Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Sak Senengmu, Mas


__ADS_3

Usai acara pertunangan, keluarga inti Daddy Rehan melaksanakan sholat maghrib berjama'ah di villanya. Mereka tidak ikut sholat berjama'ah di musholla yang tersedia di deretan villa keluarga tersebut karena ada hal penting yang hendak disampaikan daddy tampan itu kepada kedua putri bungsu. Setelah menyelesaikan do'anya, Daddy Rehan segera berbalik menatap putra-putri serta menantunya bergantian.


"Daddy dan Mommy bahagia, bisa mengantarkan kalian hingga berada di titik ini. Kalian memiliki keluarga kecil sendiri yang bahagia dan memberi kami cucu-cucu yang menggembirakan hati. Kami berharap, kalian akan tetap seperti ini, saling peduli, saling menyayangi, meski kami sudah tidak ada bersama kalian suatu saat nanti." Sejenak Daddy Rehan menghentikan penuturannya dan mengusap bulir bening yang tiba-tiba jatuh membasahi pipi.


Daddy Rehan merasa sangat terharu. Sangat bersyukur atas anugerah luar biasa yang diterima dari yang Maha Kuasa. Memiliki istri yang berhati lembut dan anak-anak yang manis.


Melihat pria paruh baya yang kharismanya tidak pernah pudar sejak pertama kali mereka bertemu dulu, membuat Mommy Billa ikut menitikkan air mata. Maira dan kakak-kakaknya pun turut menitikkan air mata. Putri bungsu Daddy Rehan langsung merangsek maju dan kemudian memeluk daddynya.


"Dad. Daddy kenapa bicara seperti itu?" protes Maira. "Kita pasti akan selalu bersama-sama, Dad. Daddy pernah janji sama Mela kalau Daddy akan mendampingi Mela terus hingga kelak Mela memiliki banyak anak. Nah ini, Mela 'kan belum akan menikah, Dad. Belum tahu juga kapan Mela akan menikah," lanjutnya setelah melerai pelukan, membuat Daddy Rehan tersenyum kemudian.


"Kata siapa putri daddy yang cantik ini belum akan menikah?" Daddy Rehan menatap sang putri yang dimatanya masih saja dianggap seperti gadis kecilnya yang dulu.


"Kalian berdua akan segera menikah, Nak," tuturnya yang kemudian menatap ke arah Maida.


"Malam ini juga, kalian akan resmi menjadi milik orang lain," lanjut Daddy Rehan hingga membuat semua putra-putrinya menatap sang daddy dengan tatapan tidak percaya, kecuali Kevin yang ikut mendengarkan perbincangan para orang tua.

__ADS_1


"Dad, benarkah?" tanya Maira dengan berlinang air mata. Antara senang sekaligus sedih, bercampur menjadi satu.


"Mom?" Maira kemudian memeluk sang mommy dan mommy cantik itu mengangguk, membenarkan.


Maida ikut maju lalu memeluk sang daddy dan mommynya bergantian. Gadis belia yang lahir lebih dulu dari Maira dan hanya selisih menit saja itu pun merasa sangat terharu. Tidak menyangka pernikahannya dengan sang kekasih yang usianya terpaut cukup jauh, akan dilaksanakan secepat ini.


Maira dan Maida lalu duduk di antara sang daddy dan sang mommy. Maira yang duduk tepat di samping daddynya, senantiasa bergelayut manja di lengan daddy tampan itu. Gadis cantik itu seolah tidak mau jika momen kebersamaannya dengan orang tua yang selama ini memberikan limpahan kasih sayang kepadanya, akan berlalu begitu saja.


"Meskipun kalian sudah menikah nanti, kalian berdua tetaplah anak-anak daddy dan Mommy. Hanya saja, tanggung jawab kami akan diambil alih oleh pemuda yang telah kalian pilih sendiri. Kalian akan menjadi seorang istri dan sebagai istri, tentu yang harus kalian dahulukan adalah suami, bukan lagi kami," tutur Daddy Rehan yang membuat Maira semakin erat memeluk daddynya.


"Dad ...." Maira mendongak, menatap sang daddy tanpa mampu melanjutkan apa yang hendak dia sampaikan.


"Bukankah waktu itu kamu sendiri yang mengatakan kalau sudah siap untuk menikah," lanjutnya seraya mengecup puncak kepala sang putri. Daddy Rehan lalu merengkuh kedua putrinya sekaligus dan mendekapnya erat.


"Siap tidak siap, kalian pasti akan menjadi milik orang lain. Sama seperti Kak Icha." Daddy Rehan lalu menatap putri pertamanya itu.

__ADS_1


"Dulu, daddy dan Mommy pun merasa sangat berat melepaskan Kak Icha, tapi karena kami percaya kalau Bang Rahman pasti bisa membahagiakan kakakmu itu, daddy dan Mommy akhirnya memberikan restu." Malika dan sang suami saling pandang lalu tersenyum mesra.


Mommy Billa mengangguk-angguk, membenarkan perkataan sang suami. Mommy cantik itu lalu ikut memeluk kedua putri bungsu. Pelukan kedua orang tua dan kedua anak bungsu tersebut membuat kakak-kakaknya merasa terharu.


"Ya sudah, kalian berdua bersiaplah. Tepat bakda isya', acara akan dimulai." Daddy Rehan menatap ke-dua putri kembarnya itu, bergantian.


"MUA-nya juga sudah bersiap dari tadi, tapi kalian malah ber-melo-ria," sahut Opa Alvian yang entah sejak kapan sudah berada di ambang pintu ruang keluarga yang dijadikan sebagai tempat sholat maghrib barusan.


"Oma Susan, kah, yang merias kami?" tanya Maira, antusias. Tentu saja gadis itu sangat senang karena tahu persis kemapuan oma cantiknya itu dalam merias wajah.


"Bukan Oma Susan, tapi Tante Jihan," sahut Om Ilham yang juga sudah berada di sana.


"Apa jadinya adik-adik kami kalau yang merias Tante Jihan? Ya ampun, mending juga dirias sama Michaila." Malika tergelak, membayangkan tantenya yang tidak pandai berhias itu menjadi MUA. Saudara yang lain pun ikut tertawa.


"Tante kalian itu memang tidak pandai berhias, tetapi dia pengertian dan pandai menyenangkan om," timpal Om Ilham. "Apapun yang kami lakukan di rumah, tante kalian hanya akan bilang 'sak senengmu, Mas, sak karep-karepmu. Sing penting Mas Ilham karo Iqbal bahagia', selalu itu yang dia ucapkan," lanjutnya seraya terkekeh.

__ADS_1


"Kalau itu bukan pengertian, Ham," sahut Opa Alvian.


"Benar, tapi karena Jihan sudah frustasi dan tidak peduli lagi sama kamu dan anak bujangmu yang absurd itu," timpal Daddy Rehan seraya tergelak.


__ADS_2