
Bi Ina yang baru muncul dari arah belakang dan hendak menyambut papanya Yudhistira, menghentikan langkah kala mendengar permintaan istri muda dari Pak Pandu. 'Duh, bagaimana ini kalau Tuan Pandu menyetujui permintaan istrinya yang angkuh itu?' bisiknya dalam hati. Bi Ina mengkhawatirkan bagaimana perasaan Yudhistira jika hal itu terjadi.
"Tidak, Ma. Kita tetap di Surabaya," tolak Pak Pandu, tegas.
"Pa, mama pengin di sini. Papa bisa serahkan pengelolaan perusahaan yang di sana pada adikku dan Papa urus perusahaan yang di sini." Leni terus merajuk seraya bergelayut manja di lengan sang suami.
"Rumah, perusahaan dan segala asset yang di Jakarta, itu miliknya Yudhis, Ma. Aku tidak memiliki hak apa-apa! Jangan memancing kemarahanku dengan permintaan kamu yang berlebihan itu, Ma!" tegas Pandu dengan meninggikan intonasi bicaranya, membuat Yudhistira yang berada di lantai atas mendengar dan kemudian segera turun.
"Ck! Mama tidak percaya! Papa pasti bohong! Papa pilih kasih sama anak kandung Papa sendiri! Yudhis Papa kasih banyak, sementara kedua anakku, hanya perusahaan kecil yang di Surabaya!" Leni membalasnya dengan suara yang tidak kalah tinggi.
"Asal kamu tahu, Ma! Perusahaan Bisma awalnya adalah gabungan dari dua perusahaan kecil, milik papaku dan papanya almarhumah! Papaku yang kemudian mengelola karena mertuaku, kakeknya Yudhis, meninggal akibat sakit! Wajar jika kemudian semuanya jatuh pada Yudhis karena dia mewarisi harta kakek dan opanya!" terang Pandu panjang lebar.
Leni nampak masih tidak percaya. "Itu hanya karangan Papa, kan, agar aku tidak menuntut lebih untuk anak-anak kita?" Wanita yang usianya terpaut jauh dengan Pak Pandu itu menatap tajam sang suami.
Pak Pandu menggeleng. "Aku mengatakan yang sejujurnya, Ma! Terserah, kamu mau percaya atau tidak!"
"Lagipula, perusahaan yang di Surabaya itu hasil kerja keras papa dan mamanya Yudhis dan kamu sudah meminta semuanya, bukan? Kamu bahkan tidak memikirkan perasaan Yudhis sama sekali, Ma!" Pak Pandu menatap tajam pada istrinya.
__ADS_1
"Ada hak Yudhis juga di sana, tapi anak itu bahkan sama sekali tidak peduli dan sudah merelakan jika semuanya mama ambil. Tapi apa balasan, Mama? Mama masih saja serakah ingin menguasai semuanya! Papa lelah, Ma! Papa sudah muak dengan semua permintaan Mama yang tidak masuk akal itu!"
Leni melepaskan pelukannya di lengan sang suami dan kemudian menghentak tangan suaminya dengan kasar. "Papa sudah tidak sayang lagi sama mama! Mama benci sama Papa!" Leni menjauh dari sang suami dan kemudian mendekati kedua putranya yang berdiri ketakutan, mendengar kedua orang tuanya bertengkar.
Sementara Yudhistira yang masih berdiri di anak tangga, mematung. Dia sama sekali tidak ingin ikut campur masalah sang papa. Yudhistira masih berdiri di sana karena ingin tahu sejauh mana papanya dapat disetir oleh wanita ambisius nan serakah itu.
"Sekarang Papa putuskan! Papa akan menuruti keinginan mama untuk tinggal di sini, atau kita pisah!" Selalu kata keramat itu yang Leni gunakan untuk mengancam sang suami yang sangat menyayangi putra mereka berdua.
Pak Pandu menghela napas panjang. Sementara Yudhistira tersenyum smirk. Pemuda tampan itu kemudian berjalan menuruni anak tangga sambil bertepuk tangan.
Wanita muda istri papanya itu berdecih dan kemudian membuang muka. Leni tidak sudi menatap anak tirinya itu. Istri Pak Pandu itu semakin terlihat membenci Yudhistira.
Perhatian Yudhistira teralihkan. Pemuda berambut gondrong itu kemudian memindai kedua wajah anak kecil yang pundaknya dipeluk oleh Leni. Dia memiringkan kepala ke kanan, ke kiri seolah hendak mencari-cari sesuatu.
Bi Ina yang masih berdiri di kejauhan dan menyaksikan semuanya, ikut menggerakkan kepala. Bibi asisten itu mengikuti pergerakan kepala sang tuan muda, ke kanan ke kiri dan ikut mengamati kedua anak Leni. 'Kedua anak Tuan Pandu, kok tidak ada mirip-miripnya ya, sama Tuan,' batin Bi Ina kemudian setelah menyadari apa yang diperhatikan oleh tuan mudanya.
"Ma. Ayolah, Ma, kita bicarakan ini baik-baik," bujuk Pak Pandu.
__ADS_1
"Tidak, Pa! Keputusan mama sudah bulat! Jika Papa tidak mau kita pindah ke sini, itu artinya Papa sudah tidak sayang lagi pada Fero dan Feri!" Leni sepertinya terlanjur malu dengan ancamannya dan dia tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri.
"Ma ...." Pak Pandu menghela napas berat. Ditatapnya kedua anak kecil yang sangat dia sayangi. Papanya Yudhistira itu kemudian menggeleng.
"Pa, tidakkah Papa bisa lihat apakah kedua bocah itu ada kemiripannya sama Papa atau tidak?" Yudhistira berbicara dengan penuh penekanan.
"Apa maksudmu, Berandal?" Leni menunjuk Yudhistira dengan jari telunjuk bergetar dan tatapannya tajam, menatap anak tirinya itu. "Jagan mengada-ada! Anak ini, anak kandung papa kamu!"
Pak Pandu menoleh ke arah sang putra yang hanya menyunggingkan sebuah senyuman menanggapi kemarahan Leni. "Yud, apa maksud kamu, Nak? Jangan menyebar fitnah, Yudhis!" tanya dan protes Pak Pandu, berbisik.
Yudhistira menggeleng. "Yudhis tidak mengada-ada, Pa. Maaf, jika selama ini Yudhis diam dan belum berani mengatakan pada Papa karena Yudhis belum mendapatkan bukti dari informasi yang pernah Yudhis terima waktu itu. Sekarang, Yudhis akan ungkap semua karena bukti akurat sudah ada di tangan Yudhis." Yudhistira mengucapkan kata demi kata dengan begitu tenang.
"Papa ingat, kan, dengan asisten kepercayaan mama yang kemudian didepak dari perusahaan oleh wanita itu setelah Papa menikahi dia?" Yudhistira menunjuk ke arah Leni yang wajahnya mulai pucat. Istri muda Pak Pandu tersebut seolah dapat menebak kemana arah pembicaraan Yudhistira.
"Pa, jangan percaya apapun yang dia katakan! Berandal itu hanya mencoba untuk memfitnah mama, Pa! Ayo, kita pulang saja ke Surabaya, Pa!"
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1