
"Anda tenang saja keluarga besar Gerald sebentar lagi datang untuk melamar putri Anda." Jawab William sambil menggenggam tangan Angelica dengan lembut.
"Kak William, kok manggil Daddy dengan sebutan Anda? Panggil Daddy juga sama seperti aku memanggil Daddy. Benarkan Dad?" Tanya Angelica sambil membalas genggaman tangan William.
"Betul sekali." Jawab Ayahnya Angelica.
'Si*l, ternyata keluarga besarnya akan datang untuk melamar anak tiriku. Bagaimana caranya supaya aku bisa merasakan tubuhnya? Walau sudah bekas tidak masalah yang penting aku sudah merasakannya.' Sambung Ayahnya Angelica dalam hati.
'Si*l, sebentar lagi anak kurang aj*r ini akan menikah. Bagaimana aku bisa merasakan tubuhnya? Walau sudah bekas setidaknya aku bisa merasakannya dan setelah itu aku akan menjualnya.' Ucap Pamannya Angelica dalam hati.
'Kenapa aku merasa mereka ada niat jahat dengan Angelica? Dari tatapan mereka berdua seperti ingin melakukan hubungan suami istri karena terlihat jelas wajah mesum ke duanya.' Ucap William dalam hati.
'Aku harus lebih hati-hati untuk menjaga Angelica agar Angelica tidak jadi mangsa mereka berdua. Walau pria itu Ayah kandungnya tapi aku merasa Pria itu bukan pria baik-baik begitu pula dengan Pamannya.' Sambung William dalam hati.
"Kak William kok bengong? Panggil Daddy sama seperti aku memanggilnya dengan sebutan Daddy. Angelica saja memanggil orang tua Kak William dengan sebutan Mommy dan Daddy." Ucap Angelica dengan wajah cemberut.
Grep
Cup
"Maaf sayang, Kakak akan memanggilnya sama seperti kamu memanggilnya dengan sebutan Mommy dan Daddy." Ucap William sambil memeluk Angelica dari arah samping kemudian mengecup bibir Angelica singkat.
Ayahnya Angelica dan Pamannya Angelica menggenggam erat ke dua tangannya untuk menahan amarah nya dan tanpa sepengetahuan mereka kalau William sengaja melakukan hal itu sambil melirik ke arah mereka.
William sengaja melakukan hal itu karena William ingin tahu reaksi mereka berdua jika dirinya mencium bibir Angelica.
"Ehem ..." Ucap Ayahnya Angelica berupa deheman.
"Maafkan William Dad, kalau tadi William mencium Angelica." Ucap William pura-pura polos.
"Santai saja karena anak muda terkadang tidak bisa menahan nya." Jawab Ayahnya Angelica.
Ayahnya Angelica tersenyum namun terlihat jelas di mata William kalau senyuman itu palsu karena William seorang ketua mafia jadi tentu saja tahu apa senyuman nya tulus atau tidak bahkan William bisa menebak apa yang ada dipikiran seseorang.
"Terima kasih atas pengertian Daddy." Ucap William.
"Sama-sama, Oh ya tadi Angelica memanggil orang tuamu dengan sebutan Mommy dan Daddy?" Tanya Ayahnya Angelica untuk lebih memastikan.
"Benar, Angelica memanggil orang tuaku dengan sebutan Mommy dan Daddy." Jawab William.
"Apakah kalian tidur bersama?" Tanya Ayahnya Angelica dengan perasaan kuatir begitu pula dengan Pamannya Angelica.
"Jujur, kami memang selalu tidur bersama tapi Daddy tenang saja karena besok kami akan menikah." Ucap William dengan nada yakin.
"Kalian melakukan hubungan suami istri?" Tanya Daddynya Angelica.
Daddynya Angelica dan Pamannya Angelica menunggu jawaban William dengan perasaan kuatir sekaligus menahan amarahnya sedangkan tanpa sepengetahuan mereka kalau William bisa membaca pikiran mereka berdua.
"Jujur hampir saja kami melakukannya tapi kami sadar kami akan melakukannya nanti jika kami resmi menikah. Apalagi tinggal menunggu besok karena kami bisa melakukannya sepuas kami." Jawab William.
"Syukurlah kalian tidak melakukannya." Ucap Ayahnya Angelica sambil tersenyum bahagia.
'Ternyata masih tersegel, syukurlah.' Ucap ke dua pria tersebut dalam hati secara bersamaan.
Tanpa sepengetahuan mereka kalau William bisa mengetahui isi hati Ayahnya Angelica dan Pamannya Angelica lewat gerak geriknya dan wajahnya.
'Untung Angelica tinggal sama aku kalau tidak bisa saja mereka jadi predator.' Ucap William dalam hati.
Tidak berapa lama datang keluarga besar Daddy Gerald sambil membawa barang-barang serah - serahan membuat ke dua pria tersebut sangat terkejut karena keluarga besar Daddy Gerald menyetujui Angelica menjadi bagian dari keluarga besar Gerald.
__ADS_1
"Maaf kalau kedatangan kami mendadak, kami datang ke sini untuk melamar Angelica." Ucap Mommy Monika.
"Rencana pernikahan Angelica dengan Nak William kapan?" Tanya Ayahnya Angelica.
"Kami merencanakan putra kami menikah dengan Angelica besok pagi dan acara resepsi pernikahan diadakan siang.'' Jawab Mommy Monika.
"Kenapa mendadak? kami belum ada persiapan untuk acara resepsi pernikahan secara mewah karena mengingat Angelica adalah putri kami satu - satunya." Ucap Ayahnya Angelica sambil menatap Angelica dengan tatapan bersalah.
Daddy Gerald, William, Edward dan keluarga besar Gerald tahu kalau Ayahnya Angelica berbohong mengatakan hal itu. Mereka tahu kalau Ayahnya Angelica seorang munafik tapi mereka hanya diam saja.
"Tenang saja, semua sudah kami atur dan acara pernikahan putra kami William dengan Angelica akan diadakan sangat meriah dan mewah." Ucap Mommy Monika.
"Baiklah kalau begitu kami tenang. Maafkan Daddy, Angelica kalau belum bisa membahagiakan dirimu." Ucap Ayahnya Angelica dengan wajah pura-pura sedih.
"Tidak apa-apa Dad." Jawab Angelica.
"Kamu memang anak yang sangat berbakti dan Daddy sangat bahagia dan bangga mempunyai anak seperti dirimu." Ucap Ayahnya Angelica.
Angelica hanya tersenyum dalam hatinya sangat bahagia karena ternyata Ayahnya masih perduli padanya. Berbeda dengan William dan keluarga besarnya kalau Ayahnya Angelica mengatakan hal itu adalah kebohongan untuk menutupi kebusukannya.
Karena mereka sudah diberitahukan oleh Mommy Monika tentang bagaimana mereka melakukan Angelica tidak manusiawi di mana Angelica pergi dengan kondisi tanpa uang dan berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki.
"Angelica sayang, besok kan kalian menikah jadi hari ini kamu menginap di rumah karena tidak pantas seorang gadis menginap di rumah laki - laki." Ucap Ayahnya Angelica.
"Tapi Dad ..." ucapan Angelica terpotong oleh Pamannya.
"Apa yang dikatakan oleh Daddymu adalah benar, kamu harus tinggal di sini karena tidak pantas seorang gadis yang akan menikah tinggal di rumah laki-laki." Ucap Pamannya Angelica.
"Angelica sayang, apakah kamu tidak kangen dengan Daddy dan Momny?" Tanya Ayahnya Angelica.
"Kangen Dad tapi Angelica lebih kangen sama Kak William." Ucap Angelica sambil menggenggam tangan William.
Angelica menghembuskan nafasnya dengan berat sedangkan William yang ingin protes mendapatkan gelengan dari Daddy Gerald membuat William ikut menghembuskan nafasnya dengan berat.
'Kenapa aku merasa mereka ada niat jahat dengan Angelica?' Tanya William dalam hati.
"Baiklah Dad, Kak William aku menginap di rumah Daddy dan Mommy ya." Ucap Angelica akhirnya.
"Iya, kalau ada apa-apa kabarin Kakak." Ucap William sambil mengusap rambut Angelica dengan lembut.
"Baik Kak." Jawab Angelica.
Mereka pun membicarakan tentang acara pernikahan William dan Angelica hingga dua jam kemudian satu persatu keluarga besar Gerald berpamitan dan meninggalkan mansion.
Kini tinggal William, ke dua orang tuanya dan juga Edward. Mereka masih mengobrol hingga lima belas menit kemudian William mengajak Angelica ke taman.
"Angelica." Panggil William dengan nada frustrasi.
Entah kenapa dirinya sangat berat ketika harus berpisah dengan orang yang dicintainya padahal besok mereka akan menikah dan tidak lagi berpisah.
"Ya." Jawab Angelica singkat.
William menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menggenggam tangan Angelica dengan lembut.
"Kamar mu ada di sebelah mana?" tanya William.
"Di lantai dua tepat di atas kepala Kak William." Jawab Angelica sambil mendongakan kepalanya ke atas.
William ikut mendongakan kepalanya ke atas dan melihat sekelilingnya kemudian tersenyum menyeringai. Kamar Angelica dekat dengan tembok dan di luar tembok ada pohon besar dan batangnya masuk ke dalam rumah milik Ayahnya Angelica di mana batang pohon tersebut mendekati kamar Angelica.
__ADS_1
William berencana akan naik pohon hingga melewati tembok dan melompat ke arah balkon di mana kamar Angelica berada.
"Sayang, Kak William ingin bertanya dan kamu jawab dengan jujur. Apakah kamu bisa tidur tanpa Kakak?" Tanya William sambil menatap wajah cantik Angelica dari arah samping.
"Tentu saja tidak bisa Kak, mungkin karena kita sering tidur bersama dan ..." ucap Angelica menggantungkan kalimatnya sambil memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Dan apa?" tanya William sambil menarik dagu Angelica dengan perlahan dan melihat wajah merah Angelica.
'Kita saling berciuman dan melakukan sesuatu yang membuatku selalu enak.' bisik Angelica tepat di telinga William.
William memalingkan wajahnya membuat Angelica tidak sengaja mencium bibir William. Sebenarnya William ingin sekali mencium bibir Angelica yang sudah menjadi candu nya dengan sangat lama sampai Angelica kehabisan nafas. Namun karena dirinya berada di rumah calon mertuanya membuat William menahannya.
"Eh..." ucap Angelica dengan wajah terkejut sambil menarik wajahnya agar tidak terlalu dekat.
"Kakak juga sama." Jawab William yang merasakan nyaman tidur bersama seorang gadis dan gadis itu adalah Angelica yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Tapi malam ini kita tidur terpisah." Ucap Angelica dengan wajah cemberut.
'Kalau kamu mau, jendela kamar jangan di kunci dan terbuka sedikit agar Kakak bisa masuk ke kamar mu lewat balkon.' bisik William.
"Memang bisa?" Tanya Angelica sambil kembali mendongakan kepalanya ke atas.
"Tentu saja bisa, kamu mau kan kita tidur bersama lagi?" tanya William dengan suara pelan.
"Tentu saja mau, Kak William masuk ke kamar ku jam berapa?" tanya Angelica dengan suara ikut pelan.
Hal ini dilakukan agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. William bersedia naik ke atas pohon demi bisa tidur bersama Angelica gadis yang sudah mencuri seluruh hatinya.
"Setelah kami ke luar dari mansion milik Daddymu, Kak William turun dari mobil dan naik ke atas pohon menuju ke arah balkon kamarmu." Jawab William yang masih berbisik.
"Baik, kalau begitu nanti setelah Kak William pulang aku langsung ke kamar ku." Ucap Angelica.
"Ok, kalau begitu kita ke ruang keluarga karena pasti mereka sedang menunggu Kakak." Ucap William sambil berdiri.
"Baik Kak." Ucap Angelica sambil ikut berdiri.
Grep
Ketika William melangkahkan kakinya bersamaan Angelica menahan tangan William membuat William menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya William sambil menatap wajah cantik Angelica.
Angelica tidak menjawab pertanyaan William hanya memajukan wajahnya dan membasahi bibirnya dengan menggunakan lidahnya. William yang mengerti langsung mengarahkan tangan kanannya kemudian menarik tengkuk Angelica.
Grep
Tangan kiri William memeluk pinggang Angelica kemudian mendekati wajah Angelica. William mencium bibir Angelica, awalnya ciuman singkat dan lama - lama berupa *******.
Mereka saling bertukar saliva hingga beberapa saat Angelica menepuk punggung William. William yang mengerti langsung melepaskan ciumannya.
William menjilati bibirnya sedangkan Angelica mengambil nafas sebanyak-banyaknya membuat William tersenyum.
Cup
'Tunggu aku di kamar.' Bisik William kemudian mengecup bibir Angelica singkat.
Angelica hanya tersenyum kemudian mereka berjalan sambil berpelukan dari arah samping menuju ke ruang keluarga.
"William, kita pulang sudah malam." Ajak Mommy Monika yang melihat kedatangan William dan Angelica.
__ADS_1