
Melihat kemesraan sang putra dan calon tunggangannya itu, membuat Pak Pandu tersenyum lebar. Laki-laki paruh baya tersebut berharap, kehidupan sang putra nantinya akan bahagia. Pak Pandu kemudian berdeham untuk mengalihkan perhatian Yudhistira dan Maira.
"Nak Mela tadi ke sini sama daddy dan mommynya, ya?" tanya Pak Pandu kemudian, memastikan pendengarannya yang tadi sekilas dapat menangkap pembicaraan sang putra dan gadis cantik itu.
Maira mengangguk dan kemudian menunjuk ke arah sang daddy. Tepat di saat yang sama, dari tempatnya duduk Daddy Rehan nampak melambaikan tangan ke arah mereka. Maira kemudian menoleh ke arah Yudhistira dan pemuda tampan itu menganggukkan kepala.
"Mari, Om. Kita ke sana," ajak Maira seraya menoleh ke arah Pak Pandu.
Pak Pandu lalu berjalan di depan. Di belakangnya mengekor Yudhistira yang berjalan bersisihan dengan sang calon tunangan. Sesekali, Yudhistira nampak memegang pergelangan tangan Maira, membuat gadis cantik itu berdebar.
"Dik, sebenarnya aku ke sini mau sekalian mencari seserahan untuk acara besok, tapi aku kebingungan tadi karena tidak tahu ukuran baju dan sepatu kamu. Aku juga tidak tahu warna dan model kesukaan kamu," terang Yudhistira, berbisik.
"Kalau warna dan model, sih, apa aja asalkan Mas Yudhis yang pilihin pasti aku pakai," balas Maira, membuat Yudhistira melayang.
"Tapi kalau untuk ukuran, harus dicoba dulu, sih, Mas. Sebab, beda merk 'kan, seringnya beda ukuran," lanjutnya seraya mendongak, menatap sang kekasih yang memiliki postur tubuh tinggi tegap.
"Iya, kamu benar, Dik. Kalau begitu nanti kita cari sama-sama, gimana?" tawar Yudhistira penuh harap.
Maira mengerutkan dahi. "Kalau daddy dan mommy kasih ijin, aku mau-mau aja, sih, Mas," balas Maira.
"Biar nanti, om yang akan memintakan ijin pada daddy dan mommymu, Nak," sahut Pak Pandu yang mendengar obrolan mereka berdua.
Yudhistira mengangguk setuju, seraya tersenyum senang. Sementara Maira, tersenyum samar. Gadis berhijab itu tidak ingin sang kekasih tahu bahwa hatinya kini tengah berbunga-bunga.
__ADS_1
Ya, tentu saja Maira sangat senang. Melihat Yudhistira akur sama papanya saja, dia sudah sangat senang. Apalagi tadi sang pengeran pujaan mengajak Maira untuk memilih seserahan untuknya sendiri. Perasaannya benar-benar membuncah bahagia, terlebih ini kali pertama mereka akan kencan berdua tanpa gangguan dari saudara.
"Pandu, apa kabar?" sapa Daddy Rehan menyapa teman masa kecilnya.
Pak Pandu tersenyum dan kemudian memeluk Daddy Rehan. "Kabar baik, Rey," balas Pak Pandu, setelah melerai pelukan. "Apalagi kemarin ketika mendengar dari Yudhis kalau dia akan bertunangan dengan putrimu, aku sangat bahagia," lanjutnya seraya menepuk pundak Daddy Rehan.
"Terima kasih banyak, Rey. Kamu dan keluargamu telah menjaga dan membimbing putraku hingga Yudhis bisa menjadi seperti sekarang," imbuh Pak Pandu yang tiba-tiba menjadi sendu.
Daddy Rehan menepuk pelan punggung teman masa kanak-kanaknya dulu. "Dia juga putraku, Pandu. Tante Saidah sudah menitipkan Yudhis padaku jauh-jauh hari sebelum beliau berpulang," tutur Daddy Rehan.
"Mari-mari, silakan duduk, Pak Pandu." Mommy Billa yang sedari tadi berdiri di samping sang suami menyambut calon besannya, kemudian mempersilahkan papanya Yudhistira untuk duduk.
"Iya-iya. Aku sampai lupa mengajakmu untuk duduk, Pandu." Daddy Rehan terkekeh dan kemudian ikut duduk kembali setelah Pak Pandu menempati sebuah kursi.
"Rey, kebetulan banget ya, kita ketemu di sini. Aku tadi sama putraku hendak mencari sesuatu untuk putrimu, tapi sewaktu aku tanya Yudhis malah tidak tahu apa-apa tentang model pakaian dan warna kesukaan putrimu," tutur Pak Pandu memulai pembicaraan.
"Nah, mumpung mereka berdua ketemu sekarang, bolehkah Yudhis mengajak Nak Mela untuk berkeliling mencari apa yang mereka perlukan?" ijin Pak Pandu, kemudian.
Mommy Billa dan Daddy Rehan saling pandang dan mommy cantik itu mengangguk, membolehkan. Daddy Rehan lalu menatap Yudhistira, membuat pemuda tampan tersebut menjadi salah tingkah. Yudhistira kemudian memberanikan diri mengangguk, memohon ijin.
"Baiklah, kalian boleh berkeliling tapi jangan lama-lama, ya. Kami tunggu kalian di sini," pesan Daddy Rehan.
"Iya, Dad. Kami enggak akan lama, kok. Seperlunya saja," balas Maira. "Lagipula, kaki Mas Yudhis 'kan, belum benar-benar pulih, Dad," lanjut Maira yang sekaligus mengingatkan sang calon tunangan.
__ADS_1
Yudhistira mengangguk, membenarkan ucapan Maira. "Benar, Om. Kami tidak akan lama," timpalnya seraya tersenyum sopan.
Setelah berpamitan, kedua sejoli itu kemudian segera berlalu. Mereka berdua berjalan dengan bersisihan tanpa saling menggandeng tangan. Hanya lengan mereka berdua yang sesekali saling menempel ketika harus melewati kerumunan dan berdesakan.
"Dik, mau cari apa dulu?" tanya Yudhistira.
"Skincare dulu kali ya, Mas. Tuh, pas di depan situ gerainya," tunjuk Maira pada gerai kosmetik sebuah brand ternama yang produknya sudah cocok di kulit Maira.
Yudhistira mengangguk dan mereka berdua segera menuju ke sana. Maira lalu memilih satu set produk yang biasanya dia gunakan. SPG gerai tersebut kemudian menyiapkan pesanan pelanggannya.
"Udah cukup, Mas. Yuk, ke kasir," ajak Maira setelah menerima bonnya.
"Kok, enggak ada lipstiknya, Dik?" tanya Yudhistira seraya mengamati barang-barang yang ada di atas etalase.
"Enggak perlu, Mas. Aku pakainya lipbalm dan di rumah masih ada, kok," terang Maira.
"Tapi aku pengin kamu sesekali pakai yang warna merah kayak gitu, Sayang." Yudhistira menunjuk ke arah gambar seorang artis Hollywood yang bibirnya merah merekah.
Maira terkikik sendiri. "Geli, ah, Mas. Masak aku pakai lipstik warna merah gitu, kayak ibu-ibu," protesnya kemudian.
"Lah 'kan, kamu memang calon ibu Sayang. Ibu dari anak-anakku," bisik Yudhistira tepat di telinga Maira, membuat pipi gadis cantik itu merona.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1