
Genap enam minggu, Pak Pandu dirawat di rumah sakit terbaik di Singapura. Selama itu pula, keluarga besar Maira bergantian mengunjungi papanya Yudhistira tersebut. Jadi, meskipun Yudhistira dan Maira tidak setiap hari bisa menemani karena harus kuliah, Pak Pandu tidak merasa kesepian.
Apalagi, keluarga Bunda Fatima setiap hari juga menyempatkan waktu untuk menemani Bi Ina dan Pak Pandu di paviliun rumah sakit. Opa Sultan yang meskipun telah berusia senja, sesekali juga ikut menjenguk untuk memberikan semangat pada papa mertua dari sang cucu. Semua itu, membuat papanya Yudhistira kembali bersemangat menjalani hidup hingga keadaannya lekas membaik.
"Papa yakin, mau pulang sekarang?" tanya Yudhistira ketika mereka tengah berkemas.
Dokter memang menyatakan bahwa kondisi Pak Pandu secara keseluruhan telah membaik. Kondisi jantungnya pun baik. Hanya saja, laki-laki paruh baya tersebut harus menjalani pola hidup sehat agar jantungnya tetap bisa berfungsi dengan baik dan tidak ada masalah ke depannya meskipun telah dipasang ring di sana.
"Papa yakin, Nak. Papa tidak mau resepsi pernikahan kalian terus ditunda karena papa masih di sisi. Lagian kata dokter, papa sudah boleh pulang, kan?" Pak Pandu menatap putranya yang sedang membantu sang menantu membereskan obat dan vitamin miliknya.
"Tapi papa janji harus mematuhi semua saran dari dokter, ya," ucap Maira kemudian seraya mendekati sang mertua setelah menyimpan obat dan vitamin milik Pak Pandu ke dalam sang papa mertua.
Laki-laki paruh baya itu menganggukkan kepala lalu mengusap puncak kepala Maira dengan sayang. "Demi kalian, papa janji akan menjalani hidup dengan sehat," tuturnya.
"Sudah siap semua? Ayo, kita cabut!" ajak Annas yang siang ini menjemput ke rumah sakit.
Mereka semua lalu bergegas meninggalkan paviliun, tempat Pak Pandu menjalani terapi selama enam minggu ini. Annas yang melajukan sendiri mobilnya, mengarahkan mobil berkapasitas enam penumpang tersebut menuju ke kediaman orang tuanya.
"Om. Kita mampir ke rumah sebentar, ya?" pinta Annas seraya menoleh ke belakang, ke arah Pak Pandu yang duduk di samping sang menantu.
Pak Pandu hanya menganggukkan kepala, memberikan jawaban.
"Ada apa memangnya, Bang?" tanya Maira.
__ADS_1
"Nanti Dik Mela juga bakal tahu sendiri," balas Annas seraya tersenyum.
Mobil mewah tersebut terus melaju di jalanan beraspal yang lebar. Tidak lama kemudian, mereka tiba di hunian keluarga Ayah Yusuf. Annas segera memarkirkan mobil, di antara deretan mobil milik sang papa dan abangnya.
"Mari, Om. Silakan masuk." Annas menuntun tamunya untuk masuk ke dalam. Putra bungsu Ayah Yusuf tersebut langsung membawa mereka semua menuju ruang keluarga, termasuk Bi Ina yang mengekor di belakang, berjalan di samping Yudhistira.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Maira ketika melihat keluarga besarnya juga sudah berkumpul di sana.
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya, kompak.
"Dad, Mom. Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau pada ke sini?" protes Maira, setelah memeluk sang daddy dan sang mommy. Maira lalu duduk dan di antara kedua orang tuanya dan bergelayut manja di lengan sang daddy.
"Mel, udah punya suami juga, masih kolokan aja sama Daddy." ucap sang abang sulung yang juga ikut hadir di sana.
"Enggak apa-apa kali, Bang, sesekali," balas Maira dengan mengerucutkan bibir.
Yudhistira tersenyum lalu menganggukkan kepala. Dia paham seperti apa istrinya dulu yang selalu manja pada sang daddy dan disayang oleh semua abang-abangnya.
"Memang enggak apa-apa, Sayang, tapi kalau ada suami, sebaiknya kamu duduk di dekat suamimu," tutur sang mommy, dengan bijak.
"Iya, Mom." Maira lalu melepaskan pelukannya.
"Hai, Cinta Pertama. Maaf, ya, Mela harus mendampingi si dia," bisiknya kemudian seraya mencium pipi sang daddy, membuat Daddy Rehan tersenyum.
__ADS_1
Maira kemudian duduk di samping sang suami dan opanya. Mengambil tangan Yudhistira lalu memainkan jemari tangan suaminya di atas pangkuan. Hal itu membuat hati Yudhistira membuncah bahagia.
Obrolan hangat itu pun terus berlanjut hingga kemudian Opa Alvian yang turut hadir bersama sahabat yang lain, mulai bicara dengan serius. "Jadi begini, Pak Pandu. Alhamdulillah karena Pak Pandu sudah sehat dan bisa pulang ke tanah air, Rehan dan istrinya bermaksud menggelar resepsi pernikahan Mai dan Mela secara bersamaan."
Maira dan sang suami saling pandang lalu tersenyum bahagia. Tidak menyangka, resepsi pernikahan mereka pun akan dipercepat dan dibarengkan sang saudara kembar. Sementara Pak Pandu mengangguk-anggukkan kepala.
"Bagaimana menurut Pak Pandu?" lanjut Opa Alvian, bertanya.
"Iya Mas Alvian. Saya ikut saja bagaimana baiknya," balas Pandu yang percaya sepenuhnya pada Daddy Rehan.
"Pihak keluarga suami Mai juga sudah menyerahkan semua pada kami, Pandu, dan jika kamu pun tidak keberatan maka resepsinya akan langsungkan dua minggu lagi," terang Daddy Rehan.
"Masalah tempat, rencana akan diadakan di kediaman kami sesuai permintaan kakak saya, Pak Pandu. Mengingat, Mela dan Mai adalah cucu bungsu dari putri pertama Kak Lin," imbuh Opa Alvian dan Daddy Rehan mengangguk, membenarkan.
Opa Sultan pun nampak mengangguk-anggukkan kepala, setuju. Begitu pula dengan Pak Pandu. Papanya Yudhistira itu tahu pasti bahwa keluarga besar Maira pasti akan memberikan yang terbaik untuk kedua putri kembar tersebut.
"Kamu tidak perlu memikirkan apapun karena dalam hal ini kami yang memiliki hajat dan kami pula yang akan memikirkan semuanya, Pandu. Kamu fokus saja dengan kesehatan agar di hari bahagia putra-putri kita nanti, kamu tetap sehat dan bisa mendampingi Nak Yudhis," timpal Daddy Rehan.
"Tidak bisa seperti itu, Rey. Kami selaku pihak laki-laki akan tetap ...."
"Daddy benar, Om Pandu. Om Pandu fokus saja dengan kesehatan dan masalah ini biar kami yang handle semua," sergah Kevin, ikut bersuara.
"Papa tenang saja, Yudhis tidak akan berpangku tangan, kok. Yudhis pasti akan memberikan yang terbaik untuk Dik Mela," bisik pemuda tampan itu, mencoba menenangkan sang papa.
__ADS_1
Papanya Yudhistira itu akhirnya hanya bisa pasrah saja. Laki-laki paruh baya tersebut tidak henti mengucap syukur karena sang putra menemukan belahan jiwa yang dapat menuntun putranya itu menjadi lebih baik dan bertanggungjawab. Pak Pandu juga bersyukur karena keluarga besar mertua sang putra sangat peduli terhadap dirinya.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น