Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Pejuang Pencari Cinta Sejati


__ADS_3

Sarapan pagi yang penuh kehangatan dan keakraban itu masih berlanjut. Kakak-kakak Maira banyak mengajukan pertanyaan untuk Yudhistira, baik seputar kuliah maupun seputar kegiatan pemuda tersebut di kala waktu luang.


Yudhistira pun menjawabnya dengan jujur, tak ingin menutup-nutupi jati dirinya.


Entahlah, berada di tengah keluarga gadis yang malam itu mobilnya dia tabrak, pemuda yang biasanya senang berpenampilan slengekan tersebut merasa nyaman.


Apalagi, semua kakak Maira yang pagi ini berkumpul, kecuali saudari kembar Malik yang tidak dapat bergabung karena baru memiliki bayi kembar, dapat menerima kehadiran Yudhistira dengan hangat.


"Yudhis biasa menghabiskan waktu dengan balapan motor sama teman-teman, Bang," balasnya jujur, seraya menatap Malik yang barusan bertanya.


"Balapan motor? Wow, keren! Di sirkuit, ya? Setiap hari apa? Weekend? Bolehlah kapan-kapan, kami nonton." Mirza nampak sangat antusias.


Yudhistira menggeleng cepat. "Bukan, Bang! Bukan di sirkuit, tapi di jalan raya biasa," lanjutnya seraya menunduk, malu.


Baru kali ini pemuda tersebut merasa malu dan merasa bersalah karena melakukan sesuatu hal yang tidak pada tempatnya.


Jika biasanya dia begitu bangga mengatakan pada semua orang mengenai kepiawaiannya menguasai jalanan, tapi tidak untuk kali ini. Pemuda tersebut justru merasa sungkan dan tidak percaya diri.


Mungkinkah karena saat ini dirinya berada di tengah-tengah keluarga Maira? Seorang gadis yang tiba-tiba saja menyelinap masuk dan telah mampu membuat Yudhistira sedikit merubah penilaian bahwa tidak semua wanita sama dengan mama tirinya?


"Di jalan raya?" tanya Daddy Rehan, seolah terkejut. Padahal, laki-laki paruh baya tersebut sudah mengetahui semua cerita tentang Yudhistira dari omanya.


"Iya, Om," balas Yudhistira yang kembali menunduk.


"Nak Yudhis, balapan motor itu boleh-boleh saja asalkan dilakukan di tempat yang seharusnya yaitu di sirkuit. Jika Nak Yudhis melakukan itu di jalan raya, sama saja Nak Yudhis membahayakan diri sendiri dan juga pengguna jalan lain," tutur Mommy Billa dengan lembut.


Yudhistira mengangguk, mengerti nasehat mommy-nya Maira.


"Tuh, Mas, dengerin! Jangan ngebut kalau di jalan raya, bahaya tahu!" Maira menyahut, ikut memperingatkan.


Yudhistira, tersenyum bahagia karena merasa mendapatkan perhatian dari gadis yang belum lama dikenalnya itu. Gadis yang pemberani, cerdas dan gaya bicaranya ceplas-ceplos.


"Cie ... udah mulai perhatian, nih," ledek Maida pada sang adik.


"Ish ... Kakak, nyebelin!" Maira menginjak kaki Maida, hingga saudari kembarnya tersebut, menjerit.


"Aw, sakit, Mel!"

__ADS_1


"Biarin!"


"Sayang. Kalian berdua ini sudah beranjak dewasa, loh. Masih saja seperti anak kecil," lerai Mommy Billa pada kedua putri kembar bungsunya.


"Kalau kamu tidak ada kegiatan lain selain balapan liar, bolehlah kapan-kapan main ke tempat abang. Di sana kamu bisa belajar banyak hal, Yudhis, daripada masa muda kamu habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat," ucap Kevin, kemudian.


"Hem, benar itu, Nak Yudhis. Om setuju," timpal Daddy Rehan.


"Kata oma kamu, kamu ambil jurusan IT, kan?" Daddy Rehan menatap pemuda yang tumben-tumbenan pagi ini rambutnya terlihat rapi.


"Benar, Om," balas Yudhistira.


"Pas banget, tuh. Kamu bisa belajar banyak hal dan langsung praktek di tempat Bang Kevin," tutur Daddy Rehan.


"Kalau ospeknya udah selesai, bolehlah, kami antar Mas Yudhis ke tempat Bang Kevin," ucap Maida, seraya melirik saudari kembarnya.


Pemuda berambut ikal sebahu itu tersenyum seraya mengangguk. "Terimakasih, Dik Mai."


"Kami? Kakak sendiri sana," protes Maira, membuat senyum Yudhistira menghilang.


"Yaelah, Dik. Jangan ...."


"Iqbal enggak telat, kan?" Pemuda tersebut kemudian menyalami Daddy Rehan dan Mommy Billa.


"Telat! Dasar lelet!" sahut Maira.


"Di luar, ada mobil sport keren, punya siapa?" tanya Iqbal, sambil menyalami ketiga abang sepupunya.


"Tuh, punya Mas Gantengnya Mela," balas Maida seraya menunjuk Yudhistira dengan dagunya.


"Wah, udah ada pawangnya ya sekarang." Iqbal kemudian menyalami Yudhistira, seraya memperkenalkan diri.


"Halo, Bang. Saya Iqbal, adik sepupu Kak Mela yang paling tampan," ucapnya seraya terkekeh pelan.


Ketiga abang sepupunya hanya geleng-geleng kepala, melihat kekocakan putra sulung Om Ilham tersebut.


Yudhistira tersenyum lebar. "Yudhistira, panggil saja Yudhis," balasnya.

__ADS_1


"Sarapan dulu, Nang," titah Mommy Billa setelah Iqbal mendudukkan diri di samping Yudhistira.


"Sudah, Mom. Tadi Bunda bikin nasi goreng," tolak Iqbal.


"Bunda kamu kayaknya cuma pinter bikin nasi goreng saja ya, Nang. Perasaan dari dulu, setiap kamu menolak sarapan pasti alasannya sama. Bunda sudah bikin nasi goreng," canda Daddy Rehan yang membuat putra-putrinya langsung tertawa.


"Sepertinya memang begitu, Dad. Bukan hanya pas sarapan saja, loh, itu. Makan malam juga seringnya bikin nasi goreng, cuma beda topping saja," timpal Iqbal yang ikut tertawa.


Yudhistira yang belum mengenal keluarga besar Maira, ikut tersenyum. Pemuda tampan itu dapat merasakan kehangatan keluarga tersebut.


"Oh, ya. Abang ini, beneran pacarnya Kak Mela?" tanya Iqbal setelah tawa mereka terhenti.


Yudhistira yang ditanya, kemudian menatap Maira.


"Kalau memang benar, Iqbal bersyukur banget," ucap Iqbal.


"Kenapa, memangnya?" tanya Mirza, dengan dahi berkerut.


"Ya bersyukur aja, Bang. Berarti, hilang sudah kutukan untuk Iqbal yang harus menjaga kakak bawel yang satu itu selama dua puluh empat jam sehari," balas Iqbal yang memang semenjak masih sekolah, selalu diwanti-wanti oleh budhenya untuk menjaga kedua kakak kembarnya.


"Sembarangan ngatain orang bawel!" protes Maira.


"Lagian, jagain apanya? Kemarin aja seharian malah ngilang! Dicari-cari enggak ada!" lanjutnya yang sebal pada sang adik sepupu karena Iqbal sama sekali tidak mendekat, ketika dirinya dijahili oleh Yudhistira.


"Gimana mau mendekat, Mel. Aku lihat kemarin dia sibuk pedekate sama anak psikologi," sahut Maida.


"Langsung dapat gebetan aja kamu, Dik. Keren," puji Mirza.


"Za, kok malah didukung!" protes Malik.


"Ya, kami 'kan sesama pejuang pencari cinta sejati, Bang. Jadi wajarlah, kalau Bang Mirza dukung Iqbal," balas Iqbal seraya tersenyum lebar, teringat akan masa lalu sang abang sepupu yang memiliki banyak pacar.


"Udah, berangkat, yuk! Nanti terlambat, lho, kita," ajak Maida yang sudah selesai makan.


"Jadi gimana, nih? Berangkat bareng Iqbal, apa bareng Mas Ganteng itu?"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1



__ADS_2