Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Melupakan Kisah Kelam


__ADS_3

Yudhistira dapat bernapas dengan lega, setelah wanita ambisius yang selama ini menguasai sang papa, keluar dari kediaman keluarga Bisma. Pemuda tampan itu kemudian beranjak untuk kembali ke kamarnya di lantai atas. Yudhistira sengaja tidak menemui papanya terlebih dahulu untuk memberikan waktu pada sang papa menenangkan diri, setelah semua yang diketahui oleh Pak Pandu barusan.


Setibanya di kamar, Yudhistira segera merebahkan diri di atas ranjang yang empuk. Dia tatap setiap sisi dinding, seolah hendak menyimpan memori tentang kamarnya karena setelah menikah nanti, Yudhistira tidak mungkin lagi tinggal di kamar tersebut. Dia sudah berencana untuk merombak kamar utama di bawah yang akan dijadikan sebagai kamar pengantinnya nanti meskipun entah itu kapan?


Tatapan Yudhistira terhenti pada foto semasa dia masih sekolah dulu. Dalam foto tersebut, rambutnya masih pendek dan Yudhistira terlihat sangat macho. Pemuda itu tersenyum dan kemudian beringsut.


"Sepertinya aku harus memotong rambutku," gumam Yudhistira seraya menatap ke arah cermin besar yang menempel di dinding kamarnya.


Dia acak-acak sendiri rambut panjangnya dan kemudian dirapikan kembali menggunakan jari. Yudhistira memiringkan kepala ke kanan, ke kiri, dan kemudian tersenyum. "Ya, sudah saatnya aku potong rambut." Dia memantapkan hati untuk merubah penampilan sebelum acara pinangan berlangsung.


"Sebaiknya, nanti sore saja sekalian ngajak papa jalan-jalan," lanjutnya sambil kembali ke atas pembaringan. Yudhistira kemudian memejamkan mata dan tidak lama kemudian, calon tunangan Maira itu telah berlayar ke alam mimpi.


\=\=\=\=\=


Menjelang ashar, Yudhistira nampak sudah segar karena baru saja mandi. Rupanya, dia sudah tidak sabar untuk merubah penampilan. Setelah melaksanakan ibadah wajib tersebut, pemuda tampan itu segera turun untuk menemui sang papa.


Dilihatnya, sang papa sedang menikmati kopi seorang diri di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Yudhistira segera mendekat dan kemudian duduk di samping papanya. Pemuda itu lalu mengambil kopi sang papa yang disimpan di atas meja dan menyeruputnya tanpa permisi, membuat Pak Pandu tersenyum.

__ADS_1


"Sudah lama papa tidak melihat kebiasaanmu itu, Nak. Papa kangen dengan masa-masa itu," tutur Pak Pandu dengan netra menerawang ke arah televisi, tetapi pikirannya tertuju pada mendiang sang istri.


Ya, dulu jika Yudhistira hendak berangkat ke sekolah, pemuda itu suka sekali meminum kopi papanya. Sang mama akan ngomel-ngomel karena Yudhistira minum sambil berlari. Tidak jarang, pemuda itu kemudian tersedak sebab minum dengan terburu-buru.


Pak Pandu yang duduk di meja makan dan melihat kejadian tersebut, tersenyum. Momen pagi seperti itulah yang membuat keluarga kecilnya terasa ramai meskipun hanya dikaruniai satu anak. Ulah Yudhistira yang terkadang sulit diatur, tetapi sebenarnya hanya untuk mencari perhatian ke-dua orang tuanya saja.


Yudhistira menepuk pelan punggung tangan sang papa, membuat lamunan laki-laki paruh baya tersebut, buyar seketika. Pak Pandu kemudian menoleh ke arah sang putra yang tengah tersenyum kepadanya. "Ada apa, Nak?"


"Pa, temani Yudhis keluar, yuk," ajak Yudhistira. "Yudhis mau beli cincin tunangan, sekalian mau potong rambut," lanjutnya.


"Kamu mau memotong rambut kebanggaan kamu? Apa calon tunangan kamu yang menyuruh?" cecar sang papa.


"Yudhis mau potong rambut atas keinginan Yudhis sendiri, Pa. Dik Mela bahkan belum tahu dengan rencana Yudhis yang dadakan ini," jawab Yudhistira.


Pak Pandu mengangguk, setuju. "Baiklah, papa setuju dan papa akan antar kamu. Tetapi untuk cincin tunangan, kamu tidak perlu membelinya, Nak." Laki-laki paruh baya tersebut segera beranjak.


"Tunggu sebentar," lanjutnya dan Pak Pandu segera menuju ke kamarnya. Meninggalkan Yudhistira yang menatap kepergian sang papa dengan dahi berkerut dalam.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, Pak Pandu telah kembali dengan membawa dua kotak perhiasan. Yang satu berukuran kecil dan berwarna merah. Yang satunya lagi berukuran lebih besar dan berbentuk hati, berwarna biru.


Setelah duduk kembali di tempatnya semula, Pak Pandu membuka kotak perhiasan kecil dan kemudian menunjukkan pada sang putra. "Dulu, cincin ini papa beli untuk meminang mamamu. Sebelum mama meninggal, mama berpesan agar cincin ini papa berikan sama kamu saat kamu akan meminang seorang gadis. Ini, Nak, papa serahkan cincin ini padamu sesuai amanah almarhumah mama." Air mata Pak Pandu lolos begitu saja, mengenang mendiang istrinya.


Yudhistira menerima cincin bertahtakan berlian indah itu dengan tangan bergetar. Dia ambil cincin itu dari tempatnya dan kemudian menciumnya dengan penuh perasaan. Seolah, Yudhistira tengah mencium jemari tangan sang mama. "Yudhis sayang sama mama," gumamnya, membuat air mata Pak Pandu semakin tumpah.


Laki-laki paruh baya itu kemudian memeluk putra tunggalnya. "Maafkan papa, Nak. Maaf karena papa telah mengabaikan kamu selama ini," sesalnya.


Yudhistira menepuk-nepuk punggung sang papa. Pemuda itupun tidak mampu berkata-kata. Hanya perasaan bahagia yang saat ini memenuhi hatinya.


"Pa, lalu yang itu?" tanya Yudhistira setelah sang papa melepaskan pelukannya.


"Ini satu set perhiasan yang papa belikan untuk mamamu ketika kami mengetahui bahwa kamu telah hadir di antara kami setelah melalui perjuangan yang cukup panjang yang kami lakukan," terang Pak Pandu seraya membuka kotak perhiasan berwarna biru tersebut.


"Hadirmu sangat kami nantikan, Yudhis. Kamu begitu berharga untuk kami berdua, Nak." Pak Pandu menatap sang putra dengan tatapan dalam.


Sejenak kemudian, laki-laki paruh baya tersebut menghela napas berat. "Rasa cinta papa yang begitu besar pada mamamu, membuat papa sangat kehilangan ketika mamamu tiba-tiba pergi. Papa seperti kehilangan arah hingga kemudian papa tersesat pada wanita itu." Tangan Pak Pandu mengepal sempurna, mengingat mantan istri mudanya.

__ADS_1


"Lupakan kisah kelam itu, Pa. Mari kita buka lembaran baru, dimana hanya ada Papa, Yudhis dan keluarga kecil Yudhis nantinya."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2