Maafkan Aku Mendua

Maafkan Aku Mendua
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Rasanya Vani hampir pingsan mendengar pengakuan dari Faisal. Beberapa kali Vani berusaha mengerjapkan mata, berharap apa yang ia lihat atau alami malam ini hanya mimpi buruk semata. Tapi, suara Faisal membuatnya kembali tersentak dan akhirnya menyadari bahwa apa yang terjadi kali ini memang nyata.


"Aku nggak bisa lakuin itu. Aku ini imp0ten, Van!"


"Mas kamu ...?"


Vani seolah di permainkan takdir lagi. Tuhan ... kenapa ini tidak adil sekali? Vani memekik dalam hati.


Mendapatkan mertua cerewet, adik ipar yang super duper menyebalkan. Dan, kini Vani harus di hadapkan lagi pada sebuah kenyataan pahit mengenai suaminya yang ternyata seorang lelaki imp0ten.


Sebagai wanita normal, jujur saja Vani juga menginginkan itu. Nafkah batin yang seharusnya Vani dapatkan dari Faisal sejak dulu. Tapi, harapannya langsung sirna bersama dengan hancurnya hati yang berkeping-keping.


"Maafkan aku, Van. Maaf jika selama ini aku tidak memberitahumu. Aku takut kamu kecewa dan ninggalin aku jika tahu keadaan yang sebenarnya." Terlihat tatapan sendu Faisal. Laki-laki itu menunduk menyembunyikan perasaannya yang pasti tak kalah hancur ketimbang Vani.


Kecewa? Jadi Mas Faisal memilih menyimpannya sendiri karena takut mengecewakan aku? Begitu? bisik Vani dalam hati.


Lantas, sekarang apa? Bukankah aku sudah kecewa sejak dulu? Semenjak malam pernikahan kami?


Vani tersenyum miris, sekelebat bayangan itu kembali datang dalam ingatan. Setelah usai acara resepsi pernikahannya, Faisal malah pergi dan meninggalkan Vani begitu saja.


Malam itu di kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi bisu kisah asmara keduanya, malah lengang bak tidak berpenghuni karena Vani hanya diam dengan sesekali menyeka kristal bening yang keluar dari sudut matanya.


Paginya Faisal baru pulang, dan lagi, Vani hanya mendengar alasan yang terlontar dari bibirnya mengenai alasannya meninggalkannya malam tadi.


"Maaf, aku ada kerjaan mendadak dan nggak bisa aku wakilkan. Aku minta maaf, Vani. Kamu nggak apa-apa, kan?"


Meski alasan itu kurang masuk akal, Vani berusaha menerimanya. Vani masih menghibur diri sendiri dan meyakinkan bahwa masih banyak waktu yang bisa mereka habiskan nantinya.


Vani tersadar saat melihat Mas Faisal bangkit dari atas ranjang dengan perasaan sedih. Ia mengayunkan langkah lagi menuju kamar mandi di sudut sana dan menghilang setelah pintu itu tertutup rapat.


Malam ini tidak ada lagi obrolan antara Vani dan Faisal. Setelah keluar dari kamar mandi, Faisal langsung merebahkan diri di sampingnya. Vani sendiri merasakan kecanggungan itu. Rasanya ingin marah saja. Tapi, melihat tatapan sedih suaminya, Vani mendadak tidak tega.

__ADS_1


Biarlah rahasia ini aku simpan sendiri. Terserah jika ibu atau siapapun akan kembali mendesak–ku lagi agar cepat hamil. Aku tak peduli! Vani berucap pada diri sendiri.


Vani berusaha berpikir positif. Ia yakin penyakit Faisal itu bisa di sembuhkan. Vani berjanji pada dirinya sendiri jika nanti akan berbicara pelan-pelan pada Faisal agar suaminya itu mau berobat.


.


.


.


Pagi mulai menyapa, meski enggan menyibak selimut karena cuaca yang begitu dingin, Vani paksakan tubuh ini untuk bangkit dan melaksanakan aktifitas seperti biasa.


Kilasan kejadian semalam masih terekam jelas di otaknya .Bagaimana Faisal terlihat begitu menggebu, membuat Vani langsung melayang. Saat itu Vani begitu percaya diri, ia mengira jika malam ini mereka pasti akan melakukannya. Namun saat permainan hampir mencapai puncak, Vani terpaksa menarik diri karena menyadari sesuatu yang terjadi dengan suaminya.


Rasa kesal masih menggerogoti hati. Namun bagaimanapun, Vani tetap memperlakukan suaminya dengan baik. Ia masih tetap menyiapkan makanan, keperluan kerjanya, serta kebutuhan yang lainnya. Seperti biasa, seakan tidak pernah terjadi apapun.


Namun sekali lagi, saat hatinya baru saja ingin berdamai dengan keadaan, satu masalah lain datang lagi,


Vani tersentak kaget, lamunannya tiba-tiba buyar entah ke mana. "Apa sih, Lun, Mba lagi nggak pegang duit," elaknya pada Luna. Jika terus memberinya, bisa kebiasaan nanti.


Vani tidak terlalu menggubris kedatangan bocah itu, memilih pergi dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Tapi, ternyata Luna tidak menyerah begitu saja.


"Yah, Mba, jangan pelit-pelit dong!" Ternyata Luna masih mengikuti sampai ke dapur. Saat kran air di nyalakan, Luna berdiri tepat di sampingnya.


"Aku ada keperluan mendadak, Mba," ucap Luna lagi. Dia masih berusaha merayu kakak iparnya..


"Bukannya kamu udah dapet jatah uang bulanan dari suamiku?" Saat Vani mengatakannya, Luna terlihat gugup. Mungkin dia pikir Vani tidak tahu akan hal ini. Padahal Faisal sendiri yang bilang jika setiap bulan dia selalu menjatah uang bulanan yang cukup untuk adiknya.


"Jatah dari Mas Faisal udah abis, Mba. Keperluanku 'kan banyak!"


"Habis?" Vani sengaja memutar tubuh ke arah gadis itu. Terlihat Luna mulai salah tingkah. "Ini baru pertengahan bulan, Lun, bagaimana mungkin uang bulanan udah abis aja? Memangnya kamu pakai buat apa? Kan Mas Faisal selalu kasih uang yang cukup buat kamu!"

__ADS_1


Vani sengaja berbicara sedikit tegas. Jika hanya uang bulanan yang Faizal bagi dengan adiknya mungkin masih bisa Vani tolerir, tapi, masa iya Luna harus merecoki uang yang Faisal berikan padanya juga?


"Yah, Mba, kayak nggak ngerti anak muda aja. Gaul dong, Mba, gaul dikit!" Sepertinya Luna mulai kesal, tapi Vani tak peduli.


Bagus malah kalau kesal, kalau perlu langsung pergi saja. Itu yang Vani harapkan.


"Please, Mba, kali ini aja yah? Aku ada keperluan mendadak soalnya." Ternyata Luna masih berdiri di tempatnya tadi. Gadis itu mulai memasang wajah memelas di depan Vani. Semakin lama, kenapa jadi tak tega ya?


Ya ampun Vani, kenapa kamu lembek begini? Inilah kelemahan terbesarku, mudah di luluhkan.


Setelah berpikir berulang kali, Vani memutuskan untuk membagi sedikit uang bulanannya untuk Luna.


Vani mengelap kedua tangan, lantas tangannya segera ia masukkan kedalam saku daster rumahan yang ia kenakan. "Nih, aku cuma ada segini." Vani menyodorkan selembar uang berwarna merah ke arah Luna. Sebenarnya masih ada beberapa lembar lagi, namun sengaja Vani simpan untuk kebutuhan sampai akhir bulan.


"Yah, segini dapat apa, Mba?" Meski merengut, Luna tetap menyambar uang yang kakak iparnya berikan.


"Jangan boros-boros, Lun, kamu 'kan belum kerja. Kasihan Mas Faisal." Vani sedikit menasehati. Meski umurnya hanya terpaut dua tahun di atas Luna, tapi sebagai kakak ipar yang baik ia merasa punya kewajiban untuk itu.


"Alahhh, Mba, jangan sok bijak deh. Kalau nggak terpaksa, aku juga nggak bakal ke sini!"


Tanpa mengucap terimakasih, gadis itu nyelonong begitu saja membawa langkahnya ke arah depan. Vani hanya menggeleng pelan, mengusap dadanya berkali-kali agar tetap sabar. Vani memutuskan untuk kembali menyelesaikan kegiatan cuci piringnya yang sempat terjeda tadi. Namun, saat tangannya akan memulainya lagi, dari arah depan sana terdengar teriakan suara Luna,


"Mba, ayam goreng yang di piring aku ambil, yah? Buat bekal di kampus nanti!"


Biarlah, ucap Vani dalam hati. Toh hari ini Vani masak lima potong ayam goreng. Jika hanya di ambil sepotong tak apa, masih ada untuk sarapannya dan Faisal nanti, dan sisanya bisa di simpan buat makan sore.


Bukan ngirit, tapi Vani harus tetap berhemat agar uang ini bisa cukup sampai akhir bulan.


Selesai sudah kegiatan cuci mencuci. Vani melangkah menuju ruang makan. Niatnya ingin memanggil Faisal untuk sarapan pagi. Tapi saat melewati meja makan, Vani langsung memekik terkejut,


"Astaga ...!!"

__ADS_1


__ADS_2