Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Bahas Pernikahan Kalian


__ADS_3

Ketiga pria tampan meskipun sudah berumur tersebut kemudian menyalami Yudhistira. Daddy Rehan pun beranjak untuk memberikan tempat duduknya pada Opa Alvian, om dari sang istri.


Opa Alvian selanjutnya nampak berbincang dengan Yudhistira, Mommy Billa dan juga Maira. Sementara Daddy Rehan mengajak sang asisten untuk keluar dari ruangan tersebut yang diikuti oleh Om Devan.


"Mau ngobrolin apa, Rey, pakai menjauh segala?" tanya Om Alex yang bernada protes.


"Kenapa tadi lu ngomong seperti itu?" balas Daddy Rehan, memprotes asisten abadinya.


Ya, meskipun mereka berdua telah sama-sama pensiun, tetapi jika ada segala macam persoalan, Daddy Rehan selalu saja menyuruh Om Alex untuk menyelesaikan. Ikatan batin yang sudah sangat kuat sejak masih kanak-kanak, ditambah lagi ada ikatan persaudaraan setelah keduanya menikah dengan kakak beradik, membuat Om Alex tidak pernah bisa menolak permintaan sahabat sekaligus bosnya itu.


"Rey, Yudhis saat ini butuh support yang luar biasa. Siapa lagi kalau bukan kita, seperti yang pernah lu bilang waktu itu? Dan support yang paling dapat mempengaruhi dia agar menjadi lebih baik, ya dari orang yang dia cinta, yaitu putri bungsu lu, Rey," tegas Om Alex.


"Iya-ya, kamu benar, Lex. Akan tetapi, Mela itu masih kecil."


Bagi daddy tampan itu, putri bungsunya tersebut masih kecil. Maira masih gadis kecilnya yang harus dia jaga sendiri. Rasanya, daddy Rehan belum rela jika ada seorang laki-laki yang ingin mengambil sang putri darinya.


"Mela sama Mai itu sama, Rey. Lu aja kasih ijin untuk Mai dekat sama cowok, kenapa Mela enggak?" Om Alex kembali melancarkan protesnya.


"Beda, Lex," kekeuh Daddy Rehan.


Kedua putri kembarnya memang lahir hanya selisih menit saja, tetapi bagi Daddy Rehan Maida tetaplah lebih dewasa karena dia kakaknya Maira. Apalagi, sifat Maida yang lebih tenang dan lebih kalem tersebut, berbanding terbalik dengan sifat Maira yang bawel dan ceplas-ceplos jika berbicara.


"Ngomong-ngomong soal Mai, semalam aku bertemu dengan dia bersama kekasihnya di acara pernikahan salah satu rekan bisnisku," sahut Om Devan.


"Apa Mai ada ijin sama kamu, Rey?" lanjutnya, bertanya pada Daddy Rehan.


Daddy Rehan menganggukkan kepala. "Ya, Er minta ijin sama kami. Katanya, adik sepupunya menikah," balas Daddy Rehan.

__ADS_1


"Jadi adik sepupunya itu, rekan bisnis kamu, Dev?" lanjut Daddy Rehan, bertanya pada Om Devan.


"Benar, Rey. Dan kekasihnya Mai itu, asisten pribadinya. Dia yang meng-handle semua urusan perusahaan," balas Devan. "Jadi, lu udah sering ketemu sama si Erlan?" lanjutnya bertanya, seraya menatap sang sahabat.


"Sudah. Dia selalu minta ijin kalau mau mengajak Mai pergi," balas Daddy Rehan. "Kenapa memangnya?" Daddy tampan itu menatap Om Devan dengan tatapan menyelidik.


"Erlan itu sudah matang dari segi usia, Rey. Dia juga sudah mapan dan sepak terjangnya di dunia bisnis tidak diragukan lagi. Dia juga kelihatan sangat sayang sama putrimu. Kenapa mereka berdua enggak dinikahkan aja, Rey?"


Daddy Rehan menghela napas panjang. "Masih terlalu dini, Dev!" Daddy tampan itu menggeleng-gelengkan kepala, tidak setuju dengan usulan sang sahabat.


"Daripada terjadi fitnah, Rey. Lu lihat, dong, kedekatan mereka seperti apa?" Om Alex menunjuk ke arah Maida, Erlan dan Iqbal yang berjalan ke arah mereka.


Pandangan Daddy Rehan tertuju pada tangan Erlan yang menggandeng tangan putrinya. Barulah setelah jarak mereka semakin dekat, pemuda tampan yang merupakan kekasih Maida tersebut melepaskan genggaman tangannya.


Daddy tampan itu menghembus napas kasar. Daddy Rehan kini menyadari bahwa sang putri memang telah beranjak dewasa.


"Udah, nikahkan aja mereka berdua! Sekalian bareng sama si Mela dan siapa itu, cowok begajulan yang kecelakaan?" desak dan tanya Om Devan.


"Yudhis, Dev. Dia bukan cowok begajulan! Dia hanya sempat salah arah," protes Daddy Rehan yang tidak terima jika cucu Oma Saidah yang dititipkan kepadanya, dikata-katai sebagai cowok begajulan.


"Dih! Belum jadi menantu aja, udah dibelain! Bagaimana nanti?" cibir besannya Daddy Rehan tersebut.


"Lagi pada ngobrolin apa, sih? Serius banget?" tanya Opa Alvian yang kemudian ikut menyusul ke teras.


"Tuh, calon pengantin," balas Om Devan, tepat di saat Maida, Erlan dan Iqbal sampai di teras.


"Siapa yang calon pengantin, Pakdhe?" sahut Iqbal, bertanya. "Apa Kak Mai dan Bang Er?" lanjutnya, membuat Maida dan sang kekasih saling pandang.

__ADS_1


"Ya iyalah, Nang, siapa lagi?" balas Om Alex, menjawab pertanyaan sang keponakan.


"Assalamu'alaikum, Om," ucap salam kekasih Maida. Pemuda dewasa itu kemudian menyalami daddy-nya Maida dan juga ketiga laki-laki paruh baya yang berada di sana.


"Mas Erlan, panjang umur. Baru saja kami membicarakan kalian tadi," ucap Om Devan seraya menepuk punggung Erlan ketika pemuda tersebut menyalaminya.


"Oh, ya. Semoga membicarakan yang baik-baik tentang saya ya, Om Dev." Pemuda tampan kekasih dari Maida itu tersenyum dan kemudian ikut duduk di kursi teras, setelah Daddy Rehan mempersilakan.


"Santai Bang Er, kami membicarakan tentang pernikahan kamu dan Mai, kok, yang rencana akan dibarengkan dengan pernikahan Mela dan Yudhis," sahut Om Alex yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Daddy Rehan.


"Ya udah, sih, Rey. Kalau anaknya mau, kenapa lu mesti melotot gitu?" Opa Alvian menepuk punggung suami dari keponakannya seraya tersenyum lebar.


Erlan tersenyum senang mendengar perbincangan para orang tua tersebut. Begitu pula dengan Maida. Gadis cantik itu melirik ke arah sang kekasih dan tersenyum manis yang dibalas oleh sang kekasih dengan kedipan mata.


Obrolan mereka pun terus berlanjut. Erlan yang merupakan seorang asisten dari direktur utama pemilik perusahaan besar, tentu dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan Daddy Rehan dan sahabat-sahabatnya. Pembawaan pemuda itu yang ramah, percaya diri dan juga cerdas membaca situasi, membuat kekasih Maida dengan mudah ikut mengalir dalam obrolan hangat para bapak tersebut.


Maida dan Iqbal kemudian masuk ke dalam ruang rawat Yudhistira dengan mengucapkan salam dan menyalami Mommy Billa yang duduk di kursi, di samping ranjang pasien.


"Bang Er jadi ikut ke sini, Mai?" tanya Mommy Billa.


"Jadi, dong, Budhe. Bang Er 'kan mau sekalian ngelamar Kak Mai. Tuh, diluar lagi pada bahas itu," sahut Iqbal seraya menunjuk arah luar dengan dagunya.


"Bahas apaan, Dik?" tanya Maira, penasaran.


"Bahas pernikahan kalian yang akan dibarengkan." Jawaban Iqbal membuat Yudhis dan Maira saling pandang dan kemudian tersenyum.


'Apa itu artinya, Om Rehan merestuiku menjalin hubungan dengan putrinya?'

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2