Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Saya Bukan Gadis Kecil


__ADS_3

Assalamu'alaikum, Bestie πŸ€— Ketemu lagi dengan salah satu keluarga Alamsyah πŸ₯°


Bosan gak?


Kalau kalian syuka, jangan lupa subscribe, kasih ulasan bintang lima, dan tinggalkan jejak jempol, ya ... serta hadiah yang banyak πŸ˜…πŸ™πŸ˜˜


🌹🌹🌹🌹🌹


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, ketika seorang gadis berhijab mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang untuk pulang ke rumah, setelah menjenguk temannya yang sakit.


Biasanya, gadis berkulit putih bersih tersebut selalu pergi bersama saudari kembarnya, Maida. Akan tetapi karena sesuatu hal, saudari perempuan yang lahirnya hanya selisih menit saja dengan dirinya itu sedang ada keperluan lain, terpaksa Maira pergi seorang diri tanpa pengawalan.


Maira menolak, ketika sore tadi sopir keluarga menawarkan untuk mengantarkan dirinya ke rumah teman.


"Tumben, baru jam segini kok sepi," gumam Maira yang tiba-tiba merasa tidak nyaman.


Gadis itu mengedarkan pandangan ke arah kanan dan kiri jalan yang menuju komplek perumahan elit di mana dia tinggal dan sepanjang jalan tersebut, terlihat lengang. Hanya ada satu dua mobil saja yang lewat dan berpapasan dengan mobilnya.


Maira menambah sedikit laju mobilnya, agar dia bisa segera sampai ke rumah yang jaraknya tidak lebih dari lima ratus meter dari tempatnya saat ini berada.


Baru saja beberapa meter mobilnya melaju, tiba-tiba mobil mewah Maira diseruduk oleh mobil lain dari arah belakang hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.


Mobil mewah Maira sempat oleng, tetapi beruntung gadis yang memiliki bulu mata lentik menghiasi mata indahnya itu sigap dan berhasil menguasai keadaan. Dia kemudian memelankan laju mobilnya.


Gadis berhijab pasmina dengan motif bunga-bunga kecil tersebut segera menghentikan laju mobil, bertepatan dengan mobil yang barusan menabrak, menyalip dan kemudian menghadang jalannya.

__ADS_1


Maira terdiam, menunggu apa yang akan terjadi sambil tangannya bersiaga memegang ponsel dan siap menghubungi sang daddy jika sesuatu hal buruk terjadi.


Gadis berhidung mancung tersebut melihat seorang pemuda turun dari mobil sport yang melintang di depan mobilnya dan melangkah ke arah pintu di sisi kiri, pemuda itu kemudian mengetuk pintu mobil Maira dengan kasar.


Maira membuka sedikit kaca jendela mobil dan melihat pemuda tersebut yang terlihat sangat marah, menatap dirinya.


"Turun!" titahnya, tidak sabar.


Maira tanpa ragu sedikitpun kemudian turun dari mobil.


"Kamu bisa mengendarai mobil enggak, sih?" cecar pemuda tersebut seraya menuding ke arah wajah Maira dengan tatapan penuh amarah karena jalannya untuk menuju tempat balap liar jadi terhambat, akibat mobilnya menabrak mobil gadis di hadapannya.


"Maaf ya, Mas. Masnya yang salah, tetapi kenapa Mas yang nyolot?" Maira menatap sang pemuda, tanpa rasa takut.


"Saya sudah jalan di sisi kiri, Mas, dan di sisi kanan juga masih luas, kan? Kenapa bisa-bisanya Mas menabrak mobil saya?" lanjut Maira, dengan melembutkan suara.


Gadis cantik itu tak habis pikir, dengan apa yang dilakukan oleh pemuda di hadapannya. Dia yang melakukan kesalahan, tapi malah menuduh orang lain yang bersalah. Persis seperti sebagian besar pejabat dan para wakil rakyat di negeri antah berantah.


Pemuda itu terdiam dan tatapannya tak lagi tajam.


"Atau jangan-jangan, Mas yang enggak bisa nyetir mobil?" tuduh Maira kemudian seraya tersenyum, mencibir.


"Apa kamu bilang? Hahaha ...." Pemuda tersebut tertawa sinis.


"Kalau aku enggak bisa nyetir, enggak mungkinlah aku selalu menang di setiap event balapan mobil atau motor!" lanjutnya, bangga.

__ADS_1


"Oh, ya?" Maira memiringkan wajah seraya menatap sang pemuda, dengan tatapan remeh.


"Paling balapannya sama pembalap-pembalap kacangan, makanya Mas yang menang," lanjut Maira masih meremehkan pemuda di hadapannya.


Pemuda tersebut mengepalkan tangan, terpancing kembali amarahnya karena Maira meremehkan kemampuannya menaklukkan jalanan beraspal.


"Hai, gadis kecil! Kalau kamu ingin bukti, ayo ikut denganku dan kamu lihat sendiri bagaimana aku beraksi menaklukkan semua lawan-lawanku di jalan raya!" ajaknya.


"Maaf, Mas. Ini sudah sangat malam, saya harus segera pulang. Lagipula, saya tidak butuh bukti apapun karena bagi saya, apa yang Mas lakukan tidaklah penting!" tolak Maira, tegas.


'Siapa dia berani menolakku!' geram pemuda tersebut dalam hati. 'Diluar sana, banyak gadis berebut ingin kuajak ke tempat balapan agar bisa mendampingiku. Mendampingi sang raja jalanan, tapi dia malah menolakku!'


Kata-kata Maira barusan, membuat sang pemuda semakin geram karena dirinya yang seorang primadona di genk-nya, dianggap tidak penting oleh gadis belia di hadapannya.


"Hahaha ... iya, benar. Ini sudah larut malam dan bagi gadis kecil seperti kamu, harusnya sudah berada di atas kasur yang empuk sambil minum susu sebelum bobok dan mendengarkan dongeng pengantar tidur," ejek sang pemuda seraya tergelak, meluapkan kejengkelannya pada Maira.


Ucapan pemuda yang masih tergelak di hadapan, membuat wajah Maira memerah menahan malu sekaligus amarah karena diledek disamakan dengan bocah.


"Saya bukan gadis kecil, ya, Mas! Saya sudah delapan belas tahun dan sudah lulus sekolah!" sangkal Maira, tidak terima dikatakan gadis kecil yang masih harus nyusu sebelum tidur.


Gadis berhijab tersebut nampak masih ingin melancarkan protes, ketika sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil Maira dan seorang wanita berusia sekitar tujuh puluh tahun kemudian turun dari mobil mewah yang sama jenisnya dengan mobil milik Maira.


"Oma?"


🌹🌹🌹 bersambung 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2