Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Jalan Menuju ke Hati Mas Yudhis


__ADS_3

Maira tersenyum menatap Yudhistira dan itu membuat pemuda tersebut semakin penasaran dengan arti senyuman dari gadis cantik yang duduk di sisi ranjangnya.


"Dik, kenapa?" ulang Yudhistira, bertanya. "Apa karena aku kemarin kembali ikut balapan liar?" desaknya, tidak sabar.


"Itu salah satunya, Mas," balas Maira yang membuat Yudhistira menghela napas berat.


"Maafkan aku, Dik. Kemarin itu aku terbawa emosi," sesal Yudhistira.


"Enggak perlu minta maaf padaku, Mas, tapi minta maaflah pada diri Mas sendiri. Emosi Mas yang kadang tidak terkontrol itu, sudah merugikan diri Mas." Maira menatap Yudhistira dengan dalam.


"Beruntung kecelakaan kemarin hanya membuat Mas Yudhis patah kaki dan tidak sampai diamputasi seperti yang dikatakan dokter tadi pagi. Bagaimana coba, kalau kaki Mas sampai diamputasi? Atau, bagaimana jika nyawa Mas yang enggak bisa diselamatkan?" Netra indah Maira, berkaca-kaca. Gadis cantik itu teringat dengan perkataan dokter tadi pagi.


Tangan kiri Yudhistira yang terluka di bagian punggungnya, bergerak perlahan meraih tangan Maira dan kemudian menggenggamnya. Entah kenapa, meskipun Maira belum menjawab pernyataan cintanya, tapi pemuda berambut gondrong itu meyakini bahwa Maira pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


"Aku akan sangat sedih, kalau Mas Yudhis kenapa-napa," lanjut Maira seraya mengeratkan genggaman tangan Yudhistira.


Sejenak keheningan menyapa, keduanya sama-sama terdiam. Mereka berdua masih saling menggenggam tangan dan saling pandang, seolah sedang menyelami perasaan masing-masing.


"Dik, apa ini artinya, kamu menerimaku?" Suara pelan Yudhistira, mengurai keheningan.


"Terserah Mas Yudhis mau mengartikan apa. Jujur, aku juga sayang sama Mas, tapi ...." Maira menghentikan ucapannya.


"Tapi, kenapa, Dik?"

__ADS_1


"Aku akan menerima Mas, jika daddy dan mommy merestui hubungan kita," balas Maira yang membuat Yudhistira sedikit khawatir.


Pemuda tampan itu menghela napas panjang.


"Bismillah aja, Yud. Niat baik, InsyaAllah akan ada jalannya." Suara Kevin membuat Maira dan Yudhistira sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Entah sejak kapan, kakak sulung Maira itu ada di dalam sana.


"Udah, lepaskan tangan kalian!" Kevin tersenyum seraya menunjuk tangan mereka berdua yang masih saling menggenggam, dengan dagunya.


Maira tersipu malu. Sementara Yudhistira tersenyum dikulum. Mereka berdua kemudian melepaskan genggaman tangan, dengan saling menatap penuh makna.


"Dik, kamu tidur di kamar sana! Biar abang yang menemani Yudhis di sini," titah Kevin kemudian.


Maira mengangguk, patuh. Gadis cantik itu kemudian segera beranjak. "Aku istirahat dulu ya, Mas," pamit Maira.


"Cuma pamit sama Yudhis, nih!" protes Kevin, cemburu. Sebagai kakak laki-laki, ayah dua anak tersebut merasa mulai tersingkir dari sosok Yudhistira.


"Iya, Abang Sayang. Mela ke kamar dulu, ya," pamit Maira kemudian seraya mencium pipi abangnya.


Kevin tersenyum dan kemudian mengacak lembut puncak kepala sang adik yang menyebabkan hijab Maira berantakan. Gadis itu pun protes, dengan mengerucutkan bibir.


"Abang sukanya gitu, deh! Jadi berantakan, kan, hijab Mela!"


Yudhistira tersenyum menyaksikan semua itu. 'Benar-benar keluarga yang hangat dan kini aku baru menyadari, kenapa dulu oma selalu memaksaku agar aku mendekati keluarga Om Rehan,' batin Yudhistira yang tiba-tiba teringat dengan almarhumah sang oma.

__ADS_1


"Malas, ah, Oma! Oma dikit-dikit nyuruh Yudhis ke sana!" protes Yudhistira ketika malam itu sang oma kembali menyuruh Yudhistira untuk berkunjung ke kediaman keluarga gadis yang mobilnya dia tabrak.


"Yud, oma sudah mengenal baik keluarga mereka. Jika kamu dekat dengan anak-anak Om Rehan, kamu tidak akan pernah menyesal, Yud. Mereka itu anak-anak yang santun," desak sang oma.


"Oma sudah tua, Yud, dan kamu tidak memiliki siapa-siapa selain oma. Papamu bahkan sudah tidak peduli lagi sama kita. Kalau kamu berteman baik dengan anak-anak Om Rehan dan Tante Billa, setidaknya oma akan merasa tenang jika sewaktu-waktu oma dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Yud," lanjutnya.


"Kok, Oma ngomongnya gitu, sih! Jadi kemana-mana!" protes Yudhistira, tetapi dalam hati pemuda tersebut berjanji akan berusaha menuruti permintaan omanya.


"Karena setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, Nak. Hanya saja, kita tidak pernah tahu kapan kita akan mendapatkan giliran didatangi oleh malaikat maut. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa lagi menghindar ataupun meminta keringanan untuk mengulur waktu. Jadi, kita harus mulai mempersiapkan diri sedari sekarang karena malaikat maut datang tanpa ada pemberitahuan." Sang oma menatap dalam cucu kesayangannya.


Yudhistira tersenyum getir. Entahlah, membicarakan kematian membuat Yudhistira teringat pada almarhumah sang mama. 'Oma benar, semua orang pasti akan pergi. Sama seperti mama yang pergi meninggalkan aku, sebelum aku merasa siap ditinggalkan.'


"Yud, Mela cuma mau istirahat di kamarnya, di samping ruangan ini. Kenapa wajah kamu jadi sedih gitu? Kayak mau ditinggal pergi jauh aja." Suara Kevin yang meledek Yudhistira karena melihat raut wajah pemuda tersebut yang tiba-tiba menjadi mendung, mengurai lamunannya.


"Ya takutlah, Bang. Takut, Dik Mela lupa jalan ke sini," balas Yudistira, mecoba untuk becanda.


"Aku enggak akan pernah lupa, Mas. Termasuk, jalan menuju ke hati Mas Yudhis," balas Maira sambil ngeloyor pergi, meninggalkan ruang rawat Yudhistira karena tidak ingin pemuda yang dia sayangi itu melihat rona merah di pipinya.


Kevin geleng-geleng kepala, mendengar gombalan sang adik. "Sejak kapan kamu pandai menggombal, Mel!" seru Kevin yang tidak mendapatkan jawaban karena Maira telah menutup pintu ruang rawat Yudhistira dengan rapat.


Sementara Yudhistira tersenyum lebar. 'Bisa aja kamu, Dik, menyenangkan hatiku.'


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2