
"Eh, Mba Maya, mau pesan apa, Mba?" Pelayan bertanya ramah sekali. Tahu sendirilah, siapa wanita yang duduk berdua dengan seorang laki-laki di kantin pagi ini.
"Biasa aja, Bu. Kamu mau pesan apa, Mas?" Beralih pada Faisal.
"Eh, aku .... apa yah?" Mendadak Faisal kehilangan kata-kata. Hingga sejak tadi hanya diam dan menjawab iya iya saja saat Maya bertanya.
"Samain aja, Bu," ucap Maya pada pelayan tadi. Daripada lama, lebih baik ia pesankan sekalian
"Iya, samain aja sama Maya." Akhirnya Faisal menjawab. Nampaknya ada yang sedang Faisal pikirkan akhir-akhir ini.
"Kamu kenapa, Mas? Aku perhatiin akhir-akhir ini jarang konsen kalau di ajak ngobrol?" tanya Maya pada lelaki itu.
"Nggak apa-apa, May, biasalah."
"Ya, biasanya apa? Emangnya aku cenayang yang tahu isi pikiran orang?!" dengus Maya pada laki-laki di depannya. "Ceritalah, aku siap jadi pendengar setia," ungkapnya lagi.
"Istriku akhir-akhir ini berubah, May. Kenapa yah?"
Maya baru sedikit meneguk teh manis hangat tiba-tiba saja tersedak. Air yang harusnya ia telan malah ia semburkan lagi hingga tak sengaja mengenai jas bagian depan Faisal.
"Kamu nggak apa-apa, May?"
Wanita itu masih terbatuk sembari memukul-mukul dadanya pelan.
"Nggak. Aku nggak apa-apa, kok!" Meraih tissue di depannya.
"Berubah gimana maksud kamu? Dia selingkuh?" tanya Maya menuntut penjelasan Faisal lagi. Jika benar, bagus malahan. Itu artinya ia punya peluang besar untuk merebut Faisal darinya.
"Bukan itu."
"Lantas?"
"Sikapnya belakangan ini berubah. Vani jarang masak, jarang nyiapin keperluan kantor aku. Bahkan sikapnya cuek nggak kaya dulu."
Maya mengangguk mendengar penjelasan Faisal. Gimana kalau aku provokasi Mas Faisal sekalian? Biar makin seru, Maya menarik sudut bibirnya tipis.
__ADS_1
"Kemungkinan sih dia selingkuh," ucapnya tiba-tiba.
"Nggak mungkin, May. Vani wanita baik."
"Kenapa nggak mungkin? Dia juga wanita biasa, kan?" Maya mendengus. Ia berharap wanita itu benar-benar selingkuh dan melepaskan Faisal untuknya.
"Dia bukan hanya baik, May. Tapi juga penurut. Aku yakin bukan itu alasan Vani kayak gini."
"Iya penurut, mungkin itu dulu. Lagian buat apa punya istri kaya dia, nggak bisa kasih kamu apa-apa, kan?!"
Tiba-tiba saja Faisal yang bungkam. Bukan Vani yang tak bisa memberinya apa-apa, tapi justru dirinya lah yang tak berguna.
Makanan sudah tersaji di depannya. Faisal dan Maya tengah menikmati sarapan paginya dengan saling bungkam. Faisal memilih mengakhiri obrolan tadi karena tidak ingin masalahnya sampai melebar ke mana-mana.
Setelah selesai sarapan, keduanya beranjak dari kantin dan kembali melangkah beriringan menuju ruangannya masing-masing.
Dalam hati Maya berbisik, bagaimana caranya agar ia memiliki banyak kesempatan bersama laki-laki itu lagi.
"Mas Faisal. Nanti tolong ke ruangan aku ya?"
"Kenapa? Hari ini banyak yang harus aku kerjakan, May," tolaknya secara halus.
Binar mata wanita itu seketika redup. Dulu saja sebelum menempati posisi enak, Faisal tak pernah menolaknya. Bahkan Maya seringkali meminta pada sang papa untuk melibatkan Faisal dalam setiap pekerjaannya. Tapi sekarang ...
"Ada yang perlu kita bahas. Ini perintah Papa!"
Maya menatap Faisal dengan pandangan sinis. Coba saja kalau berani menolak, bisik wanita itu.
"Iya, nanti aku ke ruangan kamu."
"Yes!!" Maya bersorak senang. "Tidak ada yang tidak bisa aku miliki," ungkapnya penuh percaya diri setelah melihat Faisal menghilang di balik pintu ruangannya.
.
.
__ADS_1
.
Kembali ke angkutan umum tadi.
Kendaraan itu sudah melaju lagi seperti biasa. Vani dan Bagas sudah kembali dalam posisinya masing-masing meski dalam keadaan sama-sama canggung.
Vani memilih melempar pandangan ke luar jendela, menikmati lalu lalang kendaraan yang melintas di luar sana.
Sedangkan Bagas, laki-laki itu salah tingkah sendiri. Berungkali ia mengusap dadanya sendiri, berbisik pelan, "Hei hati, kamu masih baik-baik aja, kan?"
Tak dapat di pungkiri hari ini adalah hari paling menyebalkan sekaligus keberuntungan bagi Bagas. Saat ia harus rela berdesakan demi bisa satu kendaraan dengan Vani. Tapi, di sisi lain ia merasa beruntung karena insiden tadi membuatnya bisa melihat dengan jelas wajah cantik wanita itu.
"Nggak masalah kalau tiap hari ban motorku harus bocor beneran, asal bisa bareng Mba Vani terus." Bagas tersenyum senang, melirik dan melirik lagi kearah wanita di sebelahnya.
"Pak, berhenti di depan yah!"
Suara Vani membuyarkan lamunan Bagas. Laki-laki menghembuskan napas berat, "kenapa nggak macet aja sih! Biar makin lama di sini!"
"Ngomong apa kamu?!" Penumpang di depannya melotot. Merasa heran saja dengan tingkah bocah itu yang sejak tadi senyum-senyum sendiri.
"Eh, enggak, Bu. Nggak apa-apa."
Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan mewah. Vani turun hati-hati di antara penumpang lain yang menunggu gilirannya.
"Lha, kamu ngapain ikut turun?" tanya Vani heran saat melihat Bagas juga ada di belakangnya.
"Aku mau mastiin Mba Vani selamat sampai tujuan," ungkap bocah itu yang membuat Vani lagi-lagi menggeleng heran.
"Aku udah sampai, sana berangkat ke sekolah!"
"Tapi ini masih di depan, Mba. Gimana kalau tiba-tiba ada orang yang mau jahatin Mba Vani? Aku mau lihat Mba Vani sampai masuk." Bagas masih kekeuh berdiri di posisinya. Sedangkan Vani, terserah. Mau menunggu sampai pagi lagi juga ia tak peduli.
"Ekhmmm ...!" Sebuah de-haman membuat keduanya tersentak. Vani buru-buru mengalihkan pandangan ke samping, ke arah sumber suara yang yang ternyata berasal dari seorang laki-laki . Entah sejak kapan Renan ada di sana, yang pasti Vani melihat tatapan tidak suka dari majikannya itu.
"Pak Ren ...!"
__ADS_1
"Siapa bocah ini, Van?"