
Malam menjelang pagi perlahan William membuka matanya dan menatap sekeliling kamarnya hingga dirinya menatap putra sulungnya yang masih setia memejamkan matanya.
William bangun kemudian duduk sambil bersandar di kepala ranjang sambil menatap tombak saktinya yang sudah menegang dan terasa sangat sesak.
'Biasanya aku tidur sama Angelica tapi kini tidak lagi dan parahnya harus menunggu satu minggu. Kasihan kamu selama satu minggu tidak bisa bertemu dengan sarangnya.' Ucap William dalam hati sambil masih menatap tombak saktinya yang masih tegang.
Edward yang merasakan ada pergerakan membuat Edward membuka matanya dan melihat William menatap tombak saktinya.
"Kenapa Daddy, menatap adik kecil milik Daddy?" Tanya Edward.
"Adik kecil Daddy kangen sama sarangnya." Jawab William.
"Edward juga sama Dad." Ucap Edward.
Ketika William ingin mengatakan sesuatu bersamaan ponsel milik William berdering. William mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja kemudian melihat siapa yang menghubungi dirinya dan ternyata Daddy Gerald.
"Tumben Opa pagi-pagi sudah telepon." Ucap William sambil menggeser tombol berwarna hijau.
William dan Daddy Gerald kemudian mengobrol selama lima menit kemudian sambungan komunikasi terputus.
"Ada apa Dad?" Tanya Edward sambil bangun dan duduk bersebelahan dengan William.
__ADS_1
"Opa dan Oma mau keluar negri katanya anak temannya ada yang melahirkan." Ucap William.
'Maafkan Daddy, sebenarnya istrimu yang melahirkan tiga anak kembar. Selamat Edward, kamu sudah menjadi seorang Ayah dan semoga kalian bisa bersama lagi.' Sambung William dalam hati.
"Kalau seandainya istriku masih hidup pasti sekarang sudah melahirkan tiga anak kami." Ucap Edward dengan wajah sendu.
William hanya bisa menepuk bahu Edward tanpa mengeluarkan suara sedikitpun karena William tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau Alona masih hidup.
"Daddy mau mandi dulu soalnya di tunggu sama Oma dan Opa." Ucap William.
"Edward ikut ya Dad." Ucap Edward.
"Lebih baik kamu jaga Mommy Angelica bersama para sepupu mu." Ucap William yang tidak mungkin mengijinkan Edward untuk ikut.
"Daddy merasa Mommy Angelica dalam bahaya jadi lebih baik kalian jaga." Ucap William beralasan.
"Dalam bahaya? Memang siapa yang ingin mencelakai Mommy Angelica?" Tanya Edward.
"Keluarga besar Mommy Angelica." Jawab William.
"Kalau begitu lebih baik Mommy Angelica ikut kita saja atau Daddy tinggal di mansion menemani Mommy Angelica sedangkan Edward pergi menemani Oma dan Opa." Usul Edward yang merasa bosan di mansion.
__ADS_1
"Daddy tidak diijinkan Mommy dan Daddy untuk bersama Mommy Angelica selama satu minggu jadi lebih baik kamu yang jaga Mommy Angelica bersama para sepupu mu." Ucap William.
Edward menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap William dengan kecewa karena dirinya entah kenapa ingin pergi melihat wanita lahiran. Biasanya Edward malas mengunjungi orang melahirkan dan juga mengunjungi orang sakit kecuali keluarga besarnya.
William yang tidak bisa berbuat apa - apa hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berjalan keluar dari kamar milik Edward menuju ke kamar miliknya.
Lima belas menit kemudian William sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai begitu pula dengan Edward.
"Edward antar ya Dad?" Tanya Edward menawarkan diri.
"Boleh." Jawab William singkat.
Edward dan William berjalan ke garasi mobil hingga sampai di garasi Edward dan William duduk di depan. Edward mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke mansion Daddy Gerald dan Mommy Maya.
Sepanjang perjalanan William yang duduk di samping pengemudi hanya menatap ke arah jalan. Sedangkan Edward juga ikut diam namun pikirannya ingin ikut keluar negri.
Hingga dua belas menit kemudian William tanpa sengaja menatap ke arah spion mobil di mana dua mobil hitam sedang mengikuti mobilnya.
"Edward, dua mobil hitam mengikuti mobil kita." Ucap William.
Edward menatap sekilas spion mobil dan melihat dua mobil hitam mengikuti mobil nya dari arah belakang membuat William mengirim pesan ke Daddy Gerald.
__ADS_1
"Edward ambil jalan yang ramai." Ucap William.
"Baik Dad." Jawab Edward patuh.