
Vani menyesali jawabannya sendiri. Seharusnya ia menjawab dengan alasan lain, tapi terserahlah apa yang akan di lakukan suaminya. Toh, ia tak sengaja, lagipula rumah sakit itu 'kan milik dari keluarga Renan sendiri.
Vani sengaja menunggu di teras depan, alih-alih langsung bertemu dengan suaminya, kini Vani malah harus berhadapan dengan dia, wanita yang waktu itu sempat bertengkar dengannya di rumah sakit.
"Mika ..."
Wanita itu memaksa masuk meski satpam di depan sudah berusaha melarang. Rasanya Vani ingin langsung masuk demi menghindari perdebatan, tapi terlambat karena Mika sudah lebih dulu melihat keberadaannya.
"A–pa yang kamu lakukan di sini?" Meski sedikit gugup Vani berusaha menguasai diri. Ia tidak ingin di remehkan oleh Mika, apalagi memberi kesempatan pada wanita itu untuk berbuat seenaknya.
"Apa? Mentang-mentang udah jadi istrinya Renan kamu mau berlagak?! Lihat, bahkan penampilanmu tak sesuai dengan kelakuanmu saat ini," ucap wanita di depan sana.
"Memang kenapa dengan penampilanku?" Vani memandangi penampilannya sendiri. Sejak dulu sebelum menikah dengan Renan, Vani memang sudah menggunakan hijab, lantas apanya yang salah?
"Kamu belum sadar juga?" Niatnya memang untuk memprovokasi sekaligus memberikan perhitungan pada Vani, makanya Mika sengaja datang di jam-jam seperti sekarang, saat Renan masih berada di rumah sakit.
"Dasar munafik, pakai hijab tapi jadi pelakor!" umpat Mika.
Seketika kedua mata Vani membelalak sempurna mendengar pernyataan Mika.
Maksudnya apa coba?
"Aku bukan pelakor. Lagian Aku nikah sama Mas Renan saat status kami sudah sama-sama sendiri. Anda cukup paham, kan?" Vani membalasnya tak kalah sengit.
"Alahhh .... perlu kamu tahu, sebenarnya Renan hampir nikah sama aku. Tapi, kamu hadir di antara kami dan mengacaukan semuanya." Mika seolah jadi pihak yang tersakiti, padahal sebenarnya ia pun tahu jika Renan tak pernah memiliki perasaan padanya.
"Ya kalau Mas Renan nggak jadi nikah sama Anda itu artinya kalian emang nggak berjodoh."
Mau jawab apalagi coba? Vani menunggu mulut Mika yang komat-kamit sendiri.
__ADS_1
"Itu semua gara-gara kamu, makanya aku batal nikah sama Renan." Mika tetap ngotot, matanya bahkan kini melotot kearah Vani.
"Lho, kenapa jadi salahin aku sih, Mba? Benar, kan, yang aku bilang tadi? Lagian cinta nggak bisa dipaksa, Mba. Kamu ngerti dong."
Vani menjawab santai, lain halnya dengan Mika yang sudah mulai emosi sendiri.
"Kita nggak perlu mati-matian pertahankan apa yang nggak seharusnya jadi milik kita. Cobalah ikhlas, Mba. Lagian Mba cantik kok, aku yakin di luar sana masih banyak laki-laki yang mau sama Mba. Jangan malah ngrecokin suami orang."
Mika tampak mengepalkan kedua tangannya. Vani tahu jika wanita di depannya sudah mulai terpancing dengan kata-katanya baru saja.
"Hehhh! Ngomong apa kamu?!" Mika mendorong pundak Vani cukup keras hingga wanita itu beberapa langkah mundur ke belakang.
"Neng Vani, ada apa?"
Bik Minah yang mendengar ribut-ribut langsung berlari ke depan. Dan benar saja di teras tengah terjadi adu mulut antara majikan perempuannya dengan seorang wanita.
"Ini, Bik, ada tamu nggak di undang."
"Mba Mika tolong ya jangan buat keributan di sini. Kasihan Neng Vani lagi hamil." Bik Minah malah tak sengaja keceplosan membeberkannya keadaan Vani saat ini.
"Hahhh, hamil?"
Seperti ada batu besar yang tiba-tiba menindihnya, Mika merasa sesak sekali mendengar kabar tersebut.
Bik Minah langsung membekap mulutnya rapat-rapat. Selanjutnya perempuan itu kebingungan sendiri, bagaimana kalau setelah ini Mika jadi punya niat untuk mencelakai Vani ketika tahu wanita itu tengah hamil.
"Ma–af, Neng. Bibik nggak sengaja."
"Jadi, sekarang kamu lagi hamil? Apa benar anak yang kamu kandung adalah anak Renan?" Sepertinya Mika punya cara baru untuk menyerang Vani.
__ADS_1
"Apa maksud Anda? Tentu saja ini anak Mas Renan."
"Ya ... siapa tahu aja itu benih yang di tinggal oleh mantan suami kamu dulu."
Vani malah tergelak kencang mendengarnya. Lucu saja jika Mika menyangka ini bayi Faisal, sedangkan lelaki itu saja belum sembuh dari penyakitnya dahulu.
"Apa jangan-jangan bayi itu memang bukan milik Renan?" Mika semakin gencar berusaha menyerangnya.
"Kenapa pikiran Anda sejauh itu? Apa Anda tak punya pekerjaan selain membuat pertanyaan konyol untuk menyerangku?" Vani menggeleng pelan seraya menatap sinis kearah Mika.
"Kau ...!!" Emosi Mika sudah ingin meledak saat Vani terus saja berhasil menjawab kata-katanya dengan telak. Beruntung tak lama mobil milik Renan memasuki halaman rumah setelah sang satpam membuka pintu.
"Ngapain kamu ada di sini?"
"Ren ..."
"Jangan menambah masalah dengan berusaha menyakiti istriku. Jadi, tolong pergilah sebelum aku benar-benar tak bisa menahan diri lagi." Renan tak main-main untuk langsung mengusir Mika. Baginya tidak ada lagi tempat untuk wanita licik semacam Mika yang rela menggunakan cara apapun untuk mencapai tujuannya.
"Ren, tolong dengarkan aku dulu," pintanya dengan sorot mata penuh permohonan.
"Tolong, Mik, jangan ganggu rumah tangga aku lagi."
"Tolong, kasih aku kesempatan berbicara sebentar saja, Ren."
Renan menatap Vani yang terlihat mengangguk kearahnya. Wanita itu memilih menyimak saja apa yang akan di ungkapkan Mika pada Renan.
"Baiklah. Tapi tolong, setelah ini jangan pernah ganggu rumah tangga kami lagi."
Mika nampak mengangguk, wanita itu menatap satu persatu wajah orang yang ada di sekitarnya, detik selanjutnya Mika mulai berbicara lirih dan hati-hati,
__ADS_1
"Ren .... aku nggak masalah jika harus jadi istri kedua kamu."