
"Jarum suntik nya patah." Jawab Edward.
"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya mereka bersamaan dengan wajah terkejut.
"Kami juga tidak tahu kenapa bisa begitu." Jawab Edward.
"Lalu selanjutnya apa yang Kamu lakukan?" Tanya Daddy Gerald penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Edward langsung menghubungi teman Edward dan menceritakan apa yang telah terjadi kemudian teman Edward datang ke markas untuk memberikan obat ke mereka." Jawab Edward.
"Apakah obatnya berhasil?" Tanya Daddy Gerald penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Awalnya mereka tidak mau meminum obat hingga akhirnya teman Edward menotok salah satu syaraf mereka dan barulah berhasil. Mereka langsung menceritakan kelemahan keluarga besarnya." Jawab Edward.
"Apa kelemahannya?" Tanya Daddy Gerald dan yang lainnya secara bersamaan.
"Sambal jengkol, nasi goreng pete dan sayur daun kelor." Jawab Edward.
"Apa?" Teriak mereka bersamaan.
Hal itu membuat Edward menutup telinganya karena suaranya lumayan kencang.
"Kamu tidak bercanda kan Edward?" Tanya Daddy Gerald memastikan.
"Tidak Opa." Jawab Edward.
"Apakah sudah dipratekkan?" Tanya Mommy Monika penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Sudah." Jawab Edward.
"Dari mana Kamu dapatkan sambal jengkol, nasi goreng pete dan sayur daun kelor?" Tanya Daddy Gerald.
"Edward memerintahkan ke enam anak buah Edward untuk membeli nasi goreng pete dan sayur daun kelor." Jawab Edward.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Daddy Edward.
"Tubuh mereka langsung lemas bahkan suntikan yang tadi bengkok ketika di suntikkan ke tubuh mereka sudah tidak bengkok lagi." Jawab Edward sambil menahan tawa.
"Edward, Kamu bercanda kan?" Tanya Daddy Gerald sambil menatap tajam ke arah cucunya.
__ADS_1
"Edward tidak bercanda Opa." Jawab Edward.
"Lalu kenapa kamu tersenyum?" Tanya Daddy Gerald dengan wajah terlihat masih kesal.
"Edward bagaimana tidak tersenyum dan menahan tawa melihat enam anak buah Edward datang sambil membawa nasi goreng pete dan sayur daun kelor." Jawab Edward sambil senyam senyum.
"Tunggu sebentar, apakah Mereka memakannya lalu tubuh Mereka langsung lemas?" Tanya Mommy Monika memastikan.
"Mereka tidak memakannya, Oma." Jawab Edward.
"Kalau tidak di makan kenapa tubuh Mereka langsung lemas?" Tanya Daddy Gerald penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Ketika membuka kotak makanan keluar asap dari ke tiga masakan tersebut bersamaan tubuh Mereka langsung lemas." Jawab Edward.
"Aneh banget." Jawab Mereka bersamaan.
"Betul, aneh banget." Ucap Edward.
Mereka kembali terdiam sambil berpikir untuk membuat rencana untuk melawan para musuhnya.
"Edward membayangkan mansion milik Opa dan Oma bau jengkol dan pete. Pasti semua penghuni mansion pada kabur ketika mencium baunya." celetuk Edward.
"Coba Opa bayangkan, Kita adalah keluarga besar keturunan mafia, masa harus mencium aroma Sambal jengkol dan nasi goreng pete." Jawab Edward.
"Betul juga sih, awalnya opa juga tidak suka Sambal jengkol dan nasi goreng pete tapi Oma beberapa kali buat dan Opa nyobain dikit ternyata enak. Sejak saat itu opa jadi ketagihan." Ucap Daddy Gerald.
"Kami juga." Jawab mereka bersamaan.
"Oh ya William ada ide." Ucap William tiba-tiba.
"Ide apa William?" Tanya Daddy Gerald.
"Sebelumnya Daddy ingin tanya sama Edward, apakah hanya sambal jengkol dan nasi goreng pete kelemahan mereka atau bisa masakan lain yang berhubungan jengkol dan pete?" Tanya William dengan wajah serius.
"Sebenarnya yang berhubungan dengan jengkol dan pete itu kelemahan mereka." Jawab Edward.
"Lalu kenapa kamu bilang Sambal jengkol dan nasi goreng pete kelemahan mereka?" Tanya William dengan nada kesal.
"Hehehehe ... supaya Mommy Angelica atau Oma Monika membuatkan Edward Sambal jengkol dan nasi goreng pete." Jawab Edward jujur sambil tertawa.
__ADS_1
"Dasar kamu." Ucap William sambil menatap kesal.
"Sudah jangan dilanjutkan lagi, sekarang kami ingin tahu apa rencanamu?" Tanya Daddy Gerald.
"Kelemahan mereka adalah jengkol, daun kelor dan pete. Jadi bagaimana kalau sebagian dari keluarga Kita membeli semua jengkol, daun kelor dan pete sedangkan sebagian keluarga Kita lagi sambil menunggu ke tiga bahan itu menyiapkan tempat untuk serbuk." Jawab William.
"Jika ke tiga bahan datang barulah kita blender jengkol, daun kelor dan pete hingga menjadi serbuk. Jadi ketika mereka datang langsung menyiram mereka dengan menggunakan serbuk itu." sambung William.
"Bagus juga ide mu setelah itu kita bisa menyerang mereka." Ucap Daddy Gerald.
Mereka serempak menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan usulan William.
"Kalau begitu Daddy akan menghubungi keluarga besar Daddy untuk datang ke mansion sekalian membuatkan serbuk jengkol, daun kelor dan pete." Ucap Daddy Gerald.
"Mommy setuju Dad, dengan begitu kita dengan mudah mengalahkan mereka." Ucap Mommy Monika.
"Oh ya, Edward hampir lupa jangan sampai Angelica keluar dari kamarnya apapun yang terjadi." Ucap Edward.
"Memang kenapa Edward?" Tanya Daddy Gerald penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Jika Angelica terkena serbuk jengkol, daun kelor atau pete maka tubuh Angelica ikut lemas dan setengah jam kemudian Angelica tidak sadarkan diri." Jawab Edward menjelaskan.
"Kalau begitu Mommy yang akan temani Angelica." Ucap Mommy Monika.
"Baiklah kalau begitu Angelica berada di kamar bersama Mommy." Ucap Daddy Gerald.
Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju dan merekapun keluar dari ruang kerja milik Daddy Gerald. Mommy Monika berjalan ke arah kamar Angelica sedangkan sebagian pergi untuk membeli semua jengkol dan pete dan sebagian lagi menyiapkan tempat untuk serbuk.
xxxxx
Waktu berjalan dengan cepatnya dan tidak terasa hari sudah malam di mana semua keluarga besar Daddy Gerald dan para sahabatnya sudah bersiap menunggu kedatangan keluarga besar Ayah tirinya Angelica.
Serbuk jengkol, daun kelor dan pete sudah tersedia dan sudah dimasukkan ke dalam botol yang langsung di semprot ke para musuh. Masing-masing Mereka membawa dua botol kemudian masing-masing masuk ke dalam ruangan lantai satu dan lantai dua.
Lantai empat di kelilingi oleh sebagian keluarga Daddy Gerald sambil masing-masing membawa serbuk untuk dimasukkan ke dalam saku celana karena ke dua tangannya digunakan untuk memegang teleskop untuk melihat dari luar jika ada musuh datang.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam tapi para musuh belum juga datang membuat sebagian mulai mengantuk hingga satu jam kemudian datang dua belas mobil hitam menuju ke mansion milik Daddy Gerald.
("Musuh sudah datang." Ucap Daddy Gerald lewat headset yang kebetulan berada di lantai paling atas).
__ADS_1