
Keesokan harinya, kedatangan sang papa yang tiba-tiba, membuat Yudhistira yang saat ini ditemani oleh Bi Ina dan Mommy Billa, terkejut. Pemuda itu tidak menyangka, sang papa akan datang untuk menjenguk. Yudhistira jadi bertanya-tanya, siapakah gerangan yang memberitahukan pada papanya bahwa dia masuk rumah sakit.
"Bi, apa Bibi yang memberitahu papa?" tanya Yudhistira, berbisik ketika asistennya itu sedang membereskan sisa makan siangnya.
"Bukan, Den. Bibi tidak pernah menghubungi Tuan Pandu," balas Bi Ina dengan berbisik pula. "Apa mungkin Pak Noto ya, Den?" Bi Ina menduga-duga. Barangkali saja, petugas keamanan di kediaman keluarga Bisma itu yang menelepon papanya Yudhistira.
Yudhistira memandangi sang papa yang sedang menyapa Mommy Billa. Ya, antara Pak Pandu dan Mommy Billa sudah pernah bertemu ketika omanya Yudhistira meninggal, tetapi pertemuan itu hanya sekejap mata karena papanya Yudhistira buru-buru pulang ke Surabaya.
"Bibi permisi keluar ya, Den. Kalau Den Yudhis butuh apa-apa, silakan panggil bibi." Bi Ina segera pamit begitu melihat papanya Yudhistira mendekat ke ranjang pasien.
Yudhistira mengangguk.
"Tante tunggu di luar ya, Nak Yudhis," pamit Mommy Billa, kemudian.
Pemuda yang masih terbaring di atas ranjang pasien itu kembali menganggukkan kepala, seraya tersenyum hangat pada mommy-nya Maira.
"Bagaimana kondisi kamu, Yud?" tanya Pak Pandu berbasa-basi, setelah hanya ada mereka berdua di dalam ruang rawat Yudhistira yang cukup luas.
"Seperti yang Papa lihat," balas Yudhistira, kikuk. Ada perasaan bahagia menyelinap di hatinya, melihat kehadiran sang papa.
"Papa sempat terkejut ketika Om Rehan menelepon papa semalam," ucap Pak Pandu, kemudian.
__ADS_1
'Oh, jadi Om Rehan yang menelpon papa,' batin Yudhistira.
"Kebetulan, pagi tadi papa ada meeting di Bandung. Jadi, bisa sekalian mampir ke sini," lanjut sang papa, membuat Yudhistira yang sempat menaruh harapan karena merasa orang tua yang dia panggil papa itu masih perhatian padanya, kembali dibuat muak dengan sikap papanya.
Yudhistira menelan saliva, getir. "Dari dulu, Yudhis memang tidak penting dimata Papa," ucap Yudhistira yang kemudian membetulkan posisinya, hendak tidur.
"Yudhis masih butuh banyak istirahat, Pa. Yudhis mau tidur. Silakan kalau Papa mau pulang karena istri dan anak kesayangan Papa pasti sudah menanti," lanjut Yudhistira, mengusir sang papa dengan halus.
"Maafkan papa, Yud. Papa tidak bermaksud mengabaikan kamu. Hanya saja, apa yang dikatakan mama kamu itu benar. Kamu memang sulit diberi tahu dan sulit diatur. Makanya kamu bisa sampai kecelakaan seperti ini." Perkataan sang papa, membuat kebencian Yudhistira pada sang mama tiri semakin menjadi.
Sejak awal papanya menikahi wanita ambisius itu, Yudhistira memang selalu difitnah oleh mama tirinya. Istri muda sang papa selalu mengadu yang tidak-tidak pada papanya, sehingga Pak Pandu sering marah-marah tidak jelas pada putra kandungnya sendiri.
"Iya. Yudhis akui, istri Papa itu memang selalu benar. Makanya, lebih baik Papa urus saja istri Papa yang selalu benar itu dan urus juga anak kesayangan Papa yang pasti penurut," sindir Yudhistira.
"Yudhis sudah biasa sendiri, Pa. Jadi, Papa tidak perlu mengkhawatirkan Yudhis," imbuhnya yang kini telah memejamkan mata.
Terdengar sang papa menghela napas panjang dan laki-laki paruh baya tersebut kemudian mendudukkan diri di bangku yang berada di samping ranjang pasien.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin pulang dan meminta maaf sama Mama Leni, Yud?" Pertanyaan sang papa, membuat Yudhistira membuka matanya.
"Memangnya, Yudhis salah apa, Pa, sampai Yudhis harus meminta maaf pada wanita itu?" tanya Yudhistira yang terdengar ketus.
__ADS_1
"Karena membelamu, almarhumah oma begitu membenci mama Leni. Itu pasti karena kamu mengadu yang tidak-tidak 'kan, sama oma?" tuduh sang papa tanpa memikirkan bagaimana perasaan sang putra.
Pemuda yang masih terbaring lemah karena luka-luka di sebagian tubuhnya belum mengering sempurna itu, menarik napas panjang dan kemudian menghembuskan dengan kuat. Berharap, rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit di dada ikut keluar bersama hembusan napasnya. Yudhistira kemudian menggeleng seraya tersenyum, miris.
"Yudhis tidak pernah dan tidak perlu menceritakan apapun pada oma, Pa. Hati oma yang begitu lembut, bisa merasakan sendiri bagaimana sikap arogan istri Papa itu. Jadi, jika oma kemudian tidak suka pada dia, kenapa malah menyalahkan Yudhis? Kenapa dia tidak mencoba introspeksi diri?" Yudhistira membuang muka, enggan menatap sang papa.
"Imbasnya, oma sampai tidak mengijinkan papa untuk mengelola perusahaan peninggalan almarhumah opamu, Yud! Dan itu yang membuat Mama Leni semakin tidak suka pada oma dan tidak mengijinkan papa menjenguk kalian berdua!" imbuh Pak Pandu yang terdengar kesal.
Laki-laki paruh baya tersebut entah kesal pada siapa? Pada keputusan sang mama atau pada sikap sang istri yang memutuskan tali silaturahim antara dirinya dengan sang putra dan juga mamanya kala itu?
"Lantas, setelah oma meninggal, apa yang Papa inginkan? Apa Papa ingin mengelola perusahaan peninggalan opa?" tanya Yudhistira yang bisa menebak kemana arah pembicaraan sang papa.
Ragu, Pak Pandu mengangguk.
"Apa istri Papa itu yang mendesak Papa?" cecar Yudhistira, nampak tidak suka dengan sikap sang papa yang begitu patuh pada istri mudanya.
Yudhistira kemudian terkekeh pelan. "Serakah sekali istri Papa. Perusahaan yang Papa bangun bersama almarhumah mama, sudah dia nikmati bersama anaknya dan sekarang, dia masih mengincar perusahaan peninggalan opanya Yudhis. Di mana letak hati nurani istri Papa itu?" lanjutnya seraya geleng-geleng kepala.
"Tidak, Yud. Bukan seperti itu! I-ini, ini semua atas inisiatif papa sendiri," sanggah sang papa dengan sedikit gugup, membela sang istri muda yang tercinta.
๐น๐น๐น bersambung ๐น๐น๐น
__ADS_1