Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Aku Segera Meluncur


__ADS_3

Kevin terus berusaha membujuk Yudhistira agar mau diajak untuk pulang. Setidaknya jika pemuda yang kini sudah tidak memiliki keluarga yang peduli padanya itu sungkan untuk tinggal di kediaman sang daddy, Kevin berharap Yudhistira mau tinggal bersamanya.


Akan tetapi, Yudhistira tetap menolak dan meminta waktu beberapa hari untuk berpikir terlebih dahulu.


"Besok, Yud. Abang tunggu jawaban kamu, besok. Satu malam, abang rasa cukup untuk kamu berpikir," desak Kevin.


"Jangan lagi menghindar dari kami, Yud. Beberapa minggu ini, kamu selalu menghindar dan itu membuat daddy sama mommy menjadi sedih dan kepikiran kamu terus," lanjutnya.


"Baiklah, Bang. Yudhis janji, besok sore Yudhis akan ke rumah Abang."


"Besok pagi, Yud, karena ada yang ingin dibicarakan oleh daddy dan mommy. Jika kamu tidak datang besok pagi, maka abang yang akan ke sini menjemput kamu," paksa Kevin.


Yudhistira mengangguk, pasrah.


Kevin dan Bayu kemudian pamit pulang karena waktu telah menunjukkan jam dua lebih. Yudhistira mengantarkan kakaknya Maira tersebut, hingga ke halaman depan.


Setelah mobil mewah Kevin berlalu, meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Bisma, Yudhistira kemudian segera beranjak masuk ke dalam rumah.


Pemuda tersebut tidak langsung naik ke lantai dua untuk menuju kamarnya, tetapi Yudhistira berjalan menuju dapur.


"Den Yudhis, Aden sudah pulang? Maaf ya, Den, bibi ketiduran tadi. Jadi tidak tahu kalau Aden sudah pulang. Den Yudhis mau bikin apa?" Bibi asisten yang baru saja keluar dari kamarnya itu, berjalan mendekati Yudhistira.


Ya, asisten setia keluarga Bisma tersebut selalu menunggu kepulangan Yudhistira di ruang keluarga. Namun malam ini, mungkin karena sudah ada Kevin yang menunggu tuan mudanya pulang, maka asisten rumah tangga itu memilih masuk ke dalam kamar dan ketiduran di sana.


"Mau bikin kopi, Bi," balas Yudhistira seraya mengambil cangkir keramik dari tempat penyimpanan.


"Sini, Den. Biar bibi saja yang buatkan," pinta asisten setia tersebut.


"Bikin kopi berapa, Den? Tiga?" lanjutnya, bertanya.


"Banyak bener, Bi. Satu saja, cuma buat Yudhis, kok," balas Yudhistira, menatap heran sang ART.

__ADS_1


"Kakaknya Non Maira, tidak dibuatkan sekalian, Den?" wanita berusia sekitar empat puluh tahun tersebut menatap Yudhistira yang menunggu di meja makan.


"Bang Kevin sudah pulang, Bi," balas Yudhistira.


"Oh, bibi kira mereka mau menginap."


Pemuda tersebut menggelengkan kepala.


"Den Yudhis. Aden makan, ya. Biar bibi panaskan sebentar lauknya," bujuk sang asisten seraya menyimpan kopi panas di atas meja makan, tepat di hadapan tuan mudanya.


"Bibi yakin, Den Yudhis pasti belum makan malam tadi," lanjutnya, menatap Yudhistira dengan penuh selidik.


"Tidak perlu, Bi. Yudhis tidak lapar, kok. Minum kopi ini saja, sudah cukup," tolak Yudhistira yang kemudian segera beranjak.


"Yudhis mau minum di atas saja, Bi. Bibi istirahatlah dan terima kasih untuk kopinya," pamit Yudhistira, sopan.


Pemuda itu memang suka ngebut di jalanan dan seolah tidak memiliki adab jika sedang melakukan balap liar atau sekadar kongkow-kongkow bersama teman-temannya di luar sana, tetapi sebenarnya dia adalah sosok yang santun terhadap orang tua dan juga ramah pada semua orang.


Dia mulai menyulut rokok dan kemudian menghisap batang yang entah untuk ke berapa kali, dalam semalam ini.


Yudhistira nampak sangat menikmati rokoknya, hingga asap dari rokok terlihat mengepul memenuhi tempat tersebut.


"Memang benar, apa yang Bang Kevin katakan tadi," gumam Yudhistira, setelah menyeruput kopinya yang sudah tidak lagi panas.


Pemuda itu kemudian menyulut batang rokok yang baru dan kembali menghisapnya dengan dalam. Dia nampak terbatuk-batuk, tetapi hal itu tidak membuat Yudhistira mematikan rokoknya.


Pemuda itu melanjutkan menghisap rokok sambil merenung, mengingat banyak hal yang disampaikan oleh Kevin tadi.


Di satu sisi, Yudhistira membenarkan apa yang diucapkan oleh kakaknya Maira bahwa hidupnya harus terus berlanjut dan jangan larut dalam kedukaan.


Yudhistira pun ingin bisa seperti itu, merelakan dan menata kembali hidupnya, tetapi ternyata semua begitu sulit untuk dia lakukan.

__ADS_1


Kata ikhlas, memang sangat mudah diucapkan. Namun, untuk dapat mengikhlaskan nyatanya hati Yudhistira belum dapat menerima kepergian sang oma yang tiba-tiba dan karena kesalahan pergaulannya.


Hal itulah yang membuat pemuda yang suka ngebut di jalanan tersebut, terus merasa bersalah dan menyesali kepergian omanya.


"Lantas, apa benar yang dikatakan Bang Bayu, tadi? Atau, Bang Bayu mengatakan itu semua hanya untuk menghiburku semata?" Yudhistira memejamkan mata, mencoba memahami perasaannya terhadap Maira.


Ya, tentang Maira. Meski semua orang mengatakan bahwa gadis yang telah berhasil menelusup masuk ke hatinya itu juga mencintai dirinya seperti yang juga dikatakan oleh Bayu tadi, tetapi Yudhistira tidak dapat percaya begitu saja.


Kekecewaan Maira terhadap dirinya malam itu, masih terekam dengan jelas di kepala Yudhistira dan hal tersebut membuatnya sempat berpikir bahwa orang-orang itu hanya ingin menghiburnya saja.


Tengah asyik bergelut dengan pikirannya sendiri, dering ponsel di dalam saku celananya membuyarkan lamunan Yudhistira.


Buru-buru pemuda tersebut mengambil ponselnya dan kemudian melihat siapa yang menghubunginya di waktu menjelang fajar seperti ini.


"Willy? Ada apa, ya? Apa dia mau menginformasikan tentang Awang? Ah, tidak mungkin. Mereka 'kan tidak begitu dekat." Yudhistira bertanya-tanya sendiri.


Untuk mengusir rasa penasaran, Yudhistira segera menerima panggilan tersebut.


"Halo, Will. Ada apa?"


"Bos, geng-nya Aaron nantangin kita. Katanya, kalau kita tidak menerima tantangannya, itu artinya kita menyerah dan dianggap kalah," terang suara di seberang sana.


"Apalagi, sudah satu bulan penuh kita tidak pernah lagi berkonvoi menguasai jalanan, Bos. Aku dengar, mereka hendak mengambil area kita dan mungkin saja akan menggeser posisi Bos," lanjut Willy, membuat darah muda Yudhistira bergejolak dan pemuda berambut gondrong tersebut langsung beranjak.


"Kapan dia ngajak adu cepat?" tanya Yudhistira sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Sekarang juga, Bos. Kita ditunggu di tempat biasa," balas Willy.


"Oke, aku segera meluncur."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2