Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Aku Sayang Sama Mas Yudhis


__ADS_3

Keesokan harinya, Maira tengah bersiap untuk menyambut kedatangan sang calon tunangan. Usai sarapan tadi, gadis cantik itu langsung kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri meninggalkan saudara-saudaranya yang masih asyik bercanda ria. Maira memoles tipis bibir dengan lipstik berwarna merah jambu yang kala itu dipilihkan Yudhistira untuknya, tetapi bukan sebagai bagian dari bingkisan seserahan.


Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi dan Maira bergegas keluar dari kamarnya ketika sang adik sepupu memanggil. "Kak Mela! Mas Yudhis udah datang, tuh!" teriak Iqbal.


Senyum Maira mengembang sempurna, menyambut kedatangan Yudhistira yang pagi ini mengenakan kemeja lengan pendek dan dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap. Rambut pemuda itu di sisir dengan rapi, menambah pesona ketampanannya. Yudhistira pun tersenyum manis seraya menatap penuh cinta ke arah Maira.


"Ehem. Dunia kek milik kalian berdua ya, Kak Mela, Mas Yudhis," celoteh Iqbal menyudahi tatapan kemesraan mereka berdua.


Pak Pandu yang mendampingi sang putra terkekeh. Begitu pula dengan Daddy Rehan dan Mommy Billa yang ikut menyambut salah satu tamu pentingnya pagi ini. Sementara tamu penting yang lain, calon tunangan Maida masih dalam perjalanan.


"Nang, kamu gabung sama kakak-kakak kamu di belakang sana!" suruh Mommy Billa pada sang keponakan yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Iqbal. Adik sepupu Maira itu bergegas menuju villa belakang, tanpa banyak protes seperti biasanya.


Mommy Billa segera mempersilakan ayah dan anak itu untuk masuk dan bergabung bersama dengan para orang dewasa dari keluarga besarnya di villa khusus tamu. Yudhistira dan Maira nampak canggung karena hanya mereka berdua pasangan muda dan mereka hanya menjadi pendengar setia dari obrolan para orang tua tersebut. Maira lalu berniat untuk mengajak Yudhistira bergabung bersama keluarganya yang lain di belakang, tetapi sang kekasih mencegah dengan isyarat kedipan mata.


"Mohon maaf sebelumnya, Om, Tante," ucap Yudhistira, menjeda pembicaraan para orang tua.


"Iya. Ada apa, Nak Yudhis?" tanya Daddy Rehan dengan dahi berkerut dalam. Begitu pula dengan Mommy Billa dan saudaranya yang lain.


Sementara Maira berdebar, menanti. Akankah sang kekasih hati benar-benar menyampaikan keinginan seperti yang diucapkannya tadi? Di samping Yudhistira, Pak Pandu tersenyum lebar seraya menepuk punggung sang putra, memberikan dukungan.

__ADS_1


"Om, Tante. Yudhis sangat mencintai putri Om dan Tante. Apakah Om dan Tante mengijinkan jika kami berniat untuk menikah dalam waktu dekat?" pinta Yudhistira dengan begitu berani, membuat senyum tipis terbit di bibir Daddy Rehan, mengagumi keberanian pemuda di hadapan.


"Pasti bolehlah. Ya 'kan, Rey?" sahut Om Devan dengan senyum tengilnya seperti biasa, membuat Daddy Rehan berdecak kesal karena sahabatnya itu selalu saja mendahuluinya.


"Memangnya, Nak Yudhis sudah selesai kuliahnya?" tanya Bunda Fatima yang belum begitu mengetahui cerita tentang Yudhistira.


"Belum, Tante, tetapi InsyaAllah Yudhis bisa menghidupi Dik Mela karena Yudhis kuliah sambil bekerja," balas Yudhistira gamblang.


"Dia kuliah sambil ngurus perusahaan, Kak Fa," bisik Om Alex yang duduk berdekatan dengan Bunda Fatima dan sang suami. Budhe dan pakdhenya Maira itu menganggukkan kepala, mengerti.


"Ya sudahlah, Rey. Restui saja daripada mereka selalu berdekatan tanpa ikatan halal, yang ada nambah dosa, kan?" saran Opa Sultan yang kondisinya mulai lemah.


"Tidak-tidak! Aku tidak mau grusa-grusu dalam memutuskan rencana pernikahan untuk putriku!" tegas Daddy Rehan, menolak usulan tersebut. Seketika, senyuman di wajah cantik Maira menghilang dan berganti dengan mendung kelabu.


Mengetahui perubahan sikap sang putri, Mommy Billa kemudian menyarankan pada sang putri untuk bergabung bersama saudara yang lain di villa keluarga di belakang. "Nak, ajak Mas Yudhis ke belakang saja, sana!"


Maira mengangguk dan kemudian segera beranjak seraya memberikan isyarat pada sang kekasih agar mengikutinya. Setelah berpamitan kepada para orang tua, pasangan kekasih itu kemudian segera berlalu dari sana. Sepanjang berjalan menuju villa keluarga, keduanya sama-sama terdiam.


Sementara di villa tamu obrolan para orang tua masih terus berlanjut. Mereka masih menanti satu rombongan tamu lagi yang kemungkinan akan segera tiba. Pak Pandu juga nampak nyaman berbincang hangat dengan mereka semua.

__ADS_1


Maira tiba-tiba menghentikan langkah, sebelum sampai di villa keluarga, tempat saudaranya berkumpul. Gadis cantik itu kemudian mendudukkan diri di atas ayunan yang terdapat di bawah pohon besar, di antara villa satu dengan villa yang lain. Yudhistira mengikuti kemudian dan duduk di ayunan satunya, tepat di hadapan Maira.


"Ada apa, Dik? Kenapa berhenti di sini?" tanya Yudhistira, penasaran.


"Mas Yudhis enggak marah 'kan, dengan keputusan daddy tadi?" tanya Maira, khawatir.


"Tentu saja tidak, Sayang, meskipun sejujurnya aku sedikit kecewa karena tadinya sudah memupuk harapan untuk bisa menikahimu segera," balas Yudhistira, jujur.


"Maaf, ya," pinta Maira, membuat calon imamnya itu mengerutkan dahi.


"Hai, kenapa minta maaf?" tanya Yudhistira seraya tersenyum. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sayang. Aku bisa mengerti keputusan daddymu yang pastinya menginginkan hal terbaik untuk putri kesayangannya," balas Yudhistira, bijak.


"Aku akan terus membuktikan pada mereka kalau aku mampu membahagiakan kamu, Sayang," lanjutnya, membuat senyuman kembali terbit di bibir Maira.


"Dan aku akan selalu mendukung kamu, Mas." Maira menatap dalam netra elang Yudhistira, membuat pemuda tampan itu terhipnotis.


Yudhistira tersenyum dan kemudian meraih tangan Maira lalu mencium tangan lembut itu dengan begitu dalam. "Dukung aku selalu, Sayang, karena aku tidak bisa tanpa kamu seperti waktu itu. Tahukah kamu, di saat kamu tidak mempercayaiku dulu, duniaku seakan runtuh. Aku benar-benar hancur dan kehilangan arah," ucap. Yudhistira yang kembali membuat Maira merasa sangat bersalah.


"Maafkan kebodohanku saat itu, Mas. Aku tidak akan mengulangnya lagi. Aku sangat sayang sama Mas Yudhis." Maira membalas dengan mengecup punggung tangan Yudhistira dan dari kejauhan sang daddy menyaksikan semua itu dengan menghela napas panjang.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2