
"Memangnya ada apa, Mom?" tanya Daddy Rehan setelah sang putri berlalu dari rasa ruang kerjanya, dengan penasaran.
"Sahabat Yudhis, Dad. Barusan, dia mengabarkan kalau omanya Yudhis masuk rumah sakit terkena serangan jantung," terang Mommy Billa, masih dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir.
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang, Dad! Kasihan Nak Yudhis, dia sendirian," ajak Mommy Billa.
"Baiklah, Mommy siap-siap dulu sana. Daddy akan siapkan mobilnya.
Kedua orang tua Maira itu pun segera keluar dari ruang kerja Daddy Rehan, dengan langkah sedikit tergesa.
Sementara di halaman luar, Maira masih celingak-celinguk mencari sosok Awang.
"Di mana Mas Awang?" gumam gadis cantik itu, bertanya-tanya.
"Non Mela, cari siapa?" tanya security yang baru saja menutup pintu gerbang.
"Temennya Mas Yudhis, Pak. Kata mommy, tadi ada temannya Mas Yudhis yang datang ke sini."
"Oh, Mas-mas yang barusan itu. Dia baru saja pergi, Non." Security yang bertugas menunjuk arah luar pintu gerbang.
"Tadi sepertinya ada yang menelepon, makanya dia enggak jadi nunggu Non Maira," lanjutnya.
'Ada apa, ya, Mas Awang mencariku? Terus Oma, gimana dengan kondisi Oma?' Maira kemudian segera menuju ke mobilnya yang masih berada di halaman.
'Aku harus kembali ke rumah itu sekarang, aku aku harus tahu kondisi oma. Tak peduli jika nanti aku akan bertemu dengan dia.' Maira bertekad untuk sejenak mengabaikan perasaannya, demi omanya Yudhistira yang sudah seperti omanya sendiri.
Baru saja gadis cantik yang matanya terlihat sembab karena habis menangis tadi hendak masuk ke dalam mobil, sang daddy terdengar memanggil.
"Nak, tunggu mommy, Nak. Kita ke rumah sakit sama-sama."
"Rumah sakit? Jadi oma, oma di bawa ke rumah sakit, Dad?" tanya Maira, terkejut.
Daddy Rehan mengangguk sambil berjalan menuju mobil yang baru saja disiapkan oleh sopir pribadinya.
__ADS_1
"Memangnya, oma Mas Yudhis kenapa, Dad. Kenapa sampai di bawa ke rumah sakit segala?" cecar Maira.
"Menurut sahabat Yudhis tadi, oma terkena serangan jantung," balas Daddy Rehan seperti yang didengar dari sang istri barusan.
"Innalillahi ...." Maira menutup mulutnya sendiri, teringat akan perkataan gadis yang mengaku hamil anaknya Yudhistira tadi.
'Pasti gara-gara mereka oma jadi syok,' batin Maira, sendu.
"Ayo, Mela!" Mommy Billa yang sudah berganti pakaian segera masuk ke dalam mobil.
Maira tersadar dari lamunannya dan kemudian segera ikut masuk ke dalam mobil. Gadis cantik itu duduk di bangku belakang, bersama sang mommy.
"Ke rumah sakit Medika ya, Pak," pinta Mommy Billa pada pak sopir yang mengendarai mobil mewah milik Daddy Rehan.
"Baik, Nyonya." Pak sopir segera melajukan kendaraannya, keluar dari pintu gerbang yang tinggi menjulang kediaman keluarga Daddy Rehan.
Di bangku depan, Daddy Rehan terdengar sedang sibuk menelepon.
Sepertinya, daddy tampan itu menghubungi putra-putrinya serta saudaranya yang lain dan mengabarkan tentang apa yang terjadi pada omanya Yudhistira.
"Kita berdo'a sama-sama, Sayang. Semoga, omanya Mas Yudhis baik-baik saja." Mommy Billa menepuk lembut punggung tangan sang putri, mencoba menangkan putri bungsunya tersebut.
Mommy Billa tahu pasti, bahwa sang putri pastilah sangat bersedih karena Maira sangat dekat dengan wanita tua yang merupakan omanya Yudhistira.
Maira mengangguk, seraya mengaminkan harapan sang mommy. "Aamiin."
Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, sampailah mereka di rumah sakit yang dituju.
Maira berlari mendahului sang daddy dan sang mommy, setelah anak bungsu dan kedua orang tuanya itu turun di depan lobi rumah sakit.
Daddy Rehan dan Mommy Billa yang mengerti keadaan Maira, membiarkan saja putrinya mendahului mereka berdua.
Maira segera menuju ke bagian informasi untuk menanyakan keberadaan omanya Gilang.
__ADS_1
"Sus, atas nama Nyonya Zaidah Bisma. Beliau dirawat di ruang apa ya, Sus?" tanya Maira.
"Baik, Mbak. Tunggu sebentar," balas wanita cantik yang duduk di belakang meja komputer.
"Beliau baru beberapa saat yang lalu, dibawa ke sini, Sus," lanjut Maira menginformasikan dan petugas informasi tersebut mengangguk.
"Beliau dirawat di ruang ICU, Mbak," ucap petugas informasi seraya menunjuk arah koridor yang menuju ke ruang ICU.
"ICU?" tanya Maira dengan suara tercekat di tenggorokan.
Gadis itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Wanita tua yang tadinya baik-baik saja dan sangat sehat, bisa tiba-tiba masuk ke ruangan yang menakutkan yaitu ruangan ICU yang dipenuhi dengan peralatan medis.
"Di ruangan apa, Sayang?" tanya Mommy Billa yang baru saja berhasil menyusul sang putri.
"ICU, Mom, Dad. Ayo, kita segera ke sana!" ajak Maira dengan tidak sabar.
Mommy Billa dan Daddy Rehan terpaksa ikut berlari kecil, mengimbangi langkah cepat Maira untuk segera sampai ke ruangan yang dituju.
Setibanya di tempat yang dituju, Maira terpaku di tempatnya begitu melihat sosok yang sangat dia kenali, sedang bersimpuh di depan pintu ruangan yang bercat putih tersebut.
Yudhistira tergugu di sana, di dampingi oleh seorang asisten rumah tangga.
Melihat kedatangan Maira dan kedua orang tuanya, Yudhistira bergeming. Pemuda yang sedang kalut itu sama sekali tidak ingin menyapa.
"Den, ada Non Maira dan orang tuanya," bisik bibi asisten, tetapi Yudhistira tetap pada pendiriannya.
Asisten rumah tangga tersebut kemudian beranjak dan menyapa Maira serta kedua orang tuanya.
"Maafkan Den Yudhis, Non, Nyonya, Tuan. Sepertinya, Den Yudhis sangat terpukul karena kondisi Nyonya Besar kritis," terang asisten setia di kediaman keluarga Bisma.
Mendengar wanita tua yang selama ini dia panggil oma kritis, air mata Maira berjatuhan kembali, tetapi gadis itu tidak ingin mendekat ke arah Yudhistira.
Maira memilih duduk di salah satu bangku yang tersedia, dengan mengambil jarak yang paling jauh dari pintu ruangan serba steril itu.
__ADS_1
'Menjauhlah, Mela. Aku tahu, kamu pasti tidak akan sudi berdekatan dengan berandal seperti aku,' batin Yudhistira yang sempat melirik ke arah Maira, dengan perasaan kecewa.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น