Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Mimpi Buruk Renan


__ADS_3

"Maaf, Van, tadi aku nggak sengaja bentak kamu." Faisal mendekat kearah Vani yang duduk dalam posisi membelakanginya. Vani kesal sekali sebab Faisal sudah tega membentaknya di depan ibu dan juga Luna secara terang-terangan.


"Kamu mau maafiin aku 'kan , Van?" Faisal masih memelas, berharap Vani akan segera luluh. Sungguh melihat Vani seperti ini membuat Faisal merasa sangat bersalah.


"Van ..."


"Udah lah, Mas. Terserah kamu aja. Lagipula aku ini siapa sih?" Vani melengos. Ia sadar jika selama ini selalu di nomer duakan oleh suaminya sendiri. Faisal selalu memprioritaskan ibu dan adiknya–Luna.


"Aku nggak ada maksud nyakitin kamu. Aku hanya kasihan sama Luna yang setiap hari jadi bahan ejekan temen-temennya karena dia sendiri yang belum punya mobil.


"Ck!" Vani malah berdecak. Kasihan hanya karena belum punya mobil? Sedangkan dirinya harus berhemat hanya karena uang bulanan yang pas-pasan.


Dan sejak memiliki mobil sendiri sikap Luna semakin menjadi saja. Meski Vani sedikit lega karena setiap pagi Luna tidak lagi merecokinya perihal uang saku sekolah, tapi tetap saja Vani tidak suka dengan sikap Luna yang seringkali pamer pada penghuni komplek perihal mobil barunya.


"Lihat dong, Bu, mobil aku bagus, kan? Itu Mas Faisal yang beliin lho?"


Seperti pagi ini, entah sedang apa Luna sudah berdiri di antara ibu-ibu yang tengah berbelanja di tukang sayur. Padahal biasanya gadis itu belum bangun jika libur sekolah seperti sekarang.


"Wah .. jadi itu mobil dari Faisal, Lun? Keren yah Kakak kamu bisa kasih hadiah mobil ke adiknya," decak salah satu ibu yang juga tengah berbelanja.


"Iyalah. Itu kan aku sendiri yang pilih. Mas Faisal tinggal bayar aja. Mas Faisal itu emang baik banget pokoknya, Bu."


Luna masih memuji-muji kakaknya sendiri. Seolah Faisal adalah sosok yang sangat sempurna. Padahal mereka belum tahu saja seperti apa pelitnya lelaki itu.


"Berarti besok kapan-kapan giliran kamu dong, Van. Minta mobil sama suamimu." Seorang perempuan paruh baya menyenggol pelan Vani. Wanita itu hanya melengos dan memilih tidak menanggapinya.


"Kalau Mba Vani mobil buat apaan, Bu? Nyetir aja enggak bisa. Nanti yang ada malah nabrak gimana?" Luna tersenyum mengejek kearah Vani. Merasa telah menang karena punya jurus andalan untuk menjatuhkan Vani.


Kurang ajar, batin wanita itu menatap pada adik iparnya. Vani cepat-cepat membayar barang belanjaannya, lantas mengayun langkah pergi tanpa mengucap sepatah kata pun.

__ADS_1


"Jangan gitu, Lun. Bagaimana pun Vani itu kakak ipar kamu," ucap salah satu dari mereka.


"Ya, aku harus gimana dong? Mba Vani emang kaya gitu, dikit-dikit marah. Dikit-dikit baper, kaya ABG," jawab Luna menatap punggung kakak iparnya yang perlahan menjauh dari pandangannya.


Pagi-pagi mood Vani benar-benar sudah rusak oleh kata-kata Luna tadi. Niatnya memasak untuk sarapan juga seketika menguap karena Vani malah membiarkan bahan-bahan itu masih tergeletak begitu saja di atas meja dapur. Vani hanya duduk dan melipat kedua tangannya di atas meja.


"Lho, Van kamu nggak masak?" Faisal sudah rapi mengenakan setelan kerjanya. Laki-laki itu melangkah menuju dapur memang untuk sarapan pagi. Tapi, melihat di atas meja yang masih kosong Faisal jadi bertanya-tanya sendiri. Ada apa gerangan?


"Males, Mas. Beli aja, kamu 'kan banyak duwit," sindir Vani pada laki-laki itu.


"Ya udah, kalau emang males nanti aku sarapan di kantor aja. Atau, bisa juga sarapan di tempat ibu." Faisal justru memberikan ide yang justru membuat Vani semakin gila saja.


"Sarapan di rumah Ibu?! Yang benar aja sih, Mas? Kamu mau bikin ibu ngomel-ngomel lagi sampai tahun depan?!" Dada wanita itu naik turun menahan kesal. Setiap hari sudah di layani sebaik mungkin saja masih salah, apalagi jika Faisal sampai numpang sarapan di rumah ibunya, entah seperti apa reaksi ibu mertuanya nanti.


"Ya, nggak apa-apa, Van. Ibu juga nggak keberatan aku sarapan di sana kok. Apalagi ngomel, nggak mungkin lah."


Vani memutar kedua bola matanya malas. Daripada terus berdebat tidak berguna, lebih baik Vani buatkan sarapan saja untuk Faisal, daripada laki-laki itu benar-benar minta sarapan pada sang ibu.


"Kamu tunggu di situ dulu, Mas. Jangan berangkat kerja sebelum masakan aku jadi!" perintah Vani yang langsung di sambut senyum bahagia suaminya.


Singkat cerita, setelah Faisal menghabiskan sarapan paginya hingga tandas dan mulai memacu kendaraannya menuju kantor, Vani juga bersiap sendiri untuk segera berangkat menuju rumah majikannya.


Seperti biasa saat Vani datang ia langsung menuju kamar belakang miliknya untuk mengganti pakaian lebih dulu. Tapi, kali ini pandangan Vani tersita oleh satu sosok yang tengah duduk di bangku taman.


"Pak Ren ...?" Vani melihat jam di dinding yang sudah menunjuk angka setengah sepuluh. Tapi, kenapa laki-laki itu masih berada di rumah?


Tidak ingin terlalu ikut campur urusan orang lain, Vani segera melanjutkan langkah lagi untuk mengganti pakaian dan bergegas mengambil peralatan kerjanya.


"Neng Vani ...?" Panggilan Bik Minah membuyarkan konsentrasi Vani. Perempuan setengah baya itu terlihat melangkah dari arah dapur dan menuju di mana keberadaan Vani yang saat ini hendak membersihkan area kolam renang.

__ADS_1


"Ya, Bik?"


"Bisa minta tolong anterin sarapan Bapak? Soalnya dari pagi tadi Pak Renan belum ke meja makan. Bibik mau keluar sebentar," pinta Bik Minah pada Vani.


"Eh iya, Bik. Tapi, tumben Pak Ren hari ini nggak ke rumah sakit? Apa libur?" tanya Vani penasaran.


"Itu ... anu ....?" Bik Minah terlihat kebingungan sendiri. Entah apa yang sebenarnya tengah di pikirkan perempuan itu.


"Ya udah, mana, biar Vani yang anterin ke taman. Pak Ren tadi ada di sana." Vani memilih mengakhirinya daripada tidak enak sendiri melihat sikap Bik Minah yang canggung.


"Makasih ya, Neng." Vani melangkah mengikuti Bik Minah menuju dapur.


Dengan membawa nampan yang berisi sarapan serta susu milik majikannya, Vani melangkah hati-hati menuju taman belakang di mana tadi ia melihat laki-laki itu. Tapi, saat Vani tiba di sana, lelaki itu sudah tidak berada di tempatnya.


"Ke mana Pak Ren?" Vani bertanya dalam hati. Vani memutar langkah, kali ini tujuannya adalah kamar milik laki-laki itu.


Tok


Tok


"Ini sarapan paginya, Pak," ucap Vani dari luar. Cukup lama tidak ada sahutan, hingga akhirnya suara Renan terdengar menjawab dari dalam sana.


"Bawa masuk aja, Sayang."


Jantung Vani nyaris berhenti berdetak mendengar panggilan Renan untuk dirinya. "Sayang ...?" Vani berbisik bingung.


"Masuk aja, Yang, nggak di kunci," ucap laki-laki dari dalam sana lagi.


Dengan langkah ragu Vani mendorong pintu kamar. Tapi, Vani di buat terkejut lagi dengan pemandangan di dalam sana.

__ADS_1


"Bukannya tadi Pak Ren suruh aku masuk. Tapi Kenapa ....?"


__ADS_2