Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Mengabulkan Permintaanku


__ADS_3

Waktu yang dinantikan pun tiba. Maira dan saudari kembarnya sudah dirias dan mereka berdua terlihat sangat cantik. Mereka mengenakan gaun berbeda warna, sesuai dengan pakaian yang dikenakan oleh pasangan masing-masing.


"Cantik sekali, sih, adik-adik kecilku ini!" seru Malika yang baru saja masuk ke ruangan khusus yang digunakan untuk merias Maira dan Maida.


"Kak, kami udah besar ya, sekarang," balas Maira, cemberut. Gadis cantik calon tunangan Yudhistira itu tidak diterima dikatakan masih kecil.


"Iya-iya. Aunty Mela udah besal sekalang. Udah pintal melayu calon suami, belum? Kalau belum, kakak ajalin, mau?" goda Malika yang menirukan cara bicara sang adik kala masih kecil hingga membuat bibir Maira semakin mengerucut. Sementara Maida hanya senyum-senyum.


"Kak Icha! Udah, dong, jangan ngeledekin terus!" kesal Maira. "Kalau mau ngajarin gimana cara merayu suami, ya ajarin aja! Enggak usah pakai ngeledek segala!" lanjutnya yang masih terlihat sangat kesal, membuat Malika tergelak kemudian.


"Kakak akan ajarin, tapi nanti kalau udah ada kata sah," balas Malika sambil berlalu dengan terkekeh sendiri. Menyisakan Maira dan Maida yang kemudian saling pandang, keduanya tersenyum kemudian.


"Kak Mai, kakak curiga enggak, sih, kalau daddy dan mommy menyembunyikan sesuatu?" tanya Maira setelah tawa kakak perempuan satu-satunya menghilang.


Maida mengerutkan dahi. "Maksud kamu?"


"Entahlah, Kak. Mela merasa kalau daddy dan mommy memiliki sebuah rencana," balas Maira.


Maida mengedikkan bahu. "Kayaknya, sih, begitu. Semoga aja rencana baik ya, Dik," timpal Maida, kemudian.

__ADS_1


"Rencana apa?" tanya sang mommy yang tiba-tiba muncul. "Ayo, kita keluar!" ajaknya kemudian, membuat Maira dan Maida tidak sempat menanyakan pada sang mommy tentang kecurigaan mereka.


Di tempat lain, tepatnya di hall tempat acara pertunangan akan berlangsung. Semua keluarga sudah berkumpul dan semua nampak berbahagia, termasuk Yudhistira dan juga calon tunangan Maida, Erlan Adiguna. Yudhistira yang sore ini mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan rambut di sisir rapi, membuat pemuda tampan itu nampak lebih dewasa.


Mereka duduk di tempat masing-masing. Yudhistira yang di dampingi sang papa, nampak sedikit gelisah. Menanti dengan berdebar sang kekasih hati yang tidak kunjung menampakkan diri.


"Santai saja, Yudhis. Nak Mela tidak akan kemana-mana," canda sang papa, mencoba mengurai kegugupan sang putra. Yudhistira tersenyum kecut, kemudian.


Pemuda tampan itu menghela napas panjang. Mencoba mengusir rasa grogi yang tiba-tiba datang menyambangi ketika dari kejauhan dia melihat sang kekasih hati sedang berjalan beriringan dengan kembarannya, dengan didampingi sang mommy. Senyum Yudhistira lalu terbit dengan sempurna, begitu gadis cantik yang telah mengisi hatinya mendekat dan kemudian duduk di sampingnya.


"Kamu semakin cantik saja, Nyonya Yudhis," bisik Yudhistira ketika Maira baru saja mendudukkan diri. Pipi putih itu langsung merona, mendengar panggilan istimewa yang belum terbiasa di telinganya.


"Belum sah, Mas. Jangan asal nyebut nyonya!" sanggah Iqbal yang duduk di deretan bangku tepat di belakang Yudhistira.


"Dik, aku pasti akan menjadi suami yang paling bahagia jika kita sudah menikah nanti," bisik Yudhistira kembali. Entah keberanian darimana, pemuda tampan itu kini mulai berani melancarkan rayuan gombal pada sang calon tunangan. Maira semakin salah tingkah dibuatnya.


"Dan aku pasti akan menjadi seorang nyonya muda yang paling beruntung," balas Maira, tanpa Yudhistira duga. Pemuda tampan itu lalu tersenyum bahagia.


Di sisi yang lain. Sepertinya calon tunangan Maida juga tengah melancarkan aksinya hingga membuat wajah cantik kembaran Maira itu selalu saja menyunggingkan senyuman. Opa Alvian berdeham kemudian untuk meminta perhatian karena acara akan segera dimulai.

__ADS_1


Opa Alvian yang didaulat untuk membawakan acara pertunangan kedua cucu kembarnya itu pun mulai membuka suara. Semua nampak khusyuk mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan dengan perlahan dan penuh makna oleh wakil dari tuan rumah tersebut. Begitu pula dengan kedua pasangan yang saat ini tengah berbahagia, mereka juga khusyuk mendengarkan dengan hati berdebar senang.


Satu per satu acara berjalan tanpa hambatan. Yudhistira dengan lancar dan tegas pun telah menyampaikan maksud hatinya. Begitu pula dengan kekasih Maida.


Kini tiba saatnya acara tukar cincin. Yudhistira yang sudah tidak memiliki mama, penyematan cincinnya di jari manis Maira, diwakili oleh Salma yang sudah seperti kakak sendiri bagi pemuda tampan itu karena Yudhistira sudah sering main ke kantor ataupun ke kediaman kakak pertama Maira tersebut.


"Dik, kalau nanti kamu enggak suka dengan modelnya atau cincinnya ternyata enggak pas, lain kali kita beli sesuai model yang kamu suka. Ini cincin peninggalan mama, jadi aku enggak tahu apa kamu suka atau tidak, dan pas di jari kamu atau tidak," ucap Yudhistira pelan, sebelum cincin dalam kotak yang dia pegang diambil oleh Salma untuk kemudian disematkan ke jari manis Maira.


"Aku pasti suka, kok, Mas, dan pasti muat di jariku," yakin Maira. Gadis cantik itu merasa terharu ketika mendengar bahwa cincin yang berkilau indah yang saat ini dipegang sang kakak adalah peninggalan almarhum mamanya sang kekasih. Mommy Billa yang masih memegang kotak berisi cincin untuk Yudhistira pun ikut terharu.


"Kakak pakaikan cincinnya, ya," ucap Salma kemudian, mengurai keharuan.


Semua mata kini tertuju ke arah mereka berdua karena prosesi pertunangan Maida dan kekasihnya sudah selesai. Maida lahir lebih dulu sehingga penyematan cincinnya pun didahulukan. Salma kemudian menyematkan cincin indah itu ke jari manis tangan kanan sang adik ipar dan ukurannya pas di sana.


Yudhistira tersenyum lega kemudian, begitu pula dengan sang papa yang berdiri berdampingan dengan Daddy Rehan. Laki-laki paruh baya itu menitikkan air mata. Merasa terharu dan sangat bahagia melihat kebahagiaan sang putra.


"Rey, terima kasih sudah mengabulkan permintaanku sebelum aku dipanggil oleh-Nya," tutur Pak Pandu.


Daddy Rehan menghela napas panjang dan kemudian menepuk-nepuk pundak teman masa kecilnya itu. "Menyaksikan mereka bahagia, adalah obat yang paling mujarab dan kamu pasti akan sehat sehingga dapat menyaksikan mereka memiliki keturunan yang banyak dan cucu-cucumu nanti akan berebut untuk meminta digendong opanya. Semangat, Pandu. Berjanjilah untuk tetap sehat dan kuat demi mereka," balas Daddy Rehan, menyemangati.

__ADS_1


Pak Pandu hanya mengangguk, pasrah.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2