
Pemuda berambut gondrong yang rambutnya disisir dan diikat rapi itu mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Mommy Billa yang memang menunggu kehadiran Yudhistira setelah mengetahui dari omanya pemuda tersebut, bahwa sang cucu sedang dalam perjalanan menuju ke sana.
"Silakan masuk Nak Yudhis, Maira dan Maida baru mau sarapan. Ayo, ikut sarapan sekalian!" ajak Mommy berusia paruh baya yang masih terlihat cantik itu, dengan ramah.
"Maaf, Tante. Barusan, Yudhis sudah sarapan. Biar Yudhis tunggu mereka di sini saja," tolak Yudhistira, dengan sopan.
"Eh, enggak boleh menolak rezeki. Ayo, ikut tante! Kalau Nak Yudhis sudah sarapan, ngeteh saja juga tidak apa-apa. Ayo-ayo!" paksa Mommy Billa.
Mau tak mau, pemuda itupun mengekor langkah mommy-nya si kembar Maida dan Maira tersebut, menuju ruang makan.
Yudhistira kemudian menyalami Daddy Rehan dan mencium punggung tangan daddy tampan tersebut, dengan takdzim.
"Apa kabar, Om?" tanya Yudhis, penuh perhatian.
"Alhamdulillah, baik, Nak Yudhis," balas Daddy Rehan yang sudah duduk di meja makan, seraya menepuk pelan bahu kokoh Yudhistira.
Yudhistira kemudian juga menyalami beberapa pemuda lain yang menurut perkiraannya, pastilah kakak-kakak dari Maira.
"Perkenalkan, Bang. Saya, Yudhis," ucapnya, memperkenalkan diri dengan sopan.
"Kevin, panggil saja Bang Kevin," sambut Kevin, dengan hangat. Ayah dua anak tersebut tersenyum ramah pada Yudhistira.
Pemuda itu kemudian menyalami dua pemuda lain dengan menyebutkan namanya, sama persis ketika menyalami Kevin.
"Silakan duduk, Nak Yudhis." Setelah menyalami semua yang ada di sana, kecuali Maira dan Maida tentunya, Mommy Billa lantas mempersilahkan pemuda tersebut untuk duduk.
Mirza menarik satu kursi di sampingnya dan memberikan kode pada pemuda tersebut, agar duduk di sebelahnya.
"Sarapan sekalian, Nak Yudhis," ajak Daddy Rehan.
__ADS_1
"Maaf, Om. Barusan di rumah, Yudhis sudah sarapan bareng oma." Kembali pemuda tersebut, menolak.
"Nak Yudhis mau minum kopi atau teh?" tawar Mommy Billa, kemudian.
"Kalau tidak merepotkan, kopi juga boleh, Tante," balas Yudhistira, sopan.
"Bibi tolong buatkan segelas kopi untuk Nak Yudhis," pinta Mommy Billa, pada salah seorang asisten yang baru saja menyimpan lauk di atas meja makan.
"Baik, Nyonya," balas asisten rumah tangga tersebut, mengangguk sopan.
"Aden, mau kopi hitam atau yang lain?" tawarnya seraya menatap satu-satunya pemuda asing yang duduk di meja makan bersama keluarga Daddy Rehan Alamsyah.
"Hitam saja, Bi," balas Yudhistira seraya tersenyum.
Membuat bibi asisten itu pun ikut tersenyum.
'Ramah juga ya, calonnya Non Mela,' batinnya seraya meninggalkan ruang makan yang luas tersebut.
"Bukan hanya sekadar kakak tingkat, Bang, tapi calon adik ipar kita," sahut Mirza yang sudah mendapatkan bocoran dari Maida, bahwa pemuda yang barusan datang tersebut sepertinya suka sama Maira.
Maira yang duduk tepat di hadapan Yudhistira, melemparkan sendoknya ke arah sang abang dan tepat mengenai tangan Mirza.
"Ow! Sakit, Dik!" protes Mirza.
"Salah sendiri, kenapa Bang Mirza punya mulut enggak ada remnya!" balas Maira dengan bibir mengerucut.
"Ini pasti gara-gara Kak Mai, kan, yang ngomong enggak-enggak sama Bang Mirza!" Maira melirik tajam pada sang kembaran.
"Ya kan, bagian dari usaha, Mela Sayang." Maida kemudian mencubit pipi kembarannya tersebut dengan gemas.
"Usaha apaan? Kakak pikir, Mela enggak bisa cari pacar? Sampai harus dijodoh-jodohin segala?" cecar Maira, nampak tidak suka.
__ADS_1
"Mel ...." Daddy Rehan menggelengkan kepala, mencoba memberikan pengertian pada sang putri bungsu agar tidak terlalu ketus pada Yudhistira.
Maira yang semalam sudah diberi wejangan oleh sang daddy, mengangguk mengerti.
"Sudah-sudah. Buruan makan, Mai, Mel," titah sang mommy. "Kasihan Nak Yudhis, kalau kelamaan menunggu kalian," lanjutnya seraya menatap Yudhistira dan kemudian tersenyum hangat pada pemuda tersebut.
"Tidak apa-apa, Tante," balas Yudhistira, seraya melirik Maira.
Mereka semua kemudian mulai menikmati sarapan, kecuali Yudhistira yang hanya menikmati segelas kopi hitam.
"Tadi kamu bilang, dia calon adik ipar? Calonnya siapa, Za?" tanya Malik yang kebetulan sedang ada urusan di Jakarta dan menyempatkan diri untuk mampir ke rumah orang tuanya, sehingga saudara-saudaranya yang lain pun pagi ini menyempatkan waktu untuk berkumpul di kediaman sang daddy.
"Pastinya yang masih jomblo, Abang. Maida 'kan udah punya pasangan," sahut Maida seraya melirik saudari kembarnya yang tengah asyik menikmati sarapan.
Sementara Yudhistira hanya senyum-senyum dan sama sekali tidak ingin mengklarifikasi perkataan Maida.
"Kuliah dulu yang benar, kalian. Jangan mikir pacaran! Dik Mai juga, jangan keseringan ketemu sama si abangmu itu!" nasehat Kevin dengan bijak.
Daddy Rehan mengangguk, setuju.
"Setuju apa kata Bang Kevin. Kamu, siapa nama kamu? Yudhis?" Mirza menoleh ke samping. "Kalau memang kamu ingin mendekati adik kami, buktikan bahwa kamu pantas untuk Mela," ucap Mirza seraya menepuk punggung Yudhistira cukup keras, hingga membuat pemuda tersebut terbatuk kecil.
"Dik! Anak orang, tuh! Kamu apain sampai batuk gitu?" Malik menatap sang adik.
"Cuma menepuk pelan, Bang. Sekadar pengin tahu, seberapa tangguh dia jadi cowok. Bisa enggak, jika nanti melindungi adik kita," balas Mirza tanpa dosa.
"Masak, baru ditepuk gitu aja, udah batuk-batuk," lanjutnya yang kemudian melirik Yudhistira.
'Sial! Kenapa musti batuk, sih?' gerutu Yudhistira dalam hati.
'Jadi malu, kan, sama abangnya Mela. Dikiranya, aku ini cowok yang lemah dan tidak dapat melindungi adiknya,' lanjutnya bermonolog.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น