
Mendengar perkataan sang keponakan, Mommy Billa nampak terburu-buru berjalan keluar dari ruang rawat Yudhistira. Wanita yang masih terlihat cantik dan segar meskipun usianya sudah setengah abad lebih tersebut segera menemui sang suami di teras paviliun. Istri Daddy Rehan itu kemudian menyapa kekasih Maida yang terlihat ikut asyik mengobrol bersama para orang tua.
"Oh, Ada Bang Er." Mommy Billa tersenyum ramah.
Melihat kehadiran Mommy Billa di sana, pemuda tampan yang sudah hampir satu tahun menjalin hubungan dengan salah satu putri kembar Daddy Rehan tersebut segera beranjak untuk menyalami Mommy Billa. "Apa kabar, Tante?"
Mommy Billa menyambut uluran tangan Erlan dengan hangat. Istri cantik Daddy Rehan itu kemudian menjawab pertanyaan kekasih sang putri dengan suaranya yang lembut. "Alhamdulillah, kabar baik, Bang Er. Silakan duduk."
"Terima kasih, Tan." Kekasih Maida kembali duduk di tempatnya.
Mommy Billa kemudian ikut duduk di samping sang suami. Wanita anggun itu tidak langsung menanyakan kabar kebenaran berita yang didengar dari Iqbal, tetapi ikut menyimak dahulu obrolan suami dan sahabat-sahabatnya yang hangat.
"Yang itu tadi, bagaimana, Rey? Mumpung ada si Billa juga, tuh. Mas Erlan sepertinya sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban lu." Suara Om Devan, mengalihkan obrolan yang tadinya santai menjadi serius.
"Apaan, sih, Dev? Momennya enggak tepat, tahu, enggak!" protes Daddy Rehan.
"Kalau hanya kasih jawaban kepastian, enggak masalah, lah, Rey. Untuk action-nya, baru nyari momen yang tepat," sahut Om Alex.
"Aku setuju sama mereka berdua, Rey. Kasih kepastian dulu, biar kekasih Maida juga lega," timpal Opa Alvian.
"Kalian kenapa mainnya keroyokan, sih?" Daddy Rehan menatap ketiga sahabatnya, bergantian.
"Ada apa memangnya, Dad?" tanya Mommy Billa, mengalihkan perhatian Daddy Rehan pada sang istri tercinta.
"Itu, lho, Bill. Mas Erlan gue dengar udah lama menjalin hubungan sama si Mai. Lah, daripada terjadi fitnah, kami kasih saran sama suami lu agar sebaiknya mereka berdua dinikahkan saja," sahut Om Devan, sebelum Daddy Rehan sempat menjawab pertanyaan sang istri.
__ADS_1
"Kalaupun pernikahannya enggak sekarang-sekarang, minimal hubungan mereka berdua udah ada kejelasan, Mbak," timpal Om Alex.
"Bisa dengan bertunangan dulu, begitu mungkin, Bill." Opa Alvian ikut menimpali.
Mommy Billa mengangguk-anggukan kepala. "Kalau mommy, sih, terserah bagaimana anaknya saja ya, Dad?" Mommy cantik itu kemudian menatap sang suami.
"Iyain aja, lah, Rey. Kelamaan!" desak Opa Alvian.
"Gimana, Mas Erlan?" Om Devan menatap kekasih Maida.
"InsyaAllah, saya siap, Om." Dengan tegas, pemuda tampan kekasih Maida tersebut, menyanggupi. "Kami berdua sebelumnya memang sudah pernah membicarakan ini. Hanya saja, kami menunda untuk menyampaikan sama Om Rehan dan Tante karena teman Dik Mela kecelakaan," imbuhnya.
"Kalian sudah membahas pernikahan?" tanya Om Alex.
"Belum, Om. Belum sejauh itu. Kami baru membahas untuk meresmikan antara dua keluarga saja. Kemarin papa dan mama juga sempat menanyakan, tetapi Dik Mai bilang nanti saja nunggu Yudhis sehat dulu," terang Erlan.
"Eh, ke rumah siapa, nih?" Daddy Rehan menatap om dari sang istri dengan tatapan tidak mengerti.
"Ya ke rumah lu, lah, Rey. Ke rumah siapa lagi?" Opa Alvian terkekeh, begitu pula dengan Om Alex dan Om Devan. Sementara Mommy Billa dan Erlan, tersenyum.
Mommy-nya Maida itu memang menyukai sosok kekasihnya sang putri. Di mata mommy cantik itu, Erlan adalah sosok yang santun dan bertanggungjawab. Tentu bagi seorang ibu, Mommy Billa tidak keberatan jika sang putri menjalin hubungan dengan pemuda baik seperti Erlan dan berharap mereka berdua berjodoh.
Keheningan menyapa teras paviliun tersebut.
Daddy Rehan menghela napas panjang. Laki-laki yang usinya sudah mencapai kepala enam itu melirik pemuda tampan yang terus menyunggingkan senyuman. Sejujurnya, daddy-nya Maida itupun tidak keberatan jika sang putri dinikahi Erlan.
__ADS_1
"Tadi kami juga bahas, gimana kalau sebaiknya pertunangan Mai dan Mela dibarengkan, Bill." Suara Opa Alvian, mengurai keheningan yang sejenak tercipta.
"Mela?" Mommy Billa menatap sang suami yang masih terdiam.
"Benar, Mbak. Mela sama Yudhis, kelihatannya juga sama-sama suka, kan? Lagi pula, si Yudhis udah dititipin sama kalian 'kan, oleh omanya?" sahut Om Alex, bertanya.
"Iya, sih. Tadi, si Yudhis juga sempat minta ijin sama kami untuk menjalin hubungan dengan Mela," balas Mommy Billa.
"Nah, tunggu apalagi? Anaknya udah gentle berani meminta ijin gitu, baguslah. Lu enggak keberatan 'kan, Rey?" Opa Alvian menatap Daddy Rehan.
Daddy tampan itu masih terdiam. Laki-laki paruh baya tersebut nampak masih menimbang-nimbang. Memang benar apa yang dikatakan oleh sahabat-sahabatnya, tetapi egonya sebagai seorang ayah tetap masih menganggap bahwa kedua putrinya masih kecil.
"Dad, apa yang membuat Daddy ragu? Apa tentang Yudhis?" bisik sang istri, bertanya.
"Bukankah Daddy sendiri yang bilang waktu itu ketika pertama kali bertemu dengan Yudhis, kalau anak itu sebenarnya baik?" lanjutnya, bertanya.
Daddy Rehan mengangguk, membenarkan. "Iya, Mom. Daddy masih ingat itu.
"Lantas, apalagi yang membuat Daddy risau?" Mommy Billa menatap sang suami dengan tatapan hangat.
Daddy tampan yang saat ini telah memiliki sembilan cucu tersebut, kembali menghela napas panjang. Tidak lama kemudian Daddy Rehan beranjak. Beliau menarik tangan sang istri, pelan, agar ikut beranjak dari tempat duduknya.
"Kita bahas ini di dalam, biar Mai, Mela, dan juga Yudhis, bisa sekalian mendengar." Daddy Rehan segera berjalan masuk ke dalam paviliun yang diikuti oleh Mommy Billa.
"Apa itu artinya, benar-benar akan terjadi pernikahan massal, Rey?" seru Om Devan, tergelak.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung... ๐น๐น๐น