Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Apapun Untukmu


__ADS_3

Setelah bersiap, Yudhistira kemudian keluar dengan sang papa sesuai tujuan awalnya. Hendak potong rambut dan sekaligus membelikan cincin untuk Maira. Memang untuk cincin nikah sudah ada, yaitu cincin peninggalan sang mama. Akan tetapi untuk pertunangan, pemuda tampan tersebut tetap memutuskan akan membelikan kekasihnya itu cincin yang spesial.


Yudhistira mengajak sang papa ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang tidak begitu jauh dari komplek perumahan elite di mana kediaman keluarga Bisma berada. Setelah memarkirkan mobilnya, Yudhistira segera turun yang diikuti oleh papanya. Mereka berdua kemudian berjalan memasuki pusat perbelanjaan tersebut.


Sengaja, Yudhistira mengajak sang papa ke sana karena selain cincin pemuda itu juga akan membelikan sang calon tunangan seserahan seperti yang dia lihat di internet setelah dia browsing apa saja yang di bawa pada saat acara pertunangan. Hidup sebatang kara tanpa adanya sang oma, membuat Yudhistira harus mencari tahu sendiri dan ponsel pintar sangat membantunya saat ini. Beruntung, sang papa telah kembali sehingga kini dia memiliki teman yang bisa diajak untuk sharing apa saja yang harus dibawa untuk calon tunangannya.


"Mau potong rambut dulu atau mau belanja keperluanmu dulu, Nak?" tanya sang papa.


"Belanja dulu kali ya, Pa," balas Yudhistira dan sang papa menganggukkan kepala, setuju.


"Apa dulu ya, Pa?" tanya Yudhistira, bingung.


"Kamu memangnya tahu, ukuran baju calonmu itu? Warna kesukaannya apa dan model yang dia suka seperti apa?" Sang papa balik bertanya.


Yudhistira menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum kecut. Pemuda tampan itu kemudian menggelengkan kepalanya. "Yudhis tidak tahu, Pa," balasnya, lesu.


"Kamu ini, Yud. Masak tidak tahu sama sekali tentang kekasih kamu. Memangnya, kamu belum pernah membelikan baju atau apa gitu, buat kekasihmu itu?" cecar sang papa dan Yudhistira kembali menggeleng.


"Jalan-jalan ke mall berdua gitu, juga belum pernah?" cecar sang papa kembali dan Yudhistira menggeleng kuat.


"Dulu ketika Yudhis belum kecelakaan, kami paling ke kampus bareng. Terus pulangnya kami main ke tempat abangnya, sekalian belajar bisnis sama Bang Kevin dan sahabat-sahabatnya. Pulang dari sana, Dik Mela suka ikut main ke rumah dan di rumah dia akan langsung sibuk sama oma," terang Yudhistira.


"Dia dekat sama Oma?" tanya sang papa.


Yudhistira menganggukkan kepala. "Dekat banget, Pa. Dia suka masak bareng sama oma. Kalau tidak masak bareng, oma dan Dik Mela akan menghabiskan waktu di kebun. Yudhis seringnya malah diabaikan kalau mereka sudah berdua," balas Yudhistira seraya tersenyum, mengingat kebersamaan Maira dan sang oma.

__ADS_1


Pak Pandu terkekeh. "Persis seperti mamamu berarti, Yud. Dulu, mama sama Oma juga sangat dekat dan hobi mereka juga sama. Makanya, oma sangat sayang sama mama bahkan oma lebih sayang sama mamamu ketimbang sama papa yang anak kandungnya sendiri."


"Lalu, beberapa bulan ini setelah kamu kecelakaan, dia sering menemani kamu, kan? Apa kalian juga tidak pernah kencan berdua?" lanjut sang papa, bertanya.


"Tidak, Pa. Kami kalau pergi, minimal bertiga sama adik sepupunya. Kadang juga ramai-ramai. Apalagi kalau pas ke kantor opa, kami sering ditemani sama omnya bahkan Om Rehan kadang juga ikut karena ada yang hendak disampaikan pada Yudhis," terang Yudhistira.


Pak Pandu mengangguk-angguk. Di satu sisi, laki-laki paruh baya tersebut merasa senang karena sang putra berhubungan dengan keluarga yang sangat baik, yaitu keluarga teman masa kecilnya. Namun di sisi lain, Pak Pandu juga merasa sedih karena sebagai ayah yang seharusnya mendampingi sang putra, dia malah mengabaikan Yudhistira.


"Maafkan papa, Nak. Seharusnya, papa yang mendampingi kamu dan bukannya orang lain," sesal Pak Pandu dengan suara tercekat di tenggorokan.


Yudhistira segera merangkul pundak sang papa masih sambil berjalan, layaknya seorang sahabat. "Pa, yang penting bagi Yudhis Papa sudah kembali dan Papa bisa mendampingi Yudhis sekarang."


Pak Pandu mengangguk-angguk. Keduanya kemudian sama-sama terdiam masih sambil berjalan perlahan tak tentu arah. Mereka belum tahu pasti apa yang hendak dibeli untuk seserahan Yudhistira nanti.


"Yud, sebaiknya kamu tanya saja sama Nak Mela biar kita tidak salah beli," saran sang papa, mengurai keheningan.


"Kenapa harus malu, Yud. Banyak kok, pasangan yang membeli seserahan bareng sama calonnya dan calonnya sendiri yang memilih," balas sang papa dan Yudhistira mengangguk, mengerti.


"Oke, Yudhis akan telepon Dik Mela." Belum sempat Yudhistira mengambil ponsel, ponselnya yang berada di dalam saku celana bergetar.


"Panjang umur dia," gumam Yudhistira seraya tersenyum, setelah melihat siapa yang meneleponnya.


"Siapa? Apa, Nak Mela?" tebak sang papa, setelah melihat senyuman sang putra dan pemuda tampan itu mengangguk.


"Yudhis terima telepon dulu ya, Pa," pamit Yudhistira seraya sedikit menepi agar tidak mengganggu jalan bagi pengunjung lain.

__ADS_1


"Halo, Dik. Assalamu'alaikum," sapa Yudhistira mendahului.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Mas Yudhis lagi jalan sama siapa? Papanya Mas Yudhis, ya?" tebak Maira, membuat Yudhistira langsung mengedarkan pandangan.


"Kamu di mall ini juga, Dik? Di sebelah mana?" tanya Yudhistira, mengabaikan pertanyaan sang calon tunangan.


Maira bukannya menjawab pertanyaan Yudhistira, tetapi malah mematikan ponselnya. Membuat Yudhistira mengerutkan dahi seraya menatap layar ponsel yang sudah kembali ke menu awal. "Kok malah dimatiin," protesnya.


"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Maira sambil menepuk punggung pemuda tampan tersebut.


Yudhistira reflek membalikkan badan, mendengar suara merdu yang sangat familiar di rungunya. "Wa'aaikumsalam, Sayang," balas Yudhistira, membuat pipi sang kekasih menjadi merona.


"Sama siapa, Dik?" lanjutnya bertanya, seraya mengacak puncak kepala sang kekasih.


"Sama daddy dan mommy. Tuh, di sana." Maira menunjuk ke arah kafe di salah satu sudut pusat perbelanjaan di lantai satu.


Pak Pandu kemudian mendekat dan tersenyum pada gadis cantik yang bersama sang putra. "Nak Mela, ya?" sapanya, menebak dan Maira menganggukkan kepala.


"Iya, Om. Saya Maira." Maira segera menyalami orang yang pernah dilihatnya sekilas ketika omanya Yudhistira meninggal. Gadis berhijab tersebut mencium punggung tangan Pak Pandu dengan takdzim. Membuat papanya Yudhistira tersebut merasa terharu.


"Lagi jalan-jalan ya, Om, melepas rindu sama Mas Yudhis?" tanya Maira


Pak Pandu terkekeh. "Iya. Kamu benar, Nak. Sudah lama sekali kami tidak jalan bareng berdua. Rasanya, om memang merindukan momen seperti ini," balas Pak Pandu. "Sekalian mau nganter putra papa ini yang mau potong rambut, biar calon tunangannya nanti makin sayang, katanya," lanjutnya, bercanda.


"Mas Yudhis mau potong rambut? Jangan, dong! Mela lebih suka tahu, kalau rambut Mas seperti itu. Dirapikan dikit aja, ya. Please ...," rajuk Maira, manja.

__ADS_1


Membuat Yudhistira tersenyum dan kemudian mengangguk. "Apapun untukmu, Sayang, akan aku lakukan."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2