS_1
Benar yang di katakan Maya. Kenapa baru sekarang Faisal menyadari jika dulu ia selalu berbuat tidak adil pada Vani. Ia selalu mendahulukan kepentingan ibu serta adiknya, sedangkan ia membiarkan semua orang menuduh Vani mandul hanya karena ketidakmampuannya.
.
.
.
Ternyata yang di takutkan Faisal terjadi juga setelah Maya mengatakan pada semua orang mengenai keadaan dirinya saat ini. Sore harinya setelah pulang kantor Ibu serta Luna langsung datang ke rumah dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Bahkan seharian ini sudah berapa orang yang ngomongin kamu. Ini semua gara-gara omongan ngelantur istrimu. Wanita macam itu, lebih baik kamu ceraikan saja. Ibu nggak sudi punya menantu seperti dia," sambung perempuan itu lagi.
Luna yang berdiri di sebelahnya hanya bungkam. Setelah pemeriksaan kakak iparnya waktu itu Luna memang terlihat lebih pendiam. Entah kenapa sikapnya juga sedikit berubah dan tidak lagi sering datang ke rumah Faisal untuk merecoki Maya.
"Lun, kamu pasti juga nggak percaya, kan, sama omongan kakak ipar kamu? Lagian mana mungkin imp0ten, nggak masuk akal sama sekali."
Pertanyaan sang ibu membuat Luna langsung mendongak. Sebenarnya ia juga tak ingin percaya, namun melihat kenyataan di depan mata, apa mungkin yang di katakan kakak iparnya benar? Bahwa Faisal adalah lelaki imp0ten hingga tidak bisa memiliki anak meski sudah menikah dua kali.
__ADS_1
"Tuh, Luna juga nggak percaya. Dasar wanita kurang ajar, awas aja nanti kalau udah cerai sama kamu, ibu yakin nggak akan ada laki-laki yang mau lagi sama dia."
"Tapi aku nggak akan bercerai dengan Maya, Bu," sambar Faisal tiba-tiba. Baginya cukup sekali kesalahan yang ia perbuat pada Vani dulu. Ia tidak akan mengulanginya lagi dengan Maya. Biarlah nanti ia akan berusaha memperbaiki rumah tangganya lagi.
"Kenapa? Kamu bisa cari wanita lain yang lebih cantik daripada dia. Lagian buat apa kaya kalau hidup kamu tetap kayak gini aja, nggak ada perubahan sama sekali," dengus perempuan paruh baya itu.
Dari balik pintu Maya sudah mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak menyangka jika keluarga Faisal memang berniat memanfaatkan kekayaan yang ia miliki. Beruntung sang papa belum memberikan kepercayaan penuh untuk laki-laki itu.
"Cari wanita yang lebih kaya, yang lebih berkelas. Ibu yakin di luar sana masih banyak wanita yang mau nikah sama kamu."
"Cukup, Bu ...!!" Akhirnya Maya tidak bisa menahan diri lagi untuk tetap bungkam. Biarlah dirinya di anggap menantu kurang aja. Toh, selama ini memang keluarga Faisal hanya mau dengan uangnya saja. Dan setelah ia tidak memiliki uang lagi mereka menghinanya habis-habisan.
"Kalau menurut Ibu aku akan menyesal bercerai dengan Mas Faisal, itu salah besar. Aku justru senang bisa terbebas dari keluarga toxic macam kalian!!"
Maya beralih pada laki-laki yang beberapa bulan lalu menemani hari-harinya. Faisal nampak menunduk dengan raut wajah sendu,
"Dan kamu, Mas," tunjuk Maya di depan wajah laki-laki itu, "Aku akan segera urus perceraian kita!"
__ADS_1