
("Siap." Jawab mereka bersamaan).
Awalnya para pria dan wanita sangat mengantuk namun ketika mendengar ucapan Daddy Gerald membuat mereka langsung tidak mengantuk seakan hilang entah kemana.
("Sebanyak dua belas mobil, kita mulai siap menyerang mereka dengan menggunakan serbuk." Ucap Daddy Gerald).
("Siap." Jawab mereka bersamaan lagi).
Tidak berapa lama ke dua belas mobil tersebut mengelilingi dinding yang berada di luar kemudian berhenti tepat di tembok. Mereka masing-masing melempar tali kemudian naik ke atas tembok dengan menggunakan tali yang tadi di lempar.
"Kalian berpencar dan bu x nuh siapa saja yang ada di mansion tanpa kecuali termasuk putri kandungku." Ucap wanita itu yang tidak lain Ibu kandung nya Angelica.
"Ok, siap." Jawab mereka bersamaan.
'Seandainya kamu tidak membuat Mommy kehilangan suami yang sangat Mommy cintai dan juga adik iparku maka Mommy tidak akan tega melakukan ini.' Ucap Ibunya Angelica dalam hati.
Rasa cintanya yang begitu besar terhadap suaminya begitu pula dengan keluarga besar suaminya membuat Ibunya Angelica membenci dan ingin Angelica ma ti.
Merekapun meloncat dari atas tembok ke rumput kemudian berjalan ke arah mansion. Namun sebelum mendekati mansion terlihat beberapa anggota keluarga besar Daddy Gerald dan beberapa anggota keluarga besar dari para sahabatnya Daddy Gerald keluar dengan menggunakan masker.
__ADS_1
Whushh
Whushh
"Akhhhhhhh..." Teriak mereka bersamaan.
Bruk
Bruk
Sambil keluar mereka menyiram kan serbuk jengkol, daun kelor dan pete membuat mereka berteriak kesakitan dan langsung ambruk satu persatu.
Sebagian para penjahat yang melihat beberapa anggota keluarganya ambruk dengan tubuh lemas sangat terkejut karena pihak lawan tahu kelemahan Mereka.
"Kamu dan yang lainnya tidak perlu tahu kenapa kami bisa tahu kelemahan kalian tapi yang pasti kalian semua harus mati." Ucap Tuan Alexander sahabatnya Daddy Gerald.
"Serang!" Teriak Tuan Alexander.
Sebagian keluarga besar Daddy Gerald dan beberapa anggota keluarga besar dari para sahabatnya Daddy Gerald melempar serbuk ke arah mereka membuat suara jeritan kesakitan terdengar saling bersahutan hingga sampai di kamar Angelica.
__ADS_1
Angelica yang sangat terkejut mendengar suara teriakan kesakitan langsung berjalan ke arah balkon dengan diikuti oleh Mommy Monika.
Angelica membuka pintu balkon kemudian berjalan ke arah balkon dan matanya langsung membulat sempurna karena melihat Ibunya duduk dengan tubuh lemas terlebih melihat Tuan Alexander mengangkat tangannya ke atas sambil menggenggam sesuatu di tangannya seperti hendak menyiramkan ke arah Ibunya Angelica membuat Ibunya Angelica menutupi wajahnya sambil berteriak kesakitan.
"Berhenti!" teriak Angelica dengan mata berkaca-kaca.
William yang mendengar teriakan Angelica dari lantai tiga di mana dirinya berada di lantai paling atas segera turun ke lantai satu di ikuti oleh Daddy Gerald. Hal itu dikarenakan Mereka berdua tahu pasti Angelica dan Mommy Monika akan menemui Ibunya Angelica.
Sedangkan Tuan Alexander yang mendengar teriakan Angelica menurunkan tangannya kemudian mendongakan kepalanya ke atas dan melihat Angelica ingin menangis dan di samping Angelica ada Mommy Monika. Di mana Mommy Monika menggeleng - gelengkan kepalanya seakan mengatakan untuk tidak menyakiti Ibunya Angelica.
Angelica yang melihat Tuan Alexander tidak melakukan sesuatu ke Ibunya membuat Angelica membalikkan badannya kemudian berlari ke arah pintu kamarnya.
"Angelica, mau kemana?" Tanya Mommy Monika sambil mengikuti langkah Angelica.
"Mau ke bawah Mom." Jawab Angelica yang sangat mengkuatirkan keadaan Ibunya.
Mommy Monika tidak mungkin melarang karena mengingat Angelica ingin menyelamatkan Ibu kandung nya. Mommy Monika hanya mengikuti langkah Angelica untuk keluar dari kamarnya menuju ke teras belakang.
Sejahat apapun Ibunya, Angelica sangat menyayangi Ibunya dan tidak tega melihat Ibunya terluka.
__ADS_1
Kini Angelica berada di tengah - tengah antara Ibunya dan Tuan Alexander di susul Mommy Monika.
"Maaf kenapa Tuan ingin mencelakai Mommyku?" Tanya Angelica dengan mata berkaca-kaca sambil menatap Tuan Alexander.