Mafia Hot Duda

Mafia Hot Duda
Malam - Malam Begini


__ADS_3

"Iya Dad." ucap Edward.


"Kalau kamu sangat mencintai istrimu maka mulai sekarang dan seterusnya kamu harus bisa berubah untuk tidak mempercayai jika ada orang yang menceritakan keburukan orang yang kamu sayangi yaitu istrimu." Ucap William.


"Bukankah istriku sudah meninggal? Apa jangan - jangan istriku masih hidup?" Tanya Edward sambil menatap mata William seakan meminta penjelasan.


"Mungkin saja, oh ya Daddy mau pergi dulu." Ucap William mengalihkan pembicaraan.


"Daddy mau pergi ke mana?" tanya Edward.


"Ada sesuatu yang ingin Daddy urus." Jawab William yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Jangan bilang Daddy mau pergi ke mansion Oma dan Opa untuk menemui Mommy Angelica." Selidik Edward yang bisa menebak kemana William akan pergi.


"Tidak, Daddy mau ke kantor karena di kantor lagi ada masalah." Jawab William berbohong.


"Malam-malam begini? Kok sekretaris Edward tidak telepon kalau kantor ada masalah? Edward ikut Dad." Ucap Edward yang tahu kalau Daddynya berbohong.


"Tidak usah, kamu istirahat saja." Ucap William.


'Aduh Edward, Daddy ingin menidurkan adik kecil Daddy di sarang milik Angelica.' Sambung William dalam hati.


"Daddy, aku tahu Daddy ingin bertemu dengan Mommy Angelica. Lebih baik temani Edward mengobrol di kamar." Ucap Edward.


Grep


Selesai mengatakan hal itu Edward menarik tangan William ke arah kamarnya membuat William menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian mengikuti langkah Edward.


"Dari mana kamu tahu kalau Daddy ingin bertemu dengan Mommy Angelica?" tanya William terkejut karena tebakan Edward tepat.


"Dari Daddy pakai baju santai dan memakai minyak wangi agar Mommy Angelica memeluk Daddy dan akhirnya melakukan hubungan suami istri. Benar kan Dad tebakan Edward?" Tanya Edward.


'Dari mana anak ini bisa tahu?' Tanya William dalam hati.


"Tahulah Dad, karena apa yang ada dipikiran Daddy maka Edward tahu semuanya. Jadi temani Edward mengobrol sampai kita tidur." Jawab Edward.


"Kok Kamu tahu apa yang ada dipikiran Daddy?" Tanya William dengan wajah terkejut.


"Tahu dong." Jawab Edward sambil membuka pintu kamarnya.


"Kamu ganti pakaian kalau ngga Daddy akan pergi." Ucap William yang risih melihat Edward memakai dress milik Alona.

__ADS_1


"Baik Dad, Edward ganti pakaian dulu." Ucap Edward yang tidak ingin William pergi.


William berjalan ke arah ranjang kemudian berbaring di ranjang sambil sesekali menghembuskan nafasnya dengan perlahan sedangkan Edward berjalan ke arah lemari pakaiannya untuk mengganti pakaiannya.


'Padahal aku sudah mengkhayal adik kecilku masuk ke dalam sarang Angelica tapi gagal total gara-gara Edward.' Ucap William dalam hati sambil memejamkan matanya.


Lima menit kemudian Edward sudah selesai memakai pakaian santai kemudian berjalan ke arah ranjang. Edward berbaring di sisi ranjang sambil menatap ke arah William .


"Daddy." Panggil Edward.


"Hmm..." Jawab William berupa deheman dan masih memejamkan matanya.


"Apakah Daddy serius ingin menikah dengan Mommy Angelica dan tidak ada keinginan kembali sama Mommy Valen?" Tanya Edward.


"Daddy sangat serius ingin menikah dengan Mommy Angelica dan mengenai keinginan kembali dengan Mommy Valen, sebelum dan sesudah kami menikah Daddy sama sekali tidak ada perasaan suka sama Mommy Valen." Ucap William dengan nada tegas.


"Walau seandainya kami belum melakukan hubungan suami istri, Daddy tetap akan menikahi Mommy Angelica karena Daddy merasa nyaman bersamanya." Sambung William sambil membuka matanya dan menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan dirinya.


"Kalau Daddy tidak mencintai Mommy Valen tapi kenapa kami hadir?" Tanya Edward dengan wajah sedih sambil duduk dan bersandar di kepala ranjang


Grep


"Bukankah waktu itu Daddy pernah cerita?" Tanya William.


"Sudah Dad, Daddy di jebak oleh Mommy agar melakukan hubungan suami istri tapi jujur Dad, Edward berusaha untuk tidak mempercayai hal itu karena jika kami dilahirkan karena jebakan seakan kami merasa terlahir bukan karena cinta." Jawab Edward.


Entah kenapa beberapa hari Edward selalu merasa sedih dan tidak seperti dulu cuek dan tidak pernah perduli sama sekali.


"Walau Daddy dijebak oleh Mommy Valen tapi Daddy sangat menyayangi kalian. Apakah kamu tidak ingat ketika kamu dan Julia di bawa Daddy ke kantor waktu kalian berumur tujuh tahun?" Tanya Daddy William.


"Ingat Dad, Edward dan Julia bermain di kantor Daddy. Daddy tidak marah ketika kami berisik ataupun kami mencoret dan merobek dokumen ketika Daddy pergi ke kamar mandi." Ucap Edward sambil tersenyum mengingat tentang masa lalu.


"Daddy tidak mungkin bisa marah dengan kalian karena kalian harta berharga buat Daddy." Ucap Daddy William sambil mengusap rambut putra sulungnya dengan lembut.


"Terima kasih Dad. Edward masih ingat ketika Daddy menemui beberapa klien untuk meminta tanda tangannya lagi dan ada satu klien Daddy yang marah karena tidak mau tanda tangan bahkan klien Daddy memarahi kami ketika kami sedang bermain di perusahaan nya." ucap Edward yang ingat dirinya dan adik kembarnya dimarahi oleh klien Daddy William.


"Daddy yang melihat kami di marahi oleh klien Daddy membuat Daddy tidak terima dan membatalkan kerja samanya. Daddy tidak memperdulikan membayar penalti yang lumayan besar demi kami." Sambung Edward.


"Jadi kamu sudah tahu kan kalau Kalian sangat berarti buat Daddy? Maafkan Daddy kalau belum bisa menjadi orang tua yang sempurna untuk kalian berdua Edward dan Julia." Ucap Daddy William dengan mata berkaca-kaca karena ketika ke dua anak kembarnya mulai beranjak dewasa William sering keluar kota.


Grep

__ADS_1


"Tidak Dad, bagi Edward kalau Daddy adalah orang tua yang sempurna bagi kami berdua. Hanya Daddy yang mau mengurus kami berdua dengan penuh kasih sayang sedangkan Mommy sibuk dengan teman sosialitanya tanpa memperdulikan kami." Ucap Edward sambil menggenggam tangan William sambil menahan rasa kecewa pada Mommy Valen.


William hanya tersenyum kemudian mengusap rambut putra sulungnya kembali lalu berbaring di ranjang.


"Sudah malam, kita tidur karena besok Daddy ingin bertemu dengan Julia di rumah Opa dan Oma mu." Ucap William yang sangat merindukan Angelica.


"Baik Dad." Jawab Edward sambil ikut berbaring di ranjang.


William dan Edward sama-sama memejamkan matanya dan tidak berapa lama mereka berdua tidur dengan pulas sambil berharap besok lebih baik dari hari ini.


xxxxxxxxx


Di tempat yang berbeda tepatnya di kediaman Ayah angkatnya Angelica, berkumpul keluarga besarnya.


"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Kakak ... Hiks... Hiks... Hiks... Suamiku huhuhuhu ... Kenapa Kakak dan suamiku pergi secepat ini?" Ucap Tantenya Angelica sambil memeluk jenasah Kakak dan suaminya yang mati sangat mengenaskan.


"Ini ulah kekasihnya Angelica." Jawab seorang kakek tua yang sudah lama menantikan Angelica dewasa agar bisa merasakan tubuhnya.


"Angelica lagi ... Angelica lagi ... Aku akan membunuhnya." Ucap Tantenya Angelica sambil menahan amarahnya.


"Kamu tidak boleh membunuh cucuku." Ucap Kakek tua tersebut.


"Ayah, dia bukan cucu kandung Ayah tapi kenapa Ayah membelanya?" Tanya Tante Angelica dengan nada kesal.


"Karena Angelica sangat cantik dan Ayah ingin merasakan tubuhnya jadi jangan sekali - kali kamu melukainya." Ucap Kakek tua tersebut.


"Kenapa Ayah tidak mau bermain denganku? Sedangkan dengan ibunya Angelica, Ayah sering bermain." Tanya Tantenya Angelica.


"Kamu itu gendut dan sangat jelek jadi siapapun tidak ada yang mau hanya orang buta seperti suamimu yang mau." Ucap Kakek tua dengan nada sarkas.


"Itu juga karena suaminya mata duitan makanya mau sama anak tiri kita." Ucap wanita itu yang merupakan Ibu Tiri Tantenya Angelica karena Ibu kandungnya sudah lama meninggal.


"Diam kamu wanita jelek!" Bentak Tantenya Angelica.


Plak


Wanita tersebut sangat marah dengan ucapan Tantenya Angelica membuat wanita tersebut menamparnya.


Tantenya Angelica sangat marah dan langsung membalas tamparan wanita itu sehingga jadi Perkelahian.


"CUKUP! Sejak dulu hingga sekarang kalian selalu bertengkar dan berkelahi. Sekarang pikirkan bagaimana membalas kekasihnya Angelica dan keluarganya agar Mereka semua ma ti. Karena Aku ingin membalas kan kematian putraku dan juga suamimu." Ucap Kakek tua tersebut yang ingin balas dendam terhadap keluarga William.

__ADS_1


__ADS_2