Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Pak Ren Merayu Saya?


__ADS_3

Renan menatap dua wanita berbeda penampilan itu yang saling memperebutkan sesuatu di tangannya.


"Pak Ren ....?"


"Renan ...?"


Keduanya menoleh serempak. Mika melepaskan tangannya dan kembali bersikap biasa saja. Sedangkan Vani, wanita itu menunduk setelah menyebut nama laki-laki yang tengah berdiri menatapnya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut?" Renan mengulang pertanyaannya lagi. Tapi, Mika justru menjawab lebih dulu apa yang menjadi penyebab keributan tersebut.


"Dia tiba-tiba datang dan maksa buat ketemu kamu, Ren. Padahal aku udah bilang kalau kamu lagi sibuk. Eh, malah dia nggak percaya."


Mendengar pembelaan Mika, Vani hanya bisa diam dan meremas jemarinya.


Bagaimana kalau Renan percaya dan memarahinya.


"Van ...?"


"Saya cuma mau anterin pesanan Pak Ren." Menyodorkan rantang susun yang ia bawa dari rumah dengan wajah masih menunduk. Terserah mau percaya atau tidak, yang penting ia sudah melaksanakan tugasnya hingga selesai.


"Kalau begitu saya permisi, Pak." Vani berniat langsung pulang daripada kehadirannya hanya menjadi pengganggu untuk laki-laki itu.


"Mau ke mana?"


Vani sontak menghentikan langkah. Ia berbalik lagi menatap wajah Renan.


"Kamu ikut aku masuk dulu, Van!" Tiba-tiba Renan mencekal pergelangan tangan Vani.


"Tapi, Pak ...?"


"Ren, apa-apaan kamu?! Kenapa malah ngajak dia masuk? Bukannya langsung suruh pulang aja!' Mika melayangkan protes saat mendengar Renan malah mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Sebaiknya saya langsung pulang aja, Pak," ungkap Vani saat melihat situasi yang kurang mengenakkan.


"Nah gitu, sadar diri aja lah!" Sambar wanita bernama Mika lagi.


"Aku ada perlu sama dia." Menunjuk wanita berpakaian gamis panjang tadi. Lagi-lagi suara Renan berhasil membuat wanita di sebelah sana mendelik tak percaya.


"Aku ikut."


"Nggak! Cepat selesaikan tugas yang aku berikan tadi!" perintah Renan pada wanita bernama lengkap Mikayla itu.


"Tapi, Ren?"


Tatapan tajam Renan cukup membuat Mika merengut dan akhirnya menuruti perintahnya.

__ADS_1


"Awas kamu! Jangan besar kepala dulu!" Mika berbisik pelan pada wanita di sebelahnya.


Vani tidak peduli walaupun wanita di sebelah sana memandangnya tidak suka. Ia terus saja melangkah mengikuti Renan yang masuk ke dalam sebuah ruangan yang besar.


"Kamu nggak apa-apa, kan, Van?" Renan langsung memberondong Vani dengan pertanyaan saat keduanya sudah masuk ke ruangan miliknya.


"Saya nggak apa-apa, Pak. Mungkin sebaiknya tadi saya langsung pulang," ucap Vani membalasnya.


"Sebaiknya kita makan dulu. Kamu pasti belum makan 'kan, Van?"


"Tapi, Pak?"


"Udah. Nggak usah mikirin Mika, dia orangnya emang kaya gitu," balas Renan hingga membuat Vani hanya bisa menghela napas berat.


"Gimana nggak kepikirang coba, orang dia jutek gitu tadi. Pasti sekarang wanita itu tambah kesal karena Pak Ren malah membelanya." Vani berbisik pelan di dalam hatinya.


Vani dan Renan saling bungkam hingga isi piring di hadapan masing-masing tandas tanpa sisa.


Vani tersenyum senang melihat Renan yang begitu menikmati masakan yang ia bawa tadi.


"Pak, saya ijin pulang," ucap Vani tiba-tiba.


Padahal Renan masih ingin wanita itu ada di sana dan menemaninya.


"Kenapa buru-buru sekali, Van? Kamu takut sama Mika?"


"Nggak lah, Pak. Kenapa juga harus takut? Dia nggak gigit kok!"


"Lantas, kenapa buru-buru?"


"Saya masih ada kerjaan di rumah, Pak. Tadi ke sini buru-buru takut Pak Ren udah nungguin makan siangnya," ucap Vani mengungkap alasannya.


"Sebenarnya bukan makan siang yang aku tunggu, Van. Tapi, kamu ..."


Vani tersentak sendiri mendengar jawaban Renan. Kedua pipinya bersemu merah mendengar ucapan Renan baru saja. Apa saat ini laki-laki itu sedang merayunya?


"Apa Pak Ren lagi merayu saya?" tanya Vani pada lelaki itu.


"Aku nggak bisa merayu, Van. Apalagi bersikap romantis seperti para laki-laki lain. Tapi, percayalah ... itu semua berasal dari sini." Meraih tangan Vani dan meletakkannya tepat di dada milik laki-laki itu.


Vani sontak menarik tangannya. Tiba-tiba jantungnya berdebar tak beraturan mendengar ungkapan Renan baru saja.


"Van ...?"


"Ya ...?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Renan bangkit dan langsung memeluk tubuh wanita itu.


"Aku kangen kamu, Van? Jangan pulang dulu," lirihnya di sela-sela pelukannya.


"Pak ...!"


"Sebentar aja, Van. Nggak apa-apa, kan, cuma peluk aja? Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu."


Lagi-lagi Vani hanya bisa bungkam membiarkan laki-laki itu terus memeluknya.


Tanpa sadar di luar ruangan Mika sudah mencuri dengar pembicaraan mereka sejak tadi.


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya. Pantas saja wanita itu begitu berani melawannya. Pantas saja perlakuan Renan berbeda meski wanita itu hanyalah seorang pembantu. Jadi, ini alasannya? Mereka punya hubungan yang spesial.


"Jadi, karena dia kamu selalu nolak aku, Ren?!" bisik Mika dari balik pintu dengan tatapan geram kearah ruangan itu.


"Jika aku nggak bisa dapetin kamu, maka dia juga nggak akan aku biarkan mendapatkanmu, Ren!"


.


.


.


"Besok lagi ya, May. Ini udah hampir malam lho?" Faisal sama sekali tidak nyaman sejak tadi berdua dalam satu ruangan bersama Maya. Mengerjakan laporan akhir bulan, itu yang menjadi alasannya. Tapi Faisal seolah hanya di kerjai oleh wanita itu saja sejak tadi.


"Tanggung, Mas. Besok harus udah di serahin ke Papa. Kamu ngerti, kan?!" Anehnya wanita itu sendiri malah terlihat biasa saja. Maya bersikeras menyelesaikan pekerjaan itu. Padahal jam sudah hampir menunjuk angka enam sore, harusnya sudah dari satu jam yang lalu Faisal pulang. Tapi, Maya masih berusaha menahannya


"Iya. Tapi jam kantor udah abis, May. Aku mau pulang. Capek tahu nggak!"


"Kamu perhitungan amat sih, Mas! Iya, nanti aku bilang Papa buat nambah uang lemburan kamu bulan ini."


Maya justru menganggap Faisal mempermasalahkan perihal uang lemburan. Padahal bukan itu yang Faisal maksud. Ia benar-benar capek dan ingin segera beristirahat.


"Tapi, May ...?"


"Bentar lagi, Mas. Kalau ini sampai nggak kelar aku malu sama Papa. Masa cuma kerjaan kaya gini sampai berhari-hari."


"Lah, padahal salah sendiri. Kemarin ke mana aja?" gerutu laki-laki di sebelahnya.


"Aku banyak kerjaan, Mas. Nggak cuma ini. Kamu tahu, kan, tanggung jawabku besar. Makanya kaya Papa aku harus banyak belajar."


Faisal melengos mendengar penjelasan Maya yang panjang kali lebar tadi. Banyak belajar apanya? Bukannya setiap hari kerjaannya hanya bersenang-senang dan menghabiskan uang. Kalau sudah seperti ini saja ia yang di repotkan karena harus menyelesaikan pekerjaan Maya yang terbengkalai.


"Kamu maki aku, Mas?!" Tiba-tiba saja Maya melotot kearahnya. Faisal hanya bisa menghela napas panjang berkali-kali. Laki-laki itu memilih bungkam dan kembali menyelesaikan pekerjaan di depannya agar bisa secepatnya pulang.

__ADS_1


Satu jam berlalu, pekerjaan benar-benar selesai lebih cepat dari perkiraannya. Faisal bangkit dan berniat kembali ke ruangannya untuk mengemasi barang-barangnya yang masih tertinggal di sana.


Tapi, tiba-tiba saja Maya ...


__ADS_2