Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Setelah pertemuan hari itu, Maira dan Yudhistira tidak pernah lagi bertemu.


Meskipun hubungan omanya Yudhistira dengan keluarga Maira semakin dekat karena sang oma sering berkunjung, atau terkadang Mommy Billa yang meluangkan waktu sekadar mengantar kue buatannya untuk omanya Yudhistira, tetapi kedua muda-mudi tersebut tidak pernah mau ikut terlibat.


Selalu saja ada alasan yang mereka berdua kemukakan, jika keduanya diajak untuk berkunjung ke rumah satu sama lain.


Yudhistira yang sok sibuk dengan teman-teman geng motornya. Sementara Maira, sibuk dengan ujian persiapan masuk ke Perguruan Tinggi.


Keduanya sampai sudah melupakan kejadian pada malam itu karena kesibukan masing-masing. Namun, pagi ini Maira kembali dibuat terkejut dengan panggilan yang sangat tidak dia sukai keluar dari mulut pemuda yang malam itu menabrak mobilnya, ketika gadis cantik tersebut baru saja mengikuti sesi pembagian kelompok ospek di kampus barunya.


"Dik Mela! Kamu masuk dalam kelompok bimbinganku, kan?"


Maira menoleh ke arah suara yang sudah sangat familiar di telinganya dan netra indah gadis berhijab itu, membulat sempurna setelah yakin bahwa yang memanggil dirinya memang Yudhistira.


Yudhistira tersenyum seringai, seraya menatap Maira.


"Ck! Bisa-bisanya, kami satu kampus! Dah gitu, aku ada di kelompok bimbingan dia lagi! Menyebalkan!" kesal Maira.


Sang kakak kembar yang kebetulan ada di sebelahnya, tersenyum menggoda sang adik bungsu.


"Takdir jodoh, memang terkadang datang dengan caranya yang unik. Sama seperti aku dan si abang," bisik Maida.


"Apaan, sih, Kakak! Ogah banget berjodoh sama cowok semrawut kayak dia!" Maira cemberut.


Ya, penampilan Yudhistira memang tidak pernah rapi. Bukan hanya pakaian, bahkan rambutnya yang panjang sebahu juga jarang tersentuh oleh benda yang bernama sisir.


"Kalau si abang, sih, lumayan ya. Meskipun sudah tua tapi penampilannya oke dan orangnya juga sopan banget," lanjut Maira, gantian meledek sang kakak.


"Dewasa, Dik, bukan tua!" sangkal Maida yang tidak terima sang kekasih pujaan hati yang setahun terakhir sering menemani hari-harinya, dikatakan tua oleh saudari kembarnya.


"Hihihi ..." Maira terkikik sendiri karena berhasil membuat Maida menjadi keki.

__ADS_1


Tawa Maira terhenti, kala Yudhistira memberikan perintah pada kelompok yang berada di bawah bimbingannya untuk berkumpul.


"Yang masuk dalam kelompok Merpati Putih, merapat di sisi timur aula!"


"Oke, Dik. Sampai ketemu nanti, ya. Semangat!" Maida pun segera berlalu, untuk bergabung dengan kelompoknya.


Sementara Maira masih mematung, seolah enggan untuk mengikuti arahan sang pemuda begajulan.


"Ish! Kayak kurang orang aja, sih, panitia ospeknya! Masak, cowok kayak dia dijadikan pembimbing kelompok!" Maira masih merasa kesal karena tidak pernah menyangka bakal bertemu lagi dengan Yudhistira, di kampus yang sama.


"Dik Mela, ayo!" ajak Yudhistira seraya mendekati Maira.


Maira langsung saja berlari kecil menuju tempat yang tadi diberitahukan oleh Yudhistira, meninggalkan pemuda tersebut yang senyum-senyum sendiri.


"Menarik!" Yudhistira menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang penuh arti.


Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda tersebut tentang Maira.


Seharian ini mengikuti ospek, Maira selalu saja uring-uringan dan hal itu tidak lepas karena ulah Yudhistira yang selalu saja menggodanya.


Memanggil Maira dengan sebutan Mela di depan teman-temannya yang lain, menjahili bungsu Daddy Rehan tersebut dan masih banyak lagi keisengan Yudhistira yang membuat Maira semakin kesal pada pemuda yang telah menabrak mobilnya beberapa waktu yang lalu.


"Hidupku kayaknya mulai apes, deh, Mas, sejak bertemu dengan kamu!" protes Maira sambil membereskan barang-barangnya, hendak pulang karena ospek di hari pertama telah usai.


"Bukan hanya kamu, Dik, yang apes! Aku juga!" balas Yudhistira tak mau disalahkan.


"Gara-gara tahu kalau kamu itu cucu teman lamanya, hampir setiap hari oma membicarakan tentang kamu dan keluarga kamu. Aku sampai hafal loh, dari A sampai Z!" lanjutnya yang kemudian membuang napas kesal.


"Apalagi jika sampai oma tahu, kalau kita satu kampus. Setiap hari, oma pasti akan menyuruhku untuk menjemput kamu agar kita berangkat ke kampus bareng."


Yudhistira sudah merasa kesal, hanya dengan membayangkan bagaimana omanya akan ngoceh sambil membangunkan dirinya di pagi buta agar segera mandi dan berdandan rapi, untuk kemudian menjemput Maira.

__ADS_1


"Jangan-jangan! Jangan sampai omanya Mas Yudhis tahu, kalau kita satu kampus. Aku enggak mau ya, ke kampus bareng sama cowok berandalan kayak kamu, Mas!" Maira melirik tajam pada pemuda yang berdiri di sebelahnya, dengan bersidekap.


"Kamu pikir, aku mau? Jangan mimpi!" Yudhistira kemudian segera berlalu, meninggalkan Maira yang manyun seorang diri.


"Hish ... pede banget, sih, dia! Nyebelin!" Seru Maira yang masih dapat didengar oleh Yudhistira.


Yudhistira tergelak sambil terus saja melanjutkan langkah, tanpa peduli dengan kemarahan Maira.


"Jangan pura-pura enggak suka, Bro, kalau pada kenyataannya kamu sudah memiliki rasa dengan gadis itu." Tepukan pelan di pundak Yudhistira, menghentikan langkah pemuda tersebut.


"Ck! Siapa, sih, yang suka sama gadis macam dia! Enggak asyik banget!" sangkal Yudhistira seraya menyingkirkan tangan sang sahabat yang berada di pundaknya.


Pemuda berambut gondrong dan acak-acakan itu melanjutkan kembali langkahnya menuju parkiran yang diikuti oleh sang sahabat.


"Enggak bakal bisa diajak keluar malam, untuk menemani aku balapan karena dia anak mama!" lanjut Yudhistira.


"Oh, jadi karena itu alasannya? Berarti, kalau ada kemungkinan dia mau kamu ajak untuk keluar malam, kamu bakalan nembak dia?"


Mendapat cercaan pertanyaan seperti itu dari sahabat sekaligus teman balapan liarnya di jalanan, Yudhistira menjadi gelapan.


"Bukan-bukan. Bukan seperti itu juga maksudku, Wang." Yudhistira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sehingga rambutnya yang tidak pernah di sisir rapi tersebut, semakin terlihat berantakan.


"Entah kenapa ya, Yud, sejak malam di mana kamu membawa mobil gadis itu, aku merasa kalau di antara kalian berdua ada ikatan."


Yudhistira menoleh ke arah Awang.


"Aku yakin, dia akan menjadi first and last love kamu." Awang tersenyum lebar.


Sementara Yudhistira menyipitkan mata dan dahinya berkerut dalam. 'Pertama dan terakhir?'

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2