Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Papa Kenapa?


__ADS_3

Maira terbangun ketika merasa ada yang menindih perutnya. Dia menoleh lalu tersenyum. Rupanya, itu adalah tangan pemuda berambut gondrong yang kini telah resmi menjadi suaminya.


Perlahan Maira menyingkirkan tangan sang suami lalu beringsut. Dia kemudian menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah tampan Yudhistira. Senyum Maira semakin merekah indah.


"Suamiku sungguh tampan dan dibalik sikap kamu yang berandalan itu, Mas, ternyata kamu itu lembut dan penuh pengertian," gumam Maira seraya memandangi wajah sang suami yang masih terpejam.


Maira teringat kembali dengan perlakuan suaminya tadi. Yudhistira mencumbuinya dengan penuh kasih dan sang suami tidak memaksakan kehendak ketika Maira sempat takut untuk memulai penyatuan. Akhirnya, dengan perlakuan sang suami yang lembut, Maira rela menyerahkan mahkota yang berharga untuk suami tercinta.


"Apa masih kurang yang tadi, Sayang? Kenapa memandangiku seperti itu? Aku perkasa, kan?" Suara Yudhistira, membuat Maira terkejut dan malu setengah mati.


"Ih, Mas! Nyebelin, deh! Pakai pura-pura tidur segala!" Maira mencubit lengan sang suami lalu kembali merebahkan diri seraya memunggungi suaminya.


Yudhistira tergelak. Pemuda tampan itu lalu memeluk sang istri dari belakang. "Jangan ngambek, dong," bujuknya seraya menciumi tengkuk sang istri, membuat Maira kembali meremang.


"Sejak kapan Mas terbangun?" tanya Maira, masih sok jual mahal dan belum mau membalikkan badan.


"Sejak kamu menyingkirkan tanganku dari sini," balas Yudhistira yang kini tangannya sudah menelusup ke dalam gaun sang istri dan meraba perut ramping nan halus milik istrinya.


"Geli, ah ...." ******* kecil mulai keluar dari bibir tipis Maira.


"Sekali lagi boleh, ya? Setelah ini kita mandi lalu shubuhan," pinta Yudhistira dan Maira hanya mengangguk, pasrah.


Sepasang pengantin baru itu mengawali hari dengan penyatuan indah yang menghasilkan peluh dan kenikmatan. Penyatuan yang diharapkan akan segera menghasilkan keturunan, buah dari cinta dan kasih mereka berdua.

__ADS_1


Usai mandi besar dan sholat shubuh berjama'ah yang sedikit kesiangan karena ternyata Yudhistira minta nambah, Maira dan sang suami lalu bergabung bersama keluarga besar yang sedang menikmati teh hangat dan gorengan di teras hall yang cukup luas. Di sana, terdapat banyak bangku yang terbuat dari bambu, rotan, dan ada juga yang dari ban bekas. Rupanya, bukan mereka berdua saja yang terlambat bergabung karena sang saudara kembar sepertinya juga baru datang bersama suaminya.


Kehadiran dua pasangan pengantin baru itupun, semakin menambah riuh suasana. Ledekan demi ledekan, dilontarkan untuk kembar bungsu tersebut. Terlebih untuk Maira dan mas gondrong, suaminya. Begitulah Om Ilham memanggil Yudhistira.


"Cetak berapa gol, Mas Gondrong? Naga-naganya, minta nambah terus, nih," ledek omnya Maira itu seraya tersenyum nyengir.


Yudhistira membalasnya hanya dengan senyuman.


"Om Ilham pasti tahulah, kalau nikmat ya pasti nambah, kan?" bela Kevin pada adik ipar yang sudah akrab dengan dirinya itu.


"Dia meskipun enggak nikmat, tetap nambah, tuh! Dia 'kan, doyan," sahut Om Alex.


"Doyan apa, sih, Om?" tanya Iqbal sambil makan singkong goreng.


"Memangnya, Ayah punya makanan kesukaan? Bukannya, semua makanan Ayah suka asalkan gratisan, ya?" Remaja yang tidak pernah bisa serius itu menatap sang ayah.


"Hush! Jangan buka kartu, dong, Mas!" protes sang ayah, yang disambut tawa oleh saudara-saudaranya.


Ya, mereka semua tahu kalau Om Ilham memang paling suka traktiran. Mungkin karena dia bungsu dan terbiasa diberi, makanya dia jadi malas untuk mengeluarkan uang meskipun kehidupannya juga sudah sangat mapan. Dia sudah memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang konstruksi seperti passion-nya sejak masih sekolah dulu.


Obrolan yang hangat itu pun terus berlangsung hingga tiba waktu sarapan pagi. Mereka lalu sarapan sama-sama, termasuk papanya Yudhistira dan keluarga besar dari suami Maida. Usai sarapan, mereka kemudian bersiap untuk meninggalkan pulau keluarga tersebut.


Rombongan Bunda Fatima yang mengajak serta Opa Sultan dan Oma Sekar pulang lebih awal dan langsung menuju ke negaranya karena Ayah Yusuf harus mendatangi acara penting di sana. Keluarga Erlan yang mengajak serta Maida, menyusul kemudian karena adik sepupu Erlan kabarnya ada rapat mendadak dengan salah satu klien-nya. Sementara Yudhistira dan sang papa, ikut rombongan keluarga Maira yang berangkat paling akhir.

__ADS_1


Menjelang tengah hari, mereka semua tiba di kediaman keluarga Antonio. Yudhistira langsung mengajak sang istri untuk pulang ke rumahnya. Sewaktu berpamitan, sang daddy nampak sangat berat melepaskan putri bungsunya tersebut, sama seperti tadi sewaktu Maida dan Erlan berpamitan.


"Rey, Mela cuma pulang ke rumah suaminya yang jaraknya hanya lima langkah dari rumah lu. Kayak mau ditinggal pergi jauh aja sedihnya," cibir Opa Alvian.


"Lima langkah? Lima gang, Bang! Lagian Abang enggak tahu bagaimana rasanya memiliki anak perempuan, sih, makanya enak aja ngomong," balas Daddy Rehan.


"Dad, udah. Anaknya nungguin, tuh, pengin salim." Mommy Billa menyudahi perdebatan kecil tersebut.


Mau tidak mau, Daddy Rehan harus mengijinkan sang putri bungsu tinggal di kediaman suaminya. Laki-laki paruh baya tersebut memeluk erat sang putri. "Jaga diri baik-baik dan jadilah istri yang patuh pada suami, Nak," pesannya dengan suara tercekat di tenggorokan.


"InsyaAllah, Dad. Daddy juga harus jaga kesehatan. Jangan telat makan dan jangan nolak kalau Mommy nyuruh Daddy untuk minum jamu." Maira tersenyum seraya melirik sang mommy.


Mommy Billa ikut tersenyum kemudian.


"Nak, bujuk Papa Pandu agar mau berobat ke Singapura. Ke dokter yang dulu menangani opa," bisik Daddy Rehan sebelum benar-benar melepaskan putrinya dan Maira mengangguk.


"Kami pulang dulu, Besan," pamit Pak Pandu kemudian, setelah Maira berdiri di samping sang suami.


"Iya, Pandu. Ingat, kamu harus sehat demi mereka berdua," bisik Daddy Rehan seraya memeluk teman masa kecil yang kini menjadi besannya dan Pak Pandu yang wajahnya terlihat pucat hanya mengangguk.


Yudhistira segera melajukan mobil mewahnya membelah jalanan beraspal untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, tidak henti pemuda tampan itu mengulas senyuman karena kini dia pulang dengan status yang baru. Tiba-tiba, kepanikan terjadi di bangku belakang di mana Maira duduk menemani sang papa mertua.


"Mas Yudhis! Papa, Mas! Papa kenapa?"

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2