
Tubuh tinggi tegap Yudhistira merosot ke lantai rumah sakit yang dingin, setelah beberapa saat menanti di depan pintu bercat putih dan seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan steril tersebut mengatakan, bahwa sang oma tidak dapat lagi tertolong jiwanya.
Pemuda gagah itu memukul kepalanya sendiri, menyalahkan diri atas apa yang menimpa sang oma, satu-satunya keluarga yang peduli dan sayang pada Yudhistira.
Kini, tak ada lagi baginya tempat untuk bersandar. Tidak ada lagi sang oma yang selalu cerewet mengingatkan dirinya agar tidak telat makan.
Tidak ada lagi suara wanita tua yang akan mengingatkan Yudhistira, agar jangan keseringan begadang dan tidur terlalu malam. Tidak ada lagi omanya yang tidak pernah bosan mengingatkan, agar dirinya jangan pernah melupakan Tuhan.
Satu-satunya sahabat yang dia miliki juga telah berkhianat, memilih membela wanita yang dicinta daripada jalinan persahabatan mereka berdua.
Sementara satu-satunya gadis yang berhasil menaklukkan hati Yudhistira yang selama ini tertutup rapat, sepertinya sudah tidak percaya lagi pada dirinya yang dianggap sebagai seorang berandalan yang tidak akan pernah dapat berubah.
Yudhistira terus menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa sang oma, dan meratapi kesendiriannya yang tak lagi memiliki sandaran, teman, ataupun sang pujaan.
"Nak Yudhis. Ayo, bangkit, Nak." Suara lembut Mommy Billa yang tadi langsung ikut mendekat ke pintu menemani Yudhistira ketika tim dokter melakukan tindakan terbaik untuk pasiennya, mencoba menyadarkan pemuda tersebut dari keterpurukannya.
Yudhistira bergeming, pemuda berambut gondrong itu tetap dengan posisinya yang bersimpuh di lantai putih rumah sakit.
Barulah ketika Daddy Rehan yang sedari tadi juga ikut menemani di depan pintu ICU mengatakan, bahwa sang oma harus segera diurus jenazahnya, pemuda itu beringsut dan kemudian beranjak masuk ke dalam ruangan di mana tubuh sang oma telah terbujur kaku di sana.
"Mau dimandikan di rumah atau di sini saja, Nak Yudhis?" tanya Daddy Rehan, pelan seraya menepuk lembut punggung kokok Yudhistira untuk memberikan kekuatan.
"Baiknya bagaimana, Om? Saya ikut saja apa yang menurut Om Rehan terbaik untuk oma," balas Yudhistira setelah cukup lama memeluk tubuh dingin omanya.
Daddy Rehan mengangguk. Laki-laki paruh baya tersebut kemudian berbicara pada petugas rumah sakit, agar jenazah omanya Gilang disucikan sekalian.
__ADS_1
"Nak, mau ikut memandikan atau menunggu di luar?" tawar Daddy Rehan ketika jenazah akan segera di bawa oleh petugas rumah sakit untuk dipindahkan dan disucikan.
"Sebaiknya, ajak Nak Yudhis menunggu di luar saja, Dad. Sepertinya, dia masih terguncang," saran Mommy Billa berbisik.
"Kalau begitu, Mommy yang ajak Nak Yudhis keluar, ya. Daddy akan ikut dengan mereka." Daddy Rehan menunjuk para petugas rumah sakit yang mendorong brankar, yang membawa jenazah omanya Yudhistira.
Mommy Billa mengangguk, setuju.
"Ayo, Nak Yudhis!" ajak Mommy Billa dengan lembut dan pemuda yang sedang berduka tersebut, hanya bisa menurut.
Sementara Maira berjalan dengan langkah gontai, mengekor langkah sang Mommy dan pemuda yang baru saja mengutarakan isi hati padanya, tetapi belum sempat gadis itu jawab ketika Awang dan dua temannya tiba-tiba datang dan mengacaukan segalanya.
"Mas, aku turut berduka atas kepergian oma," ucap Maira dengan lirih dan suaranya terdengar bergetar menahan sesak di dada, ketika mereka telah duduk di ruang tunggu.
Bulir bening pun terlihat menggenang di pelupuk mata indah Maira.
Kabar, yang belum sempat diklarifikasi oleh Yudhistira, dan telah merenggut nyawa satu-satunya keluarga yang peduli dengannya.
Hal itulah yang membuat Yudhistira terus saja menyalahkan dirinya karena pergaulannya dengan teman-teman yang tidak benar, membuat sang oma harus mendengar fitnah keji yang dituduhkan pada Yudhistira, hingga membuat jantung sang oma tidak kuat mendengar berita bohong tersebut dan membawanya pada kematian.
Mendengar suara Maira yang duduk di sebelah kirinya, Yudhistira sempat menoleh sebentar ke arah gadis yang dia cintai itu, dan sedetik kemudian dia segera membuang pandangan ke arah lain.
"Terimakasih," jawab Yudhistira yang terdengar dingin.
"Maaf, atas perkataanku tadi, Mas," lanjut Maira yang merasa sangat bersalah karena tidak seharusnya dia menghakimi, apalagi belum terbukti apakah ucapan gadis yang mengaku hamil anak Yudhistira, benar atau tidak.
__ADS_1
Yudhistira tidak menjawab permintaan maaf Maira, pemuda yang saat ini tengah sangat berduka tersebut terdengar menghela napas kasar dan kemudian memejamkan mata.
Maira tidak dapat menebak, apa yang saat ini dipikirkan oleh Yudhistira.
Marah, mungkin pemuda itu saat ini sedang marah padanya, tetapi biarlah untuk sementara waktu Yudhistira dengan kemarahannya dan Maira berjanji pada dirinya sendiri, akan kembali meminta maaf nanti jika keadaan pemuda yang selama beberapa waktu terakhir dekat dengan dirinya, sudah cukup membaik.
Keheningan sejenak tercipta di sana. Yudhistira dengan diamnya, Maira dengan kegelisahannya, dan Mommy Billa, dengan rasa iba yang mendalam terhadap pemuda yang saat ini duduk di tengah, di antara dirinya dan sang putri.
Mommy Billa, terus menepuk lembut punggung Yudhistira, sebagai bentuk ungkapan bahwa pemuda itu tidak akan kesepian dan sendirian karena ada keluarganya yang akan selalu mendukung.
"Mom. Ayo, kita pulang!" Suara Daddy Rehan, mengurai keheningan.
"Sudah selesai semua, Dad?" tanya Mommy Billa seraya beranjak yang diikuti oleh Yudhistira dan Maira.
"Sudah.' Daddy tampan itu mengangguk.
Bersama-sama, mereka kemudian menuju ke parkiran.
Yudhistira segera masuk ke dalam mobil jenazah yang langsung diikuti oleh Maira.
Maira sempat terpaku, melihat tatapan dingin Yudhistira terhadap dirinya, tetapi buru-buru dia tepis pikiran buruknya sendiri.
'Tidak-tidak! Ini pasti karena Mas Yudhis sedang sangat berduka,' hibur Maira pada diri sendiri.
Sementara Daddy Rehan dan Mommy Billa, menaiki mobilnya sendiri, mengiringi mobil jenazah yang meraung membawa omanya Yudhistira untuk kembali ke kediaman Bisma.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น