
"Astaga ..!" Vani mengeram kesal melihat ayam goreng yang ia masak pagi tadi hanya tersisa sepotong saja. Dalam hati Vani mengumpat, kenapa tadi tidak ia sembunyikan saja masakan ini? Karena bukan sekali dua kali, tapi Luna sudah sering melakukan itu, mengambil makanan yang sengaja Vani siapkan di atas meja makan dengan tidak kira-kira.
"Ada apa, Van?" Faisal muncul dari dalam kamar dan ikut menatap kearah meja makan yang ada di depannya. Wajah Faisal sudah terlihat cerah seperti biasanya. Vani lega, ia berharap kejadian semalam tidak akan merubah apapun di antara mereka.
"Ada kucing yang nyuri makanan kita lagi?" tanya Faisal pada sang istri.
"Iya kucing. Kucing garong, Mas!" Vani menjawab ketus. Moodnya benar-benar rusak. Vani menghentakkan kakinya keras kearah lantai. Kesal, marah, frustasi campur aduk jadi satu.
"Udah, sekarang kita makan aja ya?" Faisal membimbingnya untuk duduk. Vani menurut saja saat tangannya mulai mengambil nasi dalam magic com dan meletakkan ke atas piring.
"Ayamnya buat Mas aja." Vani menolak satu potong ayam yang akan Faisal berikan padanya. Buru-buru Vani menggeser piringnya dan menyendok orek tempe yang ia masak tadi pagi.
"Kita bagi dua aja ya, Van?" Tangan Faisal sudah menyambar potongan ayam itu dan berniat membaginya, tapi Vani segera menolaknya lagi,
"Tidak usah, Mas, lagian aku bosan makan ayam goreng terus." Vani terpaksa berbohong. Padahal yang sebenarnya sengaja mengalah, biarlah kali ini ia makan dengan sayur saja.
"Oh baiklah." Vani melihat Faisal makan dengan lahap.
Setelah urusan semua beres dan mengantar Faisal sampai di depan pintu, Vani membawa langkah masuk ke dalam lagi. Wanita itu mengganti pakaian rumahan dengan gamis panjang, lantas menyambar tas kecil yang biasa Vani bawa ke mana-mana.
Jika biasanya jam sepuluh Vani baru tiba di rumah majikannya, pagi ini Vani berangkat lebih awal karena janji untuk menggantikan tugas Bi Minah yang sedang pulang kampung.
Vani juga sudah mencatat apa saja yang harus ia masak untuk majikannya nanti. Sebelum Bi Minah menutup sambungan telepon malam tadi, perempuan paruh baya itu sudah memberitahu apa saja yang biasa majikannya makan.
__ADS_1
"Kenapa orang kaya senang sekali memilih-milih makanan?" Vani berdecak heran sendiri saat membaca daftar tulisan itu. Semua harus sesuai takaran, pesan Bi Minah lagi.
"Seperti apa sih Pak Renan itu? Apa dia tampan? Ah tidak mungkin! Pasti dia galak, buktinya Bi Minah sampai mewanti-wanti padaku."
Padahal sudah dua bulan lebih Vani bekerja di tempat itu, tapi herannya belum pernah sekali saja melihat seperti apa wajah majikannya sendiri. Karena saat Bi Minah membawanya ke sana untuk membantunya bersih-bersih, Pak Renan hanya mempercayakan saja keputusan itu pada Bi Minah.
Sebagai seorang dokter sekaligus pemilik dari rumah sakit, terkadang membuat Pak Renan jarang sekali ada di rumah. Laki-laki itu selalu sibuk menggeluti pekerjaannya. Mungkin hanya akhir pekan saja mempunyai waktu luang, itupun jika tidak ada pasien yang memerlukan penanganan khusus dari dirinya.
Vani mengayun langkah menuju pintu dan berniat menguncinya. Namun, belum juga menyelesaikannya, dari arah belakang sana terdengar suara ibu mertuanya memanggil, suara itu seperti meruntuhkan kembali moodnya yang sejak tadi Vani berusaha perbaiki dengan susah payah.
"Van, Ibu minta duit dong? Nanti kalau Faisal udah gajian Ibu ganti!"
Vani tersentak. Tubuhnya lemas rasanya. Baru saja Vani bersyukur karena uang bulanan berhasil di sembunyikan dari Luna, eh ... sekarang malah datang Ibu ingin meminjamnya lagi.
"Tuh masih ada. Ibu pinjam dulu lah, lagian kamu 'kan nggak butuh-butuh amat!" Dengan gampangnya Ibu berbicara seperti itu. Padahal tadi Vani sudah jelaskan jika uang yang tersisa itu untuk jatah sampai akhir bulan.
"Ayo buruan! Ibu mau bayar pesanan online, udah nunggu tuh di depan rumah!" Ibu bersuara lagi.
Vani kebingungan, jika uang itu ia berikan, nanti bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari? Tapi, kalau Vani menolaknya, pasti urusannya akan tambah panjang.
"I–iya, Bu. Sebentar." Terpaksa Vani merogoh dompet yang tadi sudah aku Vani masukkan ke dalam tas. Aduk, dan aduk lagi karena dompetnya memang agak kecil, yang kadang terselip di antara barang lain.
"Emang pesanan online Ibu berapa?" tanya Vani pada sang ibu saat sudah menemukan dompet miliknya. Di tangan sudah ada empat lembar uang berwarna merah yang Vani tarik dari tempatnya. Dan bodohnya, Vani malah memamerkan semua uang yang tersisa.
__ADS_1
"Dua ratus delapan puluh lima ribu!" jawab Ibu sambil melirik lembaran yang ada di tangan Vani.
"Apa?! Dua ratus delapan puluh lima ribu?!" Itu artinya hanya tersisa seratus lima belas lagi jatah untuk akhir bulannya. Vani sedikit mundur saat mendengar nominal yang Ibu katakan. Sedikit keberatan Vani menimang uang di tangannya. Tapi, tiba-tiba saja ...
"Udah sini, lama amat sih!" Ibu merebut paksa uang yang masih berada di tangan wanita itu. Vani sempat terkejut, kini tiga lembar uang berwarna merah itu sudah berpindah tangan pada Ibu.
"Itu cukup sampai akhir bulan, kan? Jangan boros, Van!" Dengan tidak tahu malunya Ibu menasehati agar menantunya tidak boros. Padahal apa yang dia lakukan?
"Tapi, nanti ....?" Vani hanya ingin bilang sisa pembayaran itu agar di kembalikan. Sungguh, biarpun hanya lima belas ribu itu jumlah yang cukup besar baginya.
"Alahhh ini juga uang dari anakku, kan? Jangan pelit-pelit, sih! Lagian sebentar lagi kamu gajian 'kan?" Ibu pergi begitu saja tanpa mengucap terimakasih, persis seperti perlakuan Luna tadi.
"Dasar, emak sama anak sama aja, ga sopan!" Vani mengumpat lirih. Iya, mana berani jika berbicara langsung. Takut ada orang lain yang mendengar, apalagi Ibu, bisa-bisa perang dunia lagi.
Vani melangkah gontai menyusuri komplek perumahan elit miliknya. Jika orang lain yang melihat, mungkin mereka tidak akan percaya jika ternyata Vani tinggal di perumahan sebagus ini tapi bekerja jadi seorang pembantu. Tapi, itulah kenyataannya. Jika ia tidak bekerja, siapa yang akan membantu perekonomian keluarganya?
"Nikah bukannya bahagia, tapi malah merana gini!" Sepanjang jalan Vani hanya bisa menggerutu, meluapkan kekesalannya sejak tadi.
Sampai di luar gerbang, Vani segera menyetop angkutan umum yang kebetulan lewat di depan sana. Langsung masuk, Vani memilih duduk di kursi paling pojok. Sepanjang jalan menuju rumah kediaman majikannya, ia merenung lagi. Memutar ingatan pada masa-masa itu. Saat dulu ia tinggal berdua dengan ibunya. Meski hidup mereka pas-pasan, tapi Vani tidak pernah merasa segalau ini.
"Ibu ... apa kabar?" Vani berbisik pelan. Ia mengusap sudut matanya sebelum cairan bening itu berhasil melewati pipi.
Sampai akhirnya angkutan yang membawanya tiba di depan gerbang rumah mewah milik Pak Renan. Vani segera masuk setelah membayar ongkos dengan selembar uang yang tersisa di dompet. Kini selembar uang itu sudah berkurang lagi jumlahnya.
__ADS_1
Aku harus bagaimana?