Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Enggak Gendut, Tetapi Montok


__ADS_3

Maira dan Maida sudah selesai dirias. Kedua gadis belia itu terlihat semakin cantik. Keduanya memakai busana yang baru saja disiapkan secara dadakan oleh Fira. Keponakan Daddy Rehan itu rela tidak mengikuti acara pertunangan dan kembali ke Jakarta untuk mengambil kebaya pengantin.


Kebaya putih itu sangat pas melekat di tubuh mereka berdua. Itu karena Fira sudah paham betul dengan ukuran baju kedua adik sepupunya. Jas yang dibawakan Fira untuk kedua calon mempelai laki-laki, juga pas di tubuh tinggi Yudhistira dan juga Erlan, calon suami Maida.


"Kalian berdua memang sangat cantik," puji Oma Susan seraya memandangi kedua cucunya, bergantian.


"Terima kasih, Oma. Itu karena kami memiliki mommy yang sangat cantik," ucap Maira seraya tersenyum menatap sang mommy.


"Kamu benar, Nak. Mommy kalian memang yang paling cantik sedunia," sahut Daddy Rehan yang tiba-tiba muncul ke kamar tempat mereka berdua dirias.


Mommy Billa tersenyum dikulum menanggapi rayuan sang suami yang sudah ribuan kali didengarnya. Walaupun sudah sering mendengar bahkan hampir setiap hari, tetap saja hatinya membuncah bahagia setiap kali suami tampannya itu memuji dan memuja. "Apa sudah siap semua, Dad?" tanya Mommy Billa yang tidak ingin larut bernostalgia.


"Sudah, Mom. Pak penghulu sudah datang," balas Daddy Rehan seraya memberikan isyarat agar mereka segera menuju ke tempat akad nikah.


Mereka berdua dituntun oleh Mommy Billa dan Oma Susan untuk menuju tempat akad nikah yang juga dipersiapkan dengan sangat mendadak, mengikuti langkah pasti Daddy Rehan yang berjalan di depan. Hall yang tadi digunakan untuk acara resepsi, sedikit dirubah selepas maghrib tadi oleh Om Devan yang dibantu oleh semua putra-putri geng tampan. Meskipun sederhana, pelaminan yang berada di tengah hall itu pun terlihat sangat cantik.


Setibanya di sana, kedua pemuda tampan yang akan menjadi imam mereka sudah bersiap di kursi masing-masing. Maira berdebar, menatap ke arah sang calon mempelai laki-laki yang tersenyum kepadanya. Gadis yang memakai kebaya putih itupun tersenyum, membalasnya.


Mereka berdua di dudukkan di samping pasangan masing-masing. Maira yang baru saja duduk lalu menoleh ke arah Yudhistira dan pemuda tampan itu membisikkan sesuatu. "MasyaAllah, calon bidadari mas cantik sekali."

__ADS_1


Wajah Maira merona merah. "Mas Yudhis bisa aja. Mas juga sangat tampan," pujinya, jujur.


Bisik-bisik keduanya terhenti ketika acara sakral itu segera dimulai. Seremonial acara pun berlangsung. Satu per satu berjalan dengan sangat lancar. Masing-masing perwakilan keluarga dari calon mempelai laki-laki, juga sudah memberikan sambutannya.


Kini acara yang dinanti oleh kedua mempelai pun tiba. Maida dan calon suaminya yang mendapatkan giliran pertama untuk melaksanakan ijab qabul. Kembaran Maira itu dinikahkan sendiri oleh sang daddy yang disaksikan oleh semua anggota keluarga, termasuk pak penghulu yang dipanggil secara khusus ke sana. Tentu dengan bayaran yang tidak sedikit karena bukan hari kerja dan permintaannya pun dadakan.


Kata sah menjadi kata penutup dari bacaan qabul yang diucapkan oleh Erlan dengan lantang dan hanya dalam satu tarikan napas. Wajah Maida berbinar bahagia, seiring kecupan hangat yang dia terima di keningnya dari sang imam. Keduanya lalu tersenyum bahagia.


"Nak Yudhis. Apakah Nak Yudhis sudah siap?" tanya Daddy Rehan memastikan dan pemuda tampan itu mengangguk dengan yakin.


"Bismillah ...." Dengan mengucap bismillah, daddy Rehan mengawali untuk menikahkan putri bungsunya dengan Yudhistira. Pemuda yang merupakan putra dari teman masa kecilnya.


"Sah!" seru Opa Alvian dan pak penghulu yang didaulat untuk menjadi saksi dari Yudhistira dan Maira, yang diberengi oleh semua yang hadir di sana.


Rona kebahagiaan dan kelegaan terpancar dari wajah mereka berdua. Terutama Yudhistira yang merasa sangat bersyukur atas anugerah yang hadir setelah musibah yang menimpanya berturut-turut. Sang papa telah kembali dan kini sang gadis pujaan sudah resmi menjadi bidadarinya.


"Terima kasih, Sayang, sudah mau menerimaku yang jauh dari kata sempurna ini untuk menjadi imammu," ucap Yudhistira setelah menyematkan cincin kawin di jari manis sang istri. Pemuda tampan itu lalu mencium kening istrinya dengan dalam.


"Terima kasih juga sudah menjadikan aku sebagai pendamping hidupmu, Mas. Aku juga bukan wanita yang sempurna dan mari kita sama-sama saling melengkapi agar ibadah panjang kita terasa sempurna," balas Maira, setelah dia memasangkan cincin kawin di jari sang suami.

__ADS_1


Istri Yudhistira itu kemudian mencium punggung tangan mantan pemuda berandalan yang kini telah resmi menjadi imamnya. Imam yang akan membawanya ke syurga dunia dan akhirat kelak, begitulah harapannya. Malam ini, mereka berdua menjadi salah satu dari dua pasangan yang sangat bahagia.


Acara selanjutnya adalah ramah tamah dan makan malam. Entah siapa yang memulai, kedua pasangan pengantin baru itu menyelinap dan meninggalkan acara makan malam dengan diam-diam. Rupanya, mereka sudah tidak sabar ingin menikmati makan malam spesial di kamar pengantin masing-masing yang sudah dipersiapkan oleh para asisten di villa paling belakang.


Yudhistira yang tidak sabar melihat cara jalan Maira yang sangat pelan, langsung membopong tubuh istri yang baru dinikahinya itu begitu mereka tiba di tempat yang cukup sepi. Membuat Maira terpekik kecil karena terkejut.


"Aw, Mas! Kaget, tau!" protesnya yang kemudian mengalungkan tangan di leher sang suami dan menyembunyikan wajah di ceruk leher Yudhistira.


Hembusan hangat napas Maira di area sensitif pemuda tampan itu, semakin membuat Yudhistira tidak sabar ingin segera sampai kamar pengantin dan kemudian menikmati hidangan makan malam spesial.


"Mas, turunkan aku. Kaki mas 'kan baru sembuh," pinta Maira ketika teringat bahwa kaki sang suami belum lama pulih.


"Tidak apa-apa, Sayang. Asal tidak keseringan angkat berat seperti ini," balas Yudhistira seraya tersenyum.


"Jadi menurut Mas aku gendut, gitu?" Maira mengerucutkan bibir lalu memukul pelan dada sang suami.


"Aku enggak bilang begitu, Sayang. Lagian, kamu enggak gendut, kok, tetapi montok. Terasa, nih, di dadaku kalau punyamu besar," balas Yudhistira seraya terkekeh. Pemuda itu lalu semakin mempercepat langkah karena sudah tidak sabar ingin menikmati malam pertama dan merasakan dada sang istri yang ukurannya cukup besar


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2