
Mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju karena hanya itu satu-satunya cara. Kemudian keluarga besar Daddy Gerald, para sahabatnya khusus pria dan para bodyguard di bagi tugas agar urusannya cepat selesai.
Singkat cerita kini mereka berada di lubang besar di mana di dalam lubang tersebut semua mayat yang sudah membusuk termasuk mayat Ibunya Angelica karena banyak belatung yang memakan mayat mereka di tambah banyaknya tumpukkan kayu baik dari lemari pakaian, kursi dan lain sebagainya serta plastik.
Keluarga besar Daddy Gerald, para sahabatnya khusus pria dan para bodyguard di mendorong tong yang berisi bensin di mana tutup tongnya di buka terlebih dahulu ke dalam lubang yang lumayan dalam namun baunya lima kali bau bangkai yang biasa mereka pernah cium dan bisa membuat orang mual.
Untungnya Mereka sudah memakai tiga lapis masker sehingga bau bangkai tersebut tidak tercium oleh Mereka.
Tong itu pun terjatuh bersamaan bensin yang berada di dalam tong keluar berhamburan dan membasahi kayu, plastik dan juga para mayat yang berada di dalam lubang.
Tiba-tiba Daddy Gerald membulatkan matanya dengan sempurna sambil menunjuk ke arah mayat membuat mereka menatap ke arah bawah.
Mereka melihat semua mayat mengeluarkan nanah dari dalam tubuhnya dan wajahnya terlihat sangat tersiksa dan mengeluarkan air mata padahal mereka sudah meninggal dunia.
'Baru kali ini aku melihat seperti ini, jika aku cerita ke orang lain bisa dipastikan mereka tidak akan mungkin percaya.' Ucap mereka bersamaan dalam hati.
Daddy Gerald memberikan kode untuk mundur dan mereka mengikuti perintah Daddy Gerald kemudian William menyalakan korek api ke arah kayu yang sudah diselimuti kain bekas.
Hal itu supaya kayu tersebut cepat terbakar setelah terbakar barulah William melempar ke arah lubang tersebut.
Duar
Duar
Duar
Suara ledakan dari tong bensin saling bersahutan sebanyak dua belas tong bersamaan membakar apa saja yang ada di dalam lubang termasuk kayu, plastik dan mayat tersebut.
Daddy Gerald yang tidak betah memakai masker rangkap tiga memberanikan diri membuka masker begitu pula dengan yang lainnya.
Bau busuk tersebut kini berubah menjadi bau gosong seperti daging terbakar hingga tidak berapa lama terdengar suara teriakan kesakitan saling bersahutan bersamaan keluar asap hitam legam dari lubang tersebut.
__ADS_1
Hingga satu jam setengah api yang menyala dengan terang benderang di dalam lubang tersebut kini sudah mulai meredup dan para mayat tersebut sudah habis tanpa sisa hanya menyisakan abu mayat dan bercampur dengan abu dari kayu.
"Akhirnya sudah selesai dan tidak bau lagi sekarang kita tutup lagi lubangnya." Ucap Daddy Gerald.
"Ok." Jawab mereka bersamaan.
Merekapun mulai menutup lubang tersebut dengan menggunakan tanah hingga tertutup dengan rapat.
"Sudah selesai sekarang kita istirahat." Ucap Daddy Gerald yang beberapa kali menguap.
Mereka menganggukkan kepalanya kemudian satu persatu meninggalkan tempat tersebut bersamaan darah segar keluar dari tanah tersebut.
Mereka berjalan ke arah kamar masing-masing untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Entah kenapa Daddy Gerald, Mommy Monika dan William membalikkan badannya untuk melihat tanah yang baru saja mengubur banyak mayat.
"Kenapa tanahnya berubah jadi merah?" Tanya Daddy Gerald, Mommy Monika dan William bersamaan.
Mereka serempak membalikkan badannya dan matanya membulat sempurna karena tanah bekas mengubur mayat berwarna merah hingga beberapa saat tercium aroma anyir.
"Iya bau banget." Jawab Mereka bersamaan sambil kembali memakai masker.
"Lebih baik Kita kembali lagi dan istirahat. Masalah bau anyir besok Kita bicarakan lagi." Ucap Daddy Gerald.
"Ok." Jawab Mereka bersamaan.
Mereka pun membalikkan badannya dan meninggalkan tempat tersebut. Hingga Mereka mendengar suara rintihan orang kesakitan dan meminta pertolongan.
Hal itu membuat Mommy Monika tidak tega kemudian membalikkan badannya diikuti yang lainnya.
"Lebih baik Kita doakan saja Mereka sekalian meminta maaf karena telah membunuh Mereka." Ucap Mommy Monika.
Daddy Gerald dan yang lainnya setuju, Merekapun berdoa hingga lima belas menit kemudian Mereka pergi meninggalkan tempat tersebut untuk istirahat.
__ADS_1
'Panas ... Sakittttt ... Tolong Aku ...' Ucap Mereka bersamaan dari dalam kubur.
Tidak berapa lama tanah itu membentuk pusara air namun bukan air jernih tapi air berwarna merah darah dan baunya sangat menyengat di hidung bagi siapa saja yang melewati tanah kosong tersebut.
xxxxxxxxxx
Lima Hari Kemudian
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepatnya dan di hari ketiga terdengar kabar mantan istrinya William meninggal. Ke dua anak Valen dengan William sedih kehilangan Ibu mereka. Walau jahat sekalipun Valen adalah Ibu kandung mereka berdua.
William dan ke dua anak kembarnya kini berada di mansion milik Daddy Gerald untuk memberitahukan sesuatu.
"Edward dan Julia, Daddy tahu memang ini bukan waktu yang tepat tapi Daddy harus mengatakan sekarang." Ucap William terpaksa memberitahukan sesuatu yang penting di ruang keluarga.
"Apa itu Dad?" Tanya Edward dan Julia bersamaan.
Sedangkan Alex suaminya Julia hanya diam dan mendengarkan percakapan keluarga istrinya.
Grep
"Daddy akan menikah lagi dengan Mommy Angelica dan Daddy harap kalian menyetujui permintaan Daddy." Ucap William sambil menggenggam tangan Angelica.
"Edward tidak masalah asalkan ini pernikahan terakhir dan Mommy Angelica sangat tulus menyayangi Daddy kami." Ucap Edward.
"Julia juga sama seperti ucapan Kak Edward." Sambung Julia.
"Terima kasih sudah mengijinkan Daddy menikah dengan Mommy. Mommy janji akan tulus mencintai Daddy dan menganggap kalian berdua sebagai anak kandung." Ucap Angelica dengan nada lembut.
"Kami sangat senang mendengarnya karena jujur kami berdua kekurangan kasih sayang seorang Ibu." Ucap Julia dengan wajah sedih.
"Walau umur kita hampir sama tapi Mommy akan menganggapmu sebagai anak ku dan sekaligus teman agar kita bisa saling mengenal." Ucap Angelica.
__ADS_1
"Boleh Julia memeluk Mommy Angelica?" Tanya Julia penuh harap.