
Kemesraan sepasang kekasih itu terus berlanjut. Yudhistira makin senang mengumbar kata-kata mesra nan manis. Kata-kata yang membuat sang kekasih hati tersenyum ceria, dengan hati yang berbunga-bunga.
Satu demi satu barang-barang yang diperlukan untuk seserahan telah terbeli. Mulai dari skincare, set pakaian lengkap, pakaian dalam eksklusif, tas dan sepatu, serta cincin tunangan. Semuanya, Maira sendiri yang memilih, tentu atas persetujuan Yudhistira.
Yudhistira juga telah merapikan rambutnya, seperti permintaan sang kekasih. Kini, penampilan pemuda tampan tersebut terlihat lebih rapi meskipun rambutnya tidak diikat ke belakang. Yudhistira dan Maira kemudian segera kembali ke kafe karena tadi sang daddy telah mewanti-wanti agar mereka jangan lama-lama.
"Dik, beneran udah enggak ada yang mau dibeli lagi?" tanya Yudhistira sebelum mereka berdua sampai ke kafe di lantai satu.
"Sebenarnya masih ada, sih, Mas. Lain kali aja, deh, karena bukan bagian dari seserahan," balas Maira.
Yudhistira mengerutkan dahi. "Apa memangnya?" tanyanya, penasaran.
"Baju atau t-shirt couple," balas Maira seraya tersenyum, membuat Yudhistira ikut tersenyum dan reflek merangkul pundak Maira. Membuat gadis cantik itu berdebar karenanya.
"Mas, jangan seperti ini," tolak Maira yang kemudian menurunkan tangan Yudhistira dari pundaknya.
"Maaf jika kamu tidak berkenan, Dik," ucap Yudhistira tidak enak hati. "Jujur, aku selalu ingin dekat dan nempel terus sama kamu, Dik," lanjutnya.
"Dik," panggil Yudhistira kemudian seraya menghentikan langkah.
Maira ikut berhenti dan kemudian sedikit mendongak, menatap pemuda tampan di hadapan. "Ada apa, Mas?" Maira mengerutkan dahi.
__ADS_1
Yudhistira nampak ragu hendak menyampaikan sesuatu, membuat Maira semakin penasaran. "Mas, ada apa?" desak Maira.
"Kalau kita menikah muda, apa kamu setuju?" tanya Yudhistira memberanikan diri mengungkapkan keinginan.
Maira sempet terkejut karena memang selama ini mereka berdua belum pernah membahas tentang pernikahan. Berbeda dengan saudara kembar Maira yang nampak sudah siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Sedetik kemudian gadis cantik itu tersenyum.
"Kalau Mas Yudhis tanya seperti itu padaku, aku, sih, terserah Mas Yudhis aja. Kalau Mas memang sudah siap, aku setuju-setuju aja," balas Maira, membuat Yudhistira tersenyum lega.
"Tapi ... ada tapinya, loh, Mas," lanjut gadis cantik itu seraya tersenyum.
"Apa?" tanya Yudhistira dengan dahi berkerut dalam. Senyuman di wajah tampannya langsung sirna.
"Aku setuju dan mau menikah muda, kalau daddy dan mommy kasih ijin," balas Maira dan Yudhistira mengangguk, setuju.
Maira langsung mencubit lengan sang kekasih mendengar jawaban tidak serius dari pemuda berandalan yang telah mencuri hatinya. Gadis itupun kemudian ikut tertawa. Tawa mereka masih belum terhenti ketika mereka tiba di kafe hingga membuat ketiga orang tua mereka saling pandang.
"Ada apa, Nak? Kelihatannya kalian berdua happy sekali?" tanya sang mommy seraya menatap putri bungsunya ketika Maira telah duduk di samping wanita anggun itu.
"Tidak ada apa-apa, Mom," kilah Maira yang belum berani mengatakan obrolan mereka barusan.
Maira kemudian melirik ke arah sang kekasih yang tengah tersenyum kepadanya. Pak Pandu yang melihat arti senyuman sang putra, ikut tersenyum. Papanya Yudhistira itu kemudian angkat bicara.
__ADS_1
"Roman-romannya, anak-anak kita ini sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikah, Rey." Pak Pandu menatap sang calon besan seraya tersenyum.
Daddy Rehan mengerutkan dahi dan kemudian menatap Yudhistira dan sang putri, bergantian. "Memangnya, kalian sudah siap untuk menikah?" tanya Daddy Rehan tiba-tiba yang membuat Yudhistira dan Maira, terkejut.
Kedua insan yang tengah kasmaran itu tidak menyangka, sang daddy akan bertanya demikian. Maira dan Yudhistira saling pandang. Sedetik kemudian, keduanya sama-sama menganggukkan kepala.
"Mela, Sayang?" Mommy Billa menatap sang putri, seolah tidak percaya. Putri kecilnya itu, sekarang sudah berani mengambil keputusan untuk menikah di usia yang masih terbilang muda.
Mommy Billa kemudian menatap sang suami. "Dad ...." Hanya panggilan itu yang mampu keluar dari bibir Mommy Billa.
Daddy Rehan menghela napas panjang. Menatap sang putri dan Yudhistira, secara bergantian dan terus menerus, seolah hendak mencari keseriusan dari jawaban keduanya tadi. Daddy tampan itu kemudian menatap sang istri yang juga masih menatapnya.
"Mereka berdua sudah cukup dewasa, Mom. Biarlah mereka sendiri yang menentukan mau bagaimana hubungan mereka itu. Menunggu sampai selesai studinya atau mau langsung menikah dengan konsekuensi pikiran mereka akan terpecah, antara studi dan juga rumah tangga. Terlebih Yudhistira, juga harus mulai mengurus perusahaan," tutur sang daddy panjang lebar.
"Nak Yudhis. Mela, Sayang. Pernikahan itu bukan sesuatu hal yang sifatnya hanya main-main saja. Ada tanggung jawab yang sangat besar di sana. Sebagai suami, Nak Yudhis harus bertanggungjawab pada istri. Begitu pula seorang istri, yang juga memiliki tanggungjawab pada suami." Mommy Billa menatap dalam putrinya.
"Belum lagi jika kalian memiliki anak, maka tanggungjawabnya akan semakin bertambah besar. Selain memastikan anak-anak tidak kekurangan, kalian juga harus mendidik anak-anak kalian nanti dengan baik karena mereka adalah titipan yang harus benar-benar dijaga, dirawat, dibekali dengan ilmu dan iman, supaya anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik," lanjutnya menasehati dengan dalam.
Yudhistira dan Maira mengangguk, seraya tersenyum. Seolah baru saja mendapatkan pencerahan nasehat perkawinan. Keduanya kemudian kompak mengeluarkan suara.
"InsyaAllah, kami siap, Dad, Mom."
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น