
Setelah puas menikmati mie setan yang pedasnya terasa panas di lidah, Yudhistira kemudian kembali menemui sang papa yang masih bersama istri mudanya. Pak Pandu nampak duduk di sofa dengan mata terpejam. Sementara Leni masih terisak, sambil duduk bersimpuh di samping sang suami yang selama ini telah dibohongi habis-habisan.
Pemuda tampan itu kemudian memilih untuk berdiri dengan menjaga jarak dari mereka. Yudhistira mulai kepo dan ingin tahu bagaimana keputusan sang papa setelah mengetahui semuanya. Apakah papanya yang bodoh akan memaafkan Leni begitu saja ataukah akan mengambil sikap lain?
"Maafkan mama, Pa. Mama mengaku salah, mama mohon ampuni semua kesalahan mama," pinta Leni di sela isak tangisnya, setelah cukup lama keduanya terdiam.
Kedua anak Leni duduk di lantai tidak jauh dari mamanya. Kedua bocah itu juga terisak, mencoba menarik simpati orang tua yang selama ini dipanggil papa. Leni kemudian menoleh ke arah anak-anaknya.
"Jika papa tidak mau memaafkan mama, maka mama akan mengajak mereka berdua mati bersama mama!" ancam Leni, menggunakan kelemahan sang suami yang sangat menyayangi kedua anaknya. Wanita ambisius itu kemudian beranjak.
Pak Pandu membuka mata sekilas, lalu kembali terpejam.
Melihat sang suami tidak lagi peduli padanya dan kedua anaknya, Leni menyeret dengan kasar kedua anak itu untuk mendekati laki-laki paruh baya yang sudah memberinya kehidupan mewah. "Pa, lihatlah mereka berdua, Pa! Tidakkah Papa kasihan pada Fero dan Feri? Mereka masih kecil jika harus ikut mati bersamaku, Pa."
Suara Leni, memaksa Pak Pandu membuka matanya. Papanya Yudhistira itu menoleh ke arah kedua anak kecil yang berdiri ketakutan di samping Leni dan laki-laki itu menghela napas berat. Ada perasaan tidak tega menyelinap di hatinya melihat kedua bocah yang tidak tahu apa-apa itu, tetapi mengetahui kebohongan yang telah dilakukan oleh Leni, membuat Pak Pandu harus tegas mengambil sikap.
__ADS_1
Laki-laki yang menurunkan garis ketampanannya kepada Yudhistira itu kemudian menatap Leni dengan tajam. "Terserah, aku sudah tidak peduli lagi dengan apapun yang akan kamu lakukan, Leni! Aku juga tidak memiliki tanggung jawab apapun pada anak yang bukan darah dagingku! Bagiku, di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi setelah aku mengetahui semua kebohonganmu! Kita pisah dan aku akan segera urus perceraian kita!"
Tanpa mempedulikan Leni dan kedua bocah laki-laki yang selama ini sangat dia sayang, Pak Pandu segera berlalu hendak keluar dari rumah itu. Namun, suara Yudhistira mengurungkan langkah laki-laki paruh baya tersebut.
"Papa mau kemana? Di sini rumah Papa. Kamar Papa sudah dibersihkan oleh bibi tadi." Yudhistira menatap sang papa dengan tatapan hangat, membuat hati Pak Pandu, mencelos.
Anak yang selalu difitnah oleh Leni dan dia abaikan karena hasutan sang istri muda, nyatanya masih begitu perhatian. Laki-laki paruh baya tersebut tidak dapat berkata-kata. Hanya netra yang berkaca-kaca, yang mewakili perasaan Pak Pandu saat ini.
Pak Pandu kemudian masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh bi Ina untuknya. Meninggalkan Leni yang menatap kepergian mantan suami, dengan tatapan kesal. Leni kemudian menatap ke arah Yudhistira yang masih berdiri di tempatnya dengan senyuman yang mengembang lebar.
Leni tertawa terbahak. Merasa sangat puas karena sudah mendapatkan banyak harta dari papanya Yudhistira. Dia sama sekali tidak bersedih, diceraikan oleh laki-laki tua yang sudah bau tanah itu.
Yudhistira tersenyum simpul. Pemuda tampan yang berdiri dengan kedua tangan disembunyikan ke dalam saku celana pendeknya itu kemudian berjalan mendekati Leni. Dia usap kepala kedua bocah kecil yang berdiri menempel pada kaki mamanya tersebut, dengan lembut.
Pemuda berambut gondrong itu lalu mengambil ponsel miliknya yang disimpan sang papa di atas meja. Dia buka layar ponsel dan kemudian menggulir layarnya untuk mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicari, dia menunjukkannya kepada Leni.
__ADS_1
Adegan mesum yang dilakukan oleh Leni dan ayah kandung Fero dan Feri di sebuah kamar hotel, berputar dengan jelas di depan mata Leni. Dalam video itu, terekam dengan jelas apa yang mereka berdua lakukan karena memang video tersebut diambil dengan sengaja sebagai kenang-kenangan. Leni mengepalkan kedua tangan melihat tayangan video mesum yang dilakukannya sendiri.
Di kepalanya saat ini penuh dengan nama Refan. Ya, pasti dia yang sudah membocorkan video mesum itu pada Yudhistira karena hanya mereka berdua yang memiliki video tersebut. Lalu, untuk apa Refan memberikan video kemesraan mereka berdua pada orang lain? Leni bertanya-tanya sendiri dalam hati.
"Kamu kembalikan semua milikku yang sudah kamu ambil atau video ini akan aku serahkan kepada pihak yang berwajib! Kamu tahu sendiri 'kan akibatnya nanti? Kamu bisa dijerat dengan hukuman tindak asusila!" ancam Yudhistira dengan suara pelan, tetapi penuh penekanan.
"Jangan sampai, kamu menyusul kekasih gelapmu ke penjara, Leni!" lanjutnya.
"Re-Refan di penjara?" tanya Leni, tergagap.
"Bandar sabu! Dia ditangkap dini hari tadi di apartemen papaku yang selama ini kalian gunakan untuk berbuat mesum!" Yudhistira menatap sinis pada Leni.
"Semua milik Refan di sita. Beruntung ponselnya tertinggal di kamar apartemen dan Tante Zahira yang dini hari tadi ikut terbangun mendengar suara keributan di apartemen yang ditempati Refan, menemukan ponsel kakak sepupunya itu. Tante Zahira membuka-buka ponsel Refan atas saran suaminya karena ingin mengetahui siapa yang telah membuat kakak sepupunya menjadi bandar sabu dan mereka menemukan foto-foto serta video mesum kalian berdua, lalu mengirimkannya padaku," terang Yudhistira, panjang lebar.
"Kamu sudah mengetahui dengan jelas dari mana aku mendapatkan bukti-bukti perselingkuhan dan kebohongan kamu selama ini, Leni! Sekarang, kamu bisa mati dengan tenang, bukan?" Yudhistira tersenyum seringai.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น