
"Lagian ngapain sih kamu buka-buka aib keluarga kamu sendiri?!" seru Bu Widia pada wanita berjilbab merah maroon di depannya.
"Siapa yang buka-buka aib keluarga, Bu? Aku nggak ngomong apa-apa ke dia." Vani berusaha protes, meski tidak tahu sang ibu akan mempercayainya atau tidak.
"Alahhh, alesan aja kamu, Mba. Ngaku aja kalau kamu lagi caper sama Bagas." Luna malah semakin memojokkan Vani.
"Beneran, Bu. Mba Vani nggak ngomong apa-apa ke aku. Sumpah!"
Bagas berani bertaruh apapun demi menyelamatkan Vani. Termasuk mengorbankan dirinya sendiri ia tak peduli. "Aku aja yang sok tahu!" Bocah itu nyengir tanpa dosa.
"Kamu lagi, ngapain sih ada di sini! Kamu tahu, kan, kalau Vani udah punya suami?!" Suara Bu Widia nyaris merobohkan pertahanan Bagas.
Mungkin jika bukan karena Vani, laki-laki itu sudah melarikan diri sejak tadi.
"Bu, jangan marahin Bagas dong? Mba Vani aja yang kecentilan," bela Luna untuk laki-laki muda di depan sana.
"Jadi, kamu belain bocah itu, Lun?!" Bu Widia menggeleng tak percaya.
"Namanya Bagas, Bu. Dia teman sekelas aku," ucap Luna untuk sekian kalinya.
Bu Widia mengamati penampilan Bagas sejenak. Keren sih, kalau di lihat dari tampangnya juga terlihat anak orang kaya. Tapi, kenapa malah nempelnya sama Vani? Bukan sama Luna saja yang masih sendiri.
"Sana kamu pulang! Ngapain masih di sini!"
"Lho, Bu, kenapa malah Bagas yang di usir?" protes Luna pada sang ibu.
"Terus Ibu harus usir siapa? Kamu?" Bu Widia membalikkan pertanyaan itu pada putrinya.
"Ihhh Ibu, aku 'kan masih pengen lihat Bagas, Kenapa malah dia di usir coba?!" gerutu Luna dalam hati.
"Dan kamu, hebat yah sekarang udah berani bertingkah. Mentang-mentang udah bisa cari duwit sendiri?!" tunjuk Bu Widia pada wajah menantunya.
Vani langsung gelagapan mendengarnya. Udah berani bertingkah, apa maksudnya coba?
"Kenapa bengong? Kamu mau ngelak lagi? Ck, Ibu pikir kamu istri yang baik. Ternyata melayani suami aja malas-malasan!"
"Maksud Ibu apa, sih?! Vani nggak ngerti?" Wanita itu berpikir keras, berusaha mencerna setiap ucapan mertuanya baru saja.
"Apa benar yang Luna bilang, kalau sekarang kamu jarang masak? Jarang buat sarapan pagi untuk suami kamu?!"
Vani menghembuskan napas lega. Ia pikir ibunya sudah tahu mengenai ....
__ADS_1
"Aku emang jarang masak, Bu. Males!" Bukannya membela diri, Vani justru terang-terangan mengakuinya.
"Tuh, kan bener yang aku bilang." Luna merasa bangga saat Vani jelas mengakuinya sendiri. "Mba Vani emang sekarang jadi males, Bu."
"Aku capek, Lun. Dari pagi sampai sore udah kerja. Masa harus maksa diri buat masak juga?"
Entah keberanian dari mana tiba-tiba Vani mengatakannya langsung di depan Bu Widia dan juga Luna. Padahal seharusnya ia mencari alasan agar tidak terkena marah dari mertuanya itu.
"Dasar, menantu nggak tahu diri! Masak itu tugas wanita, Van. Jangan sok-sokan manja gitu dong! Emang kamu pikir siapa, hahh?!"
Seperti yang Vani duga, Bu Widia langsung melotot dan menghujamnya dengan berbagai omelan.
"Udah ah, terserah Ibu aja! Vani capek, mau masuk dulu!"
Bukan tidak sopan, hanya saja Vani memilih menghindar daripada perdebatan tambah sengit.
Bu Widia dan Luna masih ngomel panjang lebar, bahkan saat Vani sudah menghilang di balik pintu.
.
.
.
"Apa kamu tidak coba tanya apa penyebabnya tiba-tiba dia menghilang? Kamu punya nomor kontaknya, kan?" Renan masih kekeuh saja mencari informasi mengenai Faisal. Bahkan sengaja mengajak Dokter Dimas untuk bertemu.
"Punya. Tapi, untuk apa? Yang punya keluhan itu dia. Kenapa juga aku yang harus repot-repot hubungi dia!"
Dimas tak ambil pusing mengenai satu pasiennya itu. Jika tak menghubunginya lagi, artinya Faisal memang tidak pernah serius ingin berobat. Atau mungkin ia sudah berobat di tempat lain?
"Apa penyakitnya bisa di sembuhkan? Maksudku butuh berapa lama hal semacam itu bisa sembuh?" tanya Renan lagi. Nampaknya laki-laki itu ingin tahu semuanya mengenai Faisal.
"Sepertinya kamu peduli sekali padanya? Atau, ada sesuatu yang nggak aku tahu?" balas Dokter Dimas dengan tatapan yang menyelidik.
"Tidak! Sama sekali aku tak peduli! Hanya saja ...."
Renan urung mengatakan alasannya. Toh, Dimas tidak akan pernah mengerti apa yang tengah ia rasakan saat ini.
"Ren... sudah lama sekali kita berteman. Kamu masih tak percaya padaku?"
"Bukan tak percaya, hanya saja ....?"
__ADS_1
"Apa?"
"Aku menyukai wanita itu," ungkap Renan lirih.
"Wanita? Yang mana?" Dokter Dimas berpikir keras, setahunya Renan tidak sedang dekat dengan wanita manapun kecuali Mika.
"Maksudmu, Mika?"
Tapi, Renan menggeleng pelan. Hal itu sontak membuat laki-laki di depannya mengerutkan kening penuh kebingungan.
"Aku menyukai istri dari laki-laki itu."
Uhukkk!
Kopi yang baru saja hendak melewati kerongkongan itu terpaksa berbalik dan ia semburkan begitu saja.
"Maksudmu, istri dari pasienku yang bernama Faisal?" tanya Dokter Dimas memastikan.
"Ya ...!" Renan mengangguk mantap.
Kedua mata Dokter Dimas membelalak sempurna. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Renan saat ini sampai-sampai menyukai seorang wanita bersuami.
"Kamu gila!" pekiknya kemudian.
Dokter Dimas menghela napas berkali-kali karena terlalu shock mendengar pengakuan Renan baru saja.
"Apa kamu sungguh tidak waras, Ren! Bahkan banyak wanita-wanita yang rela mengantri hanya demi mendapatkan perhatianmu. Tapi, kamu malah menyukai wanita bersuami."
"Aku juga tidak tahu kenapa harus Vani."
"Vani ...?"
"Ya, wanita itu bernama Vani."
"Tunggu ....!" Dimas diam sesaat mengingat kapan ia pernah mendengar nama itu. "Maksudmu, pembantu di rumahmu?"
Dokter Dimas ingat sekali wanita bernama Vani adalah pembantu di rumah Renan sendiri. "Atau, ada lagi kenalanmu yang bernama Vani?" tanyanya lagi.
"Ya, dia memang pembantu di rumahku. Kenapa? Ada yang salah?" jawab Renan dengan sangat jelas.
"Hei, jelas salah! Kamu boleh suka dengan siapapun, tapi tak harus dengan wanita bersuami, kan, Ren?!"
__ADS_1
"Aku tak peduli, meskipun dia bersuami!"
Jika menunggumu adalah sebuah kesia-siaan, maka jalan satu-satunya yang bisa kulakukan adalah membersamaimu selamanya ...