
Pagi-pagi sekali, Yudhistira telah dibangunkan oleh sang oma. Padahal, pemuda itu baru beberapa saat membaringkan tubuh setelah sholat shubuh tadi.
Yudhistira bahkan tidur masih dengan mengenakan sarung dan menggunakan sajadah sebagai alas tidurnya, dia juga telah menyetel weker agar tidak terlambat bangun.
"Jam berapa, sih, Oma. Wekernya aja belum bunyi," protes Yudhistira, seraya memicingkan mata.
Matanya masih terasa berat untuk di buka karena semalam, pemuda tersebut tidak juga dapat memejamkan mata karena terus memikirkan bagaimana nanti jika dirinya menjemput Maira.
"Sudah jam lima lebih, Yud. Kamu 'kan harus berangkat pagi untuk menjemput Nak Maira terlebih dahulu." Sang oma membuka jendela kamar sang cucu dan angin pagi berhembus masuk melalui jendela tersebut dan terasa dingin menerpa kulit.
"Ini masih pagi banget, Oma." Yudhistira kembali meringkuk, melepaskan sarung dan menariknya ke atas hingga menutupi wajahnya.
"Yudis, kalau kamu tidur lagi, nanti susah bangunnya," omel sang oma.
Mau tak mau, Yudhistira pun beringsut dan kemudian beranjak. Merapikan sajadah dan sarung terlebih dahulu, sebelum pemuda tersebut masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai mandi, Yudhistira membuka almari pakaian. Dia meneliti satu persatu koleksi kemeja yang jarang dia kenakan karena dalam kesehariannya, pemuda urakan tersebut lebih senang memakai kaos oblong.
'Pakai ini aja, deh,' gumam Yudhistira seraya mengambil kaos hitam press body dan kemeja kotak-kotak lengan panjang.
Pemuda tersebut segera mengenakannya. Kemejanya sengaja tidak dikancingkan dan lengannya digulung sebatas siku. Dia kemudian menyisir rambutnya yang masih basah.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Yudhistira segera keluar dari kamarnya.
"Sarapan dulu, Yudhis," titah sang oma, begitu melihat sang cucu keluar dari kamar.
"Yudhis makan roti saja, Oma," balas Yudhistira seraya mengekor langkah omanya, menuju meja makan.
"Bibi sudah masak masakan kesukaan kamu. Makanlah dulu, barang sedikit," pinta sang oma yang tidak dapat lagi dibantah oleh Yudhistira.
__ADS_1
Setelah mengambilkan nasi dan lauk untuk sang cucu, wanita tua tersebut memandangi Yudhistira yang sedang menyantap sarapannya dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman.
Beliau sangat senang melihat penampilan cucunya yang terlihat lebih rapi pagi ini.
"Rambut kamu memangnya tidak bisa lebih dirapikan lagi, Yud?" tanya sang oma, ketika Yudhistira tengah menikmati sarapannya.
Meskipun penampilan Yudhistira sudah lebih rapi, tapi bagi sang oma masih ada yang kurang dari penampilan cucunya tersebut.
"Ini 'kan sudah rapi, Oma," protes Yudhistira yang sudah berusaha untuk menuruti keinginan sang oma.
Bukan-bukan. Sepertinya bukan hanya sekadar untuk menuruti keinginan omanya, tetapi pemuda tersebut melakukan atas kesadaran dirinya.
"Belum, Yud. Masih ada yang kurang. Coba kamu ikat saja rambut kamu itu, biar lebih rapi," saran sang oma sambil tersenyum.
Rupanya, sang oma sedang mengenang mendiang opanya Yudhistira yang memiliki jenis rambut ikal bergelombang seperti rambut pemuda tersebut.
Dulu, almarhum suaminya juga gondrong seperti sang cucu dan opanya Yudhistira itu selalu mengucir rambutnya dengan rapi. Tidak seperti sang cucu yang membiarkan rambutnya dibiarkan berantakan dan acak-acakan.
Pemuda berhidung mancung tersebut segera beranjak, setelah makanan di piringnya tandas tanpa sisa.
Yudhistira kemudian berpamitan pada sang oma, menyalami omanya dan tidak lupa mencium pipi keriput wanita tua tersebut.
"Assalamu'alaikum, Oma." Pemuda tampan tersebut segera berlalu setelah mengambil tas punggung, meninggalkan sang oma yang masih tersenyum menatap kepergiannya.
Yudhistira segera masuk ke dalam mobil kesayangan, mobil sport berwarna hitam garang setelah menyimpan tas punggung di bangku samping.
Sebelum menghidupkan mesin mobil, Yudhistira mencari-cari sesuatu di dashboard mobil.
Dia tersebut sendiri setelah menemukan apa yang dia cari. Ikat rambut berwarna hitam dan sisir kecil.
__ADS_1
Yudhistira menyisir rambutnya kembali dan kemudian mengikat rambut rambut panjangnya dengan rapi. Pemuda tersebut melihat wajahnya dari pantulan kaca spion setelah rambutnya terikat dan senyum Yudhistira semakin terkembang lebar.
"Kayaknya, seperti ini memang lebih bagus," gumam Yudhistira.
Setelah menghidupkan mesin mobilnya, Yudhistira kemudian melajukan mobil sport tersebut membelah jalanan komplek, untuk menuju kediaman Daddy Rehan.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, mobil Yudhistira memasuki pintu gerbang kediaman Daddy Rehan.
Dahi pemuda tersebut berkerut, ketika di halaman rumah yang luas tersebut, terdapat banyak mobil mewah berjajar.
"Apa sedang ada acara, ya?" tanya Yudhistira pada diri sendiri.
Pemuda yang biasanya tidak pernah tampil rapi tersebut kemudian memarkirkan mobil miliknya, di dekat pos satpam.
"Pagi, Pak. Maaf, apa di dalam sedang ada acara ya, Pak?" tanya Yudhistira dengan sopan, setelah menghampiri security yang bertugas di pos jaga.
"Tidak ada, Mas. Kebetulan saja, putra-putri Tuan Rehan sedang berkumpul," balas security tersebut.
Yudhistira mengangguk, mengerti. "Ya sudah, Pak. Terimakasih," ucap Yudhistira yang kemudian berlalu dari sana.
"Kakak-Kakaknya Dik Mela sedang ngumpul?" Yudhistira tiba-tiba ragu untuk melanjutkan langkah, menaiki halaman rumah megah yang sudah ada di hadapan.
Pemuda itu memang sudah banyak tahu tentang keluarga Maira. Tentu saja dia tahu dari sang oma yang senang sekali menceritakan tentang keluarga Daddy Rehan, setiap kali Yudhistira dan sang oma makan bareng.
Yudhistira khawatir, kakaknya Maira tidak akan mengijinkan adik bungsunya itu jalan bersama pemuda berandalan seperti dirinya.
Yudhistira berhenti sejenak, meneliti kembali penampilannya dan memastikan bahwa semuanya sudah rapi, meski jauh dari kata sempurna.
"Semoga di antara mereka tidak ada yang jahil dan mereka tidak mempersulitku, nanti," harap Yudhistira sambil melanjutkan langkah dengan pasti.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น