Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Maafkan Aku, Dik


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika semua saudara meninggalkan paviliun rumah sakit, tempat Yudhistira dirawat. Maira kemudian bergegas menuju ruang perawatan untuk melihat kondisi pemuda yang pernah menyatakan cinta kepadanya, tetapi belum sempat dia jawab.


"Dik, sebaiknya kamu dan Bi Ina tidur dulu. Biar abang yang jagain Yudhis, kita bergantian," saran Kevin setelah cukup lama Maira duduk di samping bad pasien, sambil memandangi wajah tampan yang masih saja terpejam.


Maira menggeleng. "Abang sama Bibi saja yang istirahat duluan," kekeuh Maira yang tidak ingin jauh dari Yudhistira.


Kevin menghela napas panjang dan pemuda itu hanya bisa menatap iba pada sang adik yang saat ini perasaannya pasti sedang tidak baik-baik saja karena didera rasa bersalah pada Yudhistira.


"Bi Ina. Bibi silakan istirahat saja, biar Kevin yang menemani Mela di sini," suruh Kevin pada asisten rumah tangga tersebut.


"Baik, Den." Bi Ina patuh dan asisten di kediaman keluarga Bisma tersebut segera meninggalkan ruang rawat tuan mudanya.


"Kalau sudah lelah, istirahatlah di kamar dan bangunkan abang. Abang mau rebahan sebentar di sini," pinta Kevin yang kemudian merebahkan diri di sofa single.


Maira hanya mengangguk. Gadis itu masih duduk di tempatnya semula dan masih betah memandangi wajah tenang Yudhistira. Maira kemudian mengusap kening Yudhistira, dengan penuh rasa sayang. "Alhamdulillah, udah enggak sepanas tadi," gumamnya.


Sudah hampir satu jam Maira duduk di sana, gadis cantik itu bahkan mulai terkantuk-kantuk. Namun, Maira masih enggan beranjak pergi ke kamar yang telah disediakan untuknya beristirahat.


"Dik, Mela. Jangan memaksakan diri, kamu udah ngantuk berat itu! Sana, tidur!" titah Kevin yang tahu-tahu sudah berada di belakang sang adik.


"Bentar lagi, Bang," tolak Maira. "Mela enggak mau kalau sampai nanti Mas Yudhis sadar dan Mela enggak ada di sampingnya."


"Ya, terserah kamulah," balas Kevin, pasrah. Pemuda itu memang tidak pernah tega menolak keinginan kedua adik kembarnya, sejak mereka berdua masih kanak-kanak.

__ADS_1


Kevin kemudian memegang dahi Yudhistira untuk mengecek suhu tubuh pemuda tersebut yang tadi sempat mengalami demam tinggi.


"Dik, kamu demam?" Kevin terlihat sangat khawatir menatap sang adik, ketika tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Maira yang terasa sedikit panas.


"Enggak, kok, Bang. Mela biasa aja," sanggah Maira yang tidak ingin membuat sang abang menjadi khawatir, padahal kepalanya memang terasa sedikit pusing.


"Kamu enggak baik-baik saja, Mel. Udah, jangan membantah abang. Kamu istirahat dulu di sofa kalau memang tidak ingin meninggalkan Yudhis. Abang akan keluar sebentar untuk membelikan minuman hangat buat kamu," titah Kevin yang tidak dapat dibantah lagi oleh Maira.


Gadis itu kemudian berjalan menuju sofa dan segera merebahkan diri di sana. Sementara Kevin langsung keluar dari ruang perawatan Yudhistira.


Baru beberapa saat Kevin keluar dari ruang rawat Yudhistira, Bi Ina terlihat masuk ke dalam ruangan tersebut. Rupanya, Kevin sempat membangunkan asisten di kediaman keluarga Bisma tadi, sebelum kakak sulung Maira itu keluar untuk mencarikan minuman hangat buat sang adik.


Bi Ina geleng-geleng kepala melihat Maira sudah meringkuk di sofa dengan mata terpejam. Kantuk yang menyerang serta rasa pusing yang mendera di kepala, membuat gadis cantik itu cepat terlelap.


"Bi, itu siapa?"


Bi Ina langsung menoleh ke arah sumber suara dan senyum wanita berusia sekitar empat puluh tahun tersebut langsung merekah. Asisten rumah tangga itu sangat bahagia, melihat tuan mudanya telah sadar setelah hampir seharian Yudhistira pingsan.


"Den Yudhis sudah sadar? Alhamdulillah." Bi Ina berjalan mendekat ke arah bad pasien. Asisten setia itu sampai melupakan pertanyaan Yudhistira tadi.


"Iya, Bi. Badanku rasanya sakit semua," keluh Yudhistira. "Bi, apa kakiku patah?" tanyanya kemudian setelah melihat kakinya yang posisinya sedikit diangkat tersebut dibalut perban putih.


Bi Ina hanya mengangguk, tidak berani berkata-kata. Dia khawatir, sang tuan muda akan merasa kecewa jika mengetahui kakinya patah.

__ADS_1


Yudhistira menghela napas panjang dan tatapannya kemudian tertuju kembali ke arah sofa. "Bi, apa itu Dik Mela?" tanya Yudhistira seraya tersenyum samar.


"Iya, Den. Keluarga Non Maira, daddy dan mommy-nya yang mengurus semua pengobatan untuk Den Yudhis." Bi Ina kemudian menceritakan semuanya, bagaimana keluarga Maira begitu peduli pada pemuda tersebut.


Bi Ina juga menceritakan bahwa saudara-saudara Maira juga datang berkunjung dan mereka semua belum lama pulang. "Den Kevin dan Non Maira yang menemani Aden di sini," pungkas Bi Ina.


"Bang Kevin-nya kemana, Bi?" tanya Yudhistira seraya mengedarkan pandangan ketika tidak mendapati Kevin di ruang rawatnya yang cukup luas.


Den Kevin sedang keluar untuk mencarikan obat dan minuman hangat buat Non Maira, Den. Non tiba-tiba saja badannya panas," balas Bi Ina seraya menatap Maira yang masih meringkuk.


Yudhistira menelan saliva, getir. Rasa bersalah menyambangi perasaannya, kini. Harusnya, dia mendengarkan apa kata Kevin dan ikut dengan kakak sulung Maira untuk pulang ke kediamannya.


'Maafkan aku, Dik. Karena keegoisanku, aku malah merepotkan kamu dan keluargamu,' batin Yudhistira.


Malam yang sunyi, membuat suara sekecil apapun dapat terdengar dengan jelas.


"Bi, apa itu Bang Kevin?" tanya Yudhistira ketika mendengar suara pintu luar dibuka dan kemudian ditutup kembali oleh seseorang.


"Bisa jadi, Den," balas Bi Ina.


"Bi, tolong jangan katakan pada Bang Kevin kalau aku sudah sadar," pinta Yudhistira yang langsung memejamkan matanya kembali.


Bi Ina yang masih berdiri di samping ranjang pasien, mengerutkan dahi. Asisten itu tidak mengerti dengan permintaan sang tuan muda, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti permintaan Yudhistira.

__ADS_1


__ADS_2